Campur Tangan Pemerintah dalam Mengurangi Pemanasan Global Perspektif Keuangan Publik

0
205
gambar: news.mit.edu/

Oleh : Tyas Fajar Purwaningsih
Penulis adalah mahasiswa Diploma III Akuntansi AP Politeknik Keuangan Negara STAN

***

Pemanasan global (global warming) merupakan masalah yang sedang dihadapi oleh makhluk hidup di bumi. Pemanasan global yaitu suatu proses meningkatnya suhu rata-rata permukaan bumi akibat dari meningkatnya emisi gas rumah kaca, terutama karbon dioksida. Pemanasan global yang sekarang lebih dikenal sebagai perubahan iklim global adalah memanasnya iklim bumi yang kian bertambah dari tahun ke tahun.

Meningkatnya temperatur secara terus-menerus, tentunya sangat berbahaya bagi makhluk hidup. Salah satu dampak dari pemanasan global yaitu mencairnya es di kutub sehingga ketinggian air laut meningkat. Karenanya kota-kota besar di dunia akan lumpuh karena sebagian besar terletak di sepanjang garis pantai.

Pemanasan global merupakan ulah dari perbuatan manusia karena gas emisi berasal dari aktivitas yang dilakukan oleh manusia. Salah satu yang menghasilkan emisi gas karbon terbesar yaitu perusahaan-perusahaan yang melakukan kegiatan memproduksi bahan bakar fosil seperti batu bara, minyak, dan gas bumi.

Tiga bahan fosil ini sangat dibutuhkan oleh manusia untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Di rumah, di kantor, industri dan dimana pun membutuhkan batu bara untuk menjalankan pembangkit listrik, kendaraan pun butuh bahan bakar minyak untuk bisa dijalankan. Hal ini dilakukan sejak abad ke-18 sehingga gas rumah kaca semakin tebal. Jika gas emisi jumlahnya semakin meningkat di atmosfer, maka efek dari pemanasan global semakin signifikan. Hal sederhana yang dapat kita lakukan untuk mengatasi pemanasan global agar tidak bertambah parah yaitu dengan mengurangi pemakaian energi listrik, mengurangi pemakaian plastik, menggunakan kendaraan umum, dan lain sebagainya.

Aturan Pajak Karbon

Menanggapi semakin parahnya keadaan bumi, International Monetary Fund (IMF) meningkatkan nilai pajak emisi karbon untuk mengatasi perubahan iklim. Perusahaan-perusahaan yang menghasilkan karbon akan dikenakan pajak dalam jumlah tertentu atas limbah karbon yang telah dikeluarkan. Saat ini sudah lebih dari 40 negara yang telah menerapkan aturan soal pajak karbon. Namun terdapat negara yang menentang hal ini karena dengan adanya pajak ini perusahaan harus menaikan harga bahan bakar tersebut sehingga dianggap merugikan ekonomi negaranya.

Bank Sentral Inggris telah mengumumkan akan membuat bank-bank dan perusahaan asuransi menjalani tes mengenai perubahan iklim. Hal ini juga dilakukan oleh Bank Sentral Singapura yang mengambil langkah pengujian kesiapan lembaga keuangan dalam menghadapi pemanasan global. Hal ini mungkin baik untuk iklim, tetapi akan mengakibatkan kekacauan pada keuangan. Daripada kekacauan pada keuangan, bencana iklim ini lebih serius. Karena dapat menyebabkan dampak sosial, politik dan juga ekonomi yang tidak dapat diprediksi. Ketidakpastian ini menjadi faktor utama kesulitan menghitung resiko dalam sistem keuangan.

Sanksi Bagi Perusahaan Penghasil Emisi Gas Karbon

Bank Sentral Eropa (ECB) juga mengambil langkah serius untuk mengurangi pemanasan global. ECB akan lebih mengawasi bank-bank supaya tidak menyalurkan dana ke perusahaan yang menyebabkan kerusakan lingkungan sehingga dapat mengurangi resiko pemanasan global. Beberapa perusahaan besar penghasil emisi gas karbon yaitu Saudi Aramco, Gazprom, Iranian Oil Co, Exxon Mobil, Chevron dan lainnya. Diskusi dengan bank-bank pemberi pinjaman untuk kebijakan ini akan dimulai awal tahun 2021, dan kebijakan akan dilaksanakan mulai tahun 2022. Biaya operasional yang dibutuhkan untuk eksplorasi, mengolah, sampai menjadi minyak dan batu bara, perusahaan membutuhkan dana dari bank. Badan Pengawas ECB mengharapkan bank juga peduli terkait resiko yang akan menyebabkan perubahan iklim dan kerusakan terhadap lingkungan.

Selain itu, perusahaan tambang yang berada di Australia yakni BHP berencana memangkas bisnis batu bara dengan meningkatkan bisnis ekstraksi tembaga dan nikel karena penolakan terhadap semakin besarnya gas karbon di bumi. Pengawasan terhadap lingkungan ini diharapkan bukan hanya oleh Pemerintah tetapi juga dilakukan oleh sektor swasta. Dengan adanya peraturan ini, banyak pihak yang optimis bahwa peraturan ini akan berlaku juga di Amerika Serikat yang memiliki bank-bank pemberi dana untuk perusahaan bahan bakal fosil.

NASA (the National Aeronautics and Space Administration) mengumumkan bahwa bumi telah mencapai rekor suhu terpanas pada tahun 2020 lalu. Untuk menahan peningkatan temperatur bumi dan juga membuat finansial supaya tercapainya pembangunan yang bersifat rendah emisi gas rumah kaca serta tahan terhadap perubahan iklim, negara anggota PBB akan mengadakan pertemuan di Skotlandia untuk membahas Paris Agreement. Yang mana Paris Agreement merupakan perjanjian dalam United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) mengenai mitigasi emisi gas rumah kaca, adaptasi, dan keuangan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here