Inilah Harapan Turis Indonesia Terhadap Industri Penerbangan

0
241

Travelport – perusahaan yang melayani industri travel – dan Galileo Indonesia – distributor Travelport di Indonesia – memaparkan Global Digital Traveler Survey (GDTR) 2019. Riset yang dilaksanakan secara online lewat Toluna Research pada Agustus 2019 ini meliputi 20 negara dan menyurvei orang-orang yang telah melakukan setidaknya dua penerbangan pulang-pergi selama setahun terakhir. Total responden berjumlah 23.000 orang.

Lalu apa temuan hasil survey mereka terhadap wisatawan Indonesia?

Harga Tiket Pesawat Murah Bukan yang Utama

Survey tersebut menemukan jika wisatawan di Indonesia mencari nilai lebih ketika memesan tiket pesawat ketimbang sekadar mencari harga termurah.

Hal ini tercermin dari hampir 9 dari 10 wisatawan di Indonesia (88%) menganggap bahwa nilai tambah adalah prioritas utama dalam memilih maskapai penerbangan. Konsisten dengan temuan tersebut, hanya 6% yang melakukan pemesanan tiket berdasarkan pertimbangan biaya semata-mata. Berbeda secara signifikan dibanding persentase rata-rata global sebesar 18%. Tren ini terlihat di semua kelompok umur.

Menariknya, wisatawan di Indonesia tergolong paling rela memberikan lebih banyak informasi pribadi kepada pihak maskapai penerbangan asalkan mereka bisa mendapatkan penawaran khusus (24%, dibandingkan persentase rata-rata secara global sebesar 17%).

Mementingkan Pengalaman Digital

Wisatawan Indonesia cenderung mengutamakan pengalaman digital yang baik ketika berwisata; dibandingkan rata-rata wisatawan global.

Kemudian hampir sembilan dari sepuluh (86%) wisatawan di Indonesia menganggap pengalaman digital yang baik (seperti check-in dan mengakses informasi gate secara online) adalah hal yang penting dalam memilih maskapai – tertinggi di dunia (persentase rata-rata secara global adalah 71%).

Sebanyak 75 persen wisatawan Indonesia menganggap bahwa pengalaman augmented reality dan virtual reality akan sangat membantu merancang sebuah perjalanan wisata. Tren ini muncul di semua kelompok umur.

Gary Harford, Direktur Regional Wilayah Operator APAC Travelport, mengatakan wisatawan Indonesia tergolong yang paling mungkin untuk merasa frustrasi karena tidak bisa mengakses informasi pemesanan mereka lewat perangkat seperti smartphone atau smartwatch. Meningkat 9% pada 2018 dibanding wisatawan lainnya di dunia (67%, dibandingkan persentase rata-rata secara global sebesar 45%). Rasa frustrasi ini khususnya dirasakan oleh wisatawan Gen X (73%) dan Gen Y (67%).

Menariknya, meskipun para wisatawan tertarik menggunakan teknologi mutakhir untuk meningkatkan pengalaman pemesanan perjalanan mereka, respons terhadap survei tahun ini menunjukkan bahwa teknologi tidak selalu menjadi jawaban. Setengah wisatawan di Indonesia (52%) dan dua per lima bagian (42%) wisatawan global menganggap bahwa tidak dapat berbicara kepada sesama dapat menyebabkan mereka menjadi frustrasi, meningkat dari 38% pada 2018.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here