Cerita di Balik Pohon Beringin di Ujung Desa Kutabuluh

0
161
pohon beringin yang ada di desa Kutabuluh

Oleh : Juan Markus Perangin Angin
Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Medan

***

Cerita turun temurun mengenai sejarah maupun asal-usul suatu tempat merupakan salah satu budaya yang selalu menarik untuk ditelaah. Cerita seperti ini juga masih banyak dimiliki oleh etnis Karo. Etnis Karo terkenal dengan banyaknya kepercayaan gaib dari zaman dulu. Hal ini tidak dapat dipungkiri karena adat Karo juga tidak bisa dilepaskan dari budaya nenek moyang.

Kami akhirnya melakukan penelitian terhadap pohon beringin yang terdapat di desa Kutabuluh, Kecamatan Kutabuluh, Kabupaten Karo. Jarak desa ini kira-kira 38 KM dari Kabanjahe, ibukota kabupaten Karo, atau kira-kira 2 jam perjalanan menggunakan kendaraan umum.

Pohon beringin ini terletak di Desa Kutabuluh, tepatnya di bagian ujung utara desa. Pohon ini bentuknya lumayan besar dan sudah sangat tua. Terlihat dari akar gantung yang sudah sangat besar dan batang pohon yang sangat besar serta sudah terlihat berlumut, seperti pohon yang sudah lama pada umumnya. Pohon beringin ini tepat terletak di pinggir jalan menuju desa Laubuluh dan Kutabuluh Gugung serta desa lainnya di kecamatan Kutabuluh. Saat ingin berpergian ke desa-desa ini, maka akan melewati pohon beringin yang besar ini.

Awalnya kami mengira pohon ini tumbuh begitu saja tanpa sejarah. Rupaya saat kami mewawancarai narasumber, pohon beringin ini memiliki sejarah di balik penanamannya.

Narasumber kami merupakan dua warga desa Kutabuluh yang sudah berumur. Narasumber pertama adalah Laki A. Perangin-angin dan narasumber kedua adalah Nini Ribu atau sering dipanggil Amo oleh masyarakat desa. Di sini juga kami menambahkan beberapa pengalaman pribadi penulis yang salah satunya berasal dari desa ini.

Menurut kedua narasumber yang kami wawancarai, keduanya sama-sama mengatakan asal dari pohon beringin ini sebenarnya dari Kutambelin, Kecamatan Laubaleng. Awalnya pohon ini ditanam untuk tempat pemujaan pada masa dulu. Hal ini dibenarkan oleh Laki bahwa memang dulunya pohon ini digunakan sebagai tempat pemujaan karena pada masa dulu sekali belum ada kepercayaan atau agama seperti sekarang. Jadi, mereka masih percaya kepada hal-hal gaib dan mistis pada waktu itu.

Dikatakan nini Ribu bahwa di Kutambelin juga ada pohon beringin yang sama seperti di Kutabuluh, lalu anak beru Jambor Beringin kemudian membawa bibit atau anak pohon beringin yang kemudian di tanam juga di desa Kutabuluh. Kemudian, pohon beringin ini dibuat menjadi tempat pajohen (penyembahan).

Menurut Laki, dia sebenarnya sudah tidak tahu siapa awalnya yang membawa pohon beringin itu ke desa Kutabuluh, namun menurut nini Ribu yang membawa dan menanamnya adalah seseorang yang bernama nini Peto. Artinya leluhur dari seseorang yang bernama Peto. Kami sebenarnya tidak kenal orang yang bernama Peto. Hanya saja memang dialah orang pertama yang membawa dan menanam beringin itu disini.

Untuk umur dari pohon itu sendiri sudah tidak ada yang tahu berapa tahun, hanya saja jika dilihat dari bentuk pohon yang sudah sangat tua, bisa saja pohon itu sudah puluhan atau bahkan ratusan tahun lamanya.

Banyak cerita yang sebenarnya beredar tentang pohon beringi ini. Namun, menurut Laki, ada satu cerita yang memang dari dulu itu dipercaya sering terjadi. Cerita tersebut adalah orang tanpa tangan. Dipercaya sebelum adanya pohon beringin ini pun orang tersebut sudah ada. Itulah salah satu sebab penanaman pohon beringin ini. Menurut analisis kami, pohon ini ditanam di tempat itu untuk menyembah orang tanpa tangan tersebut.

Orang tanpa tangan ini bisanya sering menampakkan diri saat ada acara adat. Biasanya itu di rumah ataupun di jambur. Dia akan merasuki salah satu orang di acara itu dan katanya hanya akan berdiam saja tanpa berbicara. Konon katanya orang tanpa tangan itu juga bisu. Diketahui karena saat orang yang dimasuki diajak bicara, dia tidak akan menyahut dan hanya berdiam saja. Dikatakan dia sebenarnya hanya ingin menampakka diri saja tanpa berniat mengganggu atau mencelakai.

Selain orang tanpa tangan, hal lain yang menurut kami menarik adalah cerita tentang adanya kuburan di bawah pohon ini. Dari kedua narasumber ada perbedaan cerita. Menurut Laki, kemungkinan di bawah pohon itu ada kuburan. Dikatakan kuburan ini merupakan kuburan dari orang tanpa tangan ini. Berbeda dengan pendapat Laki, nini Ribu mengatakan kalau sebenarnya tidak ada kuburan di bawah pohon itu.

Sebenarnya hal ini menjadi salah satu perbedaan versi dari kedua narasumber yang kami wawancarai. Kemungkinan ada atau tidaknya kuburan disana masih menjadi pertanyaan banyak orang termasuk kami yang meneliti hal ini.

Selain cerita tentang orang tanpa tangan dan adanya kuburan di beringin ini, masih ada kepercayaan lain yang dulu pernah terjadi. Menurut pengakuan Laki, tidak sembarang orang yang bisa menebang pohon atau bahkan dahan pohon  itu. Pernah sekali, Laki ini mengambil dahan beringin itu untuk keperluan kampanye partai pada masa itu. Setelah dia mengambilnya rupanya nini Karo (orang tua Laki ini) merasakan hal aneh. Nini Karo langsung mengatakan kalau Laki ini pasti telah mengambil dahannya, dan memang benar. Akhirnya harus diletakkan rokok di bawah pohon itu.

Hingga sekarang tidak ada yang berani menebang pohon atau hanya sekadar mengambil dahannya. Sampai walaupun ada dahan yang memanjang ke kabel listrik tidak ada yang berani memotongnya dan dibiarkan begitu saja.

Selain itu, masih banyak sebenarnya cerita mistis atau aneh yang pernah terjadi dan dialami orang-orang saat melewati pohon beringin itu, terlebih-lebih pada malam hari. Hanya saja hal ini tidak terlalu disebar luas atau diumbar-umbar ke masyarakat. Karena menurut masyarakat hal ini tidak perlu dibesar-besarkan. Jika ada kejadian aneh di sekitar pohon beringin ini misalnya saja penampakan, hal ini dianggap hal yang biasa.

Seperti kata Laki, karena sekarang sudah ada agama dan orang-orang mulai tidak percaya kepada hal-hal mistis lagi, sekarang kepercayaan tentang pohon beringin sudah mulai hilang. Dikatakan juga orang tanpa tangan ini juga sudah tidak ada di beringin ini, ntah karena memang orang-orang sudah tidak percaya atau karena sekitar pohon beringin ini dirasa sudah sangat kotor. Sekarang semua orang sudah bisa masuk ke sekitar pohon beringin ini, padahal dulu masih bersih dan tidak sembarang orang yang bisa masuk.

Terlepas dari beberapa kepercayaan ini, sebenarnya jika diperhatikan lagi, pohon beringin di desa Kutabuluh ini memiliki sisi menarik untuk dilihat. Dari pohon beringin ini kita bisa melihat rumah kuta (desa) Kutabuluh dengan luas karena letak pohon yang berada di ketinggian. (07/03/2020)

Gambar: narasumber yang kami wawancara dalam mendapatkan informasi tentang beringin di desa Kutabuluh

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here