Agen Masa Depan Bukan Hanya Guru

0
194

Pada tanggal 25 November 2019 lalu, kita sempat dihebohkan dengan pidato singkat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI yang baru, Nadiem Makarim. Garis besarnya, Nadiem menyinggung tentang kontradiksi tugas dan kewajiban guru di sekolah. Menurutnya tugas guru hanya satu, yakni membentuk generasi masa depan bangsa yang berdaya saing. Namun hal itu seakan terhambat oleh padatnya kurikulum dan aturan birokrasi para pemangku jabatan.

Menanggapi hal itu, Nadiem menganggap perlu adanya perubahan tatanan sistem pendidikan di Indonesia. Ia tahu bahwa hal itu tidaklah mudah, namun jika semua guru mampu menerapkannya, maka kemajuan bangsa bisa terwujud.

Guru baginya merupakan kunci utama kemajuan bangsa Indonesia. Oleh karena itu, Ia mengajak guru menerapkan lima poin sebagai tindakan perubahan sistem tatanan pendidikan di Indonesia. Namun di sini penulis hanya akan membahas empat dari lima poin terebut.

Pertama, Nadiem mengajak para guru untuk membentuk kelas diskusi, bukan hanya mendengar. Kedua, guru dianjurkan memberikan kesempatan kepada murid untuk mengajar di kelas. Ketiga, penting adanya proyek bakti sosial yang melibatkan seluruh kelas. Keempat, guru harus dapat menemukan suatu bakat dalam diri murid yang kurang percaya diri.

Empat langkah perubahan kecil dalam pidato Nadiem merupakan suatu harapan visinoner sistem pendidikan di Indonesia. Namun perlu diketahui bahwa beberapa sekolah di Yogyakarta pada dasarnya sudah mengaplikasikannya melalui program tahunan sekolah.

Fakta tersebut penulis dapatkan saat mengajar di salah satu SMA swasta di Yogyakarta selama 6 tahun. Berdasar hal itu, bagi penulis agen penggerak perubahan sebenarnya bukan hanya guru, melainkan juga para siswa itu sendiri sebagai pemangku masa depan bangsa.

Pada poin pertama hingga keempat, siswa memang dibuat aktif, kreatif, berkontribusi, dan berdaya saing. Namun tujuan-tujuan ini tidak akan terwujud apabila siswa itu sendiri bersikap acuh tak acuh. Dalam kelas diskusi misalnya, katakanlah terdiri dari lima siswa dalam satu kelompok. Sering kita melihat hanya dua atau tiga siswa yang aktif berfikir, sedangkan sisanya ‘manut’. Selain itu, presentasi materi hasil diskusi dari minggu per minggu hanya dilakukan oleh siswa ‘itu itu saja’. Sedangkan proyek bakti sosial yang sudah menjadi program sekolah tiap tahun, tidak diikuti dengan alasan hanya akan membuat badan capek. Hal ini tentunya tidak sejalan dengan tujuan pendidikan yang dibangun. Dengan kata lain program atau pola pengajaran tersebut sangat membutuhkan partisipasi para siswa sebagai segmentasinya.

Pada poin keempat, sekiranya sudah banyak guru yang menjadi motivator. Stimulus sudah mereka berikan di kelas bahkan per individu. Namun tingkat kesadaran siswa akan potensi dan bakatnya kadang tidak mereka pedulikan. Bakat dan potensi belum mereka jadikan suatu kebutuhan. Sebagaimana pendapat Moslow, seorang pakar psikologi, bahwa aktualisasi diri juga merupakan suatu kebutuhan.

Selain sistem, Nadiem juga harus mendengarkan keluhan guru terhadap siswa ‘jaman now’. Sekarang banyak siswa ingin pintar dan sukses secara instan, kuliah di PTN berkualitas tapi tidak mau berproses. Bahkan enggan untuk berterimakasih kepada gurunya atas ilmu yang telah diajarkan.

Bagi penulis, sebenarnya pergerakan perubahan yang utama adalah perlu adanya perbaikan kesadaran sikap moral siswa. Dengan begitu niscaya poin demi poin anjuran dalam pidatonya kian terwujud. Kapal besar bernama Indonesia seperti yang digambarkan Nadiem tidak akan bergerak miring.

Hemat penulis, mungkin dalam pidato selanjutnya, Nadiem perlu membahas tentang kepedulian siswa dalam upaya membentuk karakter masa depan bangsa yang kompetitif dan sehat.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here