Belajar dari Multikulturalisme Etnis Pesisir Sumatera Utara

0
435

Oleh : Alda Marsya Ayudia
Penulis adalah Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Medan

***

Indonesia merupakan salah satu negara yang dianugerahi oleh Tuhan dengan banyak kekayaan, baik kekayaan alam maupun kekayaan budayanya.

Masyarakat Indonesia yang tersebar di setiap provinsi tersebut memiliki berbagai macam bentuk kebudayaan yang kaya dengan ciri khas maupun karakteristik yang mempengaruhi mereka dalam bertindak ataupun berkomunikasi dalam lingkungan sosial dengan orang lain. Ragam kebudayaan yang tersebar di Indonesia adalah sangat menarik karena menimbulkan sikap ataupun perilaku yang berbeda-beda pada saat berlangsungnya sebuah komunikasi dalam lingkungan sosial.

Salah satu bentuk nyata kekayaan budaya yang ada di Indonesia dimiliki oleh suku Pesisir atau Etnis Pasisi. Etnis Pesisir berpusat dan berkembang di daerah Kabupaten Tapanuli Tengah Provinsi Sumatera Utara.

Suku-suku yang berada di daerah tersebut terdiri dari beragam suku. Diantaranya suku Melayu, suku Batak Toba, suku Nias dan suku pendatang seperti suku Minangkabau, Aceh dan Cina.

Tapanuli tengah secara keseluruhan dikenal dengan semboyan “Negeri Berbilang Kaum”. Namun demikian sebagai etnik tuan rumah di kawasan ini adalah etnik Pesisir. Etnik-etnik lainnya pada awalnya adalah etnik pendatang dan kini menjadi etnik setempat, yang hidup bersama-sama dengan etnik Pesisir. Namun demikian, di antara etnik pendatang ini ada pula yang berintegrasi dan menjadi bagian dari suku Pesisir.

Pesisir atau Pasisi bermakna wilayah yang berada di tepi lautan. Penamaan ‘Etnis Pesisir’ untuk kelompok masyarakat yang mendiami pesisir Pantai barat Sumatra Utara tidak pernah dikenal hingga akhir abad ke-20. Istilah ini dikemukakan untuk membedakan kelompok masyarakat di pesisir barat Sumatra Utara dengan masyarakat Batak di pedalaman.

Daerah pesisir seperti Barus, Sorkam, dan Sibolga dari sejak dahulu menjadi tempat singgah serta pusat perdagangan di Indonesia, hal itulah yang menjadi faktor terbesar percampuran adat dan budaya di Pesisir. Pedagang-pedagang dari Padang, Aceh, Nias bahkan dari luar negeri menjadikan daerah Pesisir Tapteng sebagai pelabuhan perdagangan.

Multikulturalisme dalam Etnis Pesisir memang sangat unik. Bermacam-macam suku di Indonesia ada dalam Etnis Pesisir. Seperti yang dikatakan oleh budayawan Sibolga, Safriwal Marbun bahwa “Percampuran yang ada di daerah Pesisir ini adalah percampuran multietnis. Di sana ada suku Jawa, Nias, Aceh, Minang, Arab, dan tentunya Batak.”.

Semua masyarakat Pesisir berbaur dengan sangat baik. Misalnya orang Melayu atau Minang di Pesisir membawa marga ibunya, tapi suku Batak tetap membawa marga bapaknya. Dalam hal itu tidak ada pertentangan mana yang benar dan mana yang salah antara satu dengan yang lain, masing-masing menghargai adat dan suku aslinya.

Salah satu bentuk akulturasi budaya Suku Pesisir ialah adat istiadat Sumando. Adat  Sumando berasal dari Pulau Poncan yang diawali dengan perpindahan penduduk dari Poncan ke Sibolga dan kemudian berkembang ke seluruh daerah Tapanuli Tengah. Adat sumando adalah campuran dari Hukum Islam, Minangkabau dan adat Batak. Ini berarti bahwa semua hal-hal yang baik diterima dan dilestarikan dan yang tidak sesuai dengan tata krama dan sikap hidup sehari-hari masyarakat suku Pesisir diabaikan.

Selain adat Sumando, prosesi pernikahan masih bermacam-macam dalam masyarakat Pesisir. Misalnya pernikahan orang Batak yang beragama Islam dan sudah terpengaruh budaya Minang ada yang menggunakan prosesi Malam Bainai dan Tepung Tawar. Kemudian lamanya waktu pernikahan bisa sampai malam. Berbeda dengan Batak yang Non-Muslim, adat Batak Toba masih dijalankan dengan baik, misalnya ada yang namanya Upah-upah. Jadi adat pernikahan di masyarakat Pesisir ini juga sangat dipengaruhi oleh agama. Batak yang Non-Muslim biasanya masih kental dengan adat Batak Toba nya. Sementara Batak yang Muslim akan ikut aturan Islam dan pengaruh langsung dari orang-orang suku lain seperti Minang dan Melayu.

Multikulturalisme di Etnis Pesisir juga bisa dilihat dari segi tutur atau bahasa yang digunakan, bahasa Pesisir sudah bercampur dengan bahasa-bahasa suku yang tinggal di daerah itu. Umumnya bahasa Etnis Pesisir merupakan hasil percampuran antara bahasa Batak dengan bahasa Minang. Misalnya dalam Batak ada sebutan Pak Tua tapi didaerah Pesisir namanya Pak Tuo. Panggilan seperti Mak Ketek, Mak Tuo, Mak Tanga dipengaruhi oleh bahasa Minang.

Nilai multikulturalisme dalam Etnis Pesisir ini memang patut diacungkan jempol. Mereka dengan segala keberagamannya mampu hidup aman dan tentram tanpa ada perselisihan. Dalam hal ini, multikulturalisme yang ada di Etnis Pesisir perlu menjadi teladan bagi masyarakat Indonesia. Etnis Pesisir memiliki sikap yang baik dalam menghargai perbedaan itu. Sebab, banyaknya keberagaman jika tidak disikapi dengan baik, maka akan timbul masalah dan perpecahan.

Nilai multikulturalisme seharusnya sangat menjadi perhatian bagi seluruh elemen masyarakat Indonesia, baik dari segala kalangan muda maupun tua. Seperti yang kita ketahui bahwa Indonesia sangat rentan akan perpecahan, salah satu sumbernya ialah banyaknya perbedaan yang ada. Perbedaan akan terlihat buruk jika kita menyikapinya dengan segala kebencian. Namun, perbedaan akan tampak indah jika kita saling menghargai satu sama lain dan mampu berbaur untuk saling mencintai dan mengasihi.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here