INSPIRASI Usaha : Modal Rp.200 Ribu, Sagon Bakar Rumahan Tembus Jerman dan Australia

0
318

TANGSEL, ANALISA INDONESIA – Bermodal Rp. 200.000, Irma Husnul Khotimah memulai usahanya menjual panganan tradisional, Sagon Bakar. Berkat keuletan dan inovasinya produknya tersebut tersebar secara nasional dan sukses masuk ke pasar Australia dan Jerman.

Tak hanya itu, sagon bakar Bu Irma kini menjadi salah satu ikon oleh oleh khas Tangerang Selatan.

Memulai Bisnis Dari Rumah

Ia memulai usahanya tersebut sejak tahun 2013 dan dimulai dari skala rumahan yang sederhana. Seperti lazimnya industri rumahan, ia menawarkan dagangannya tersebut ke saudara dan tetangganya.

Awalnya, tidak hanya sagon bakar yang dibuatnya. Ia membuat aneka kue kering lebaran.

“Nah, sagon bakar ini menjadi salah satu camilan khas lebaran. Dengan modal minim dan tidak ada karyawan, produksi juga dipastikan tidak bisa banyak. Saya memasarkannya sendiri ke tetangga dan warung-warung,” sebutnya.

Produk Harus Inovatif

Agar berbeda dengan sagon lainnya yang selama ini dikenal, Irma berinovasi dengan produknya tersebut.

“Jika sagon yang dikenal di masa lalu, umumnya pakai bahan kelapa gongseng, kami inovasi dengan kelapa muda sehingga lebih lembut,” sebutnya seperti dilansir Elshinta.

Selain itu, seiring dengan semakin berkembangnya produk yang dibuatnya, Bu Irma terus berinovasi salah satunya dengan membuat produk sugar free.

“Targetnya, saya ingin membuat camilan sehat. Oleh sebab itu, saya buat yang sugar free sehingga aman buat penderita diabetes. Produk lainnya, saya mengembangkan produk lain berbahan tepung singkong, Sultana Kismis. Ukuran sagon bakarnya juga beragam, dari saset kecil-besar, boks kecil-besar sampai curah per 1 kg dengan harga mulai Rp3.000 sampai Rp120 ribu.”

Pentingnya Legalitas dan Packing

Agar bisnisnya tersebut bisa menjangkau pasar yang lebih besar, Irma pun mengikuti berbagai pelatihan dan mengurus legalitas dengan pembinaan pemerintah daerah.

Ijin-ijin dasar seperti P-IRT, halal, sampai HKI pun diurusnya. Termasuk juga packing ikut dibenahinya. Ia menjadi Binaan Program Pengembangan Produk Unggulan Daerah (PPUD) LP2M ITI, Serpong.

Kini produknya semakin beragam dan kapasitas produksi meningkat. Dirinya mampu memproduksi hingga 100 kaleng atau menghabiskan bahan baku sagu 15 kg per hari. Varian produknya juga beragam, dari original, moka, green tea, sampai sugar free.

Di dalam negeri, kini produknya bisa ditemukan di beberapa ritel modern, restoran dan kafe, hotel, dan minimarket bandara. Selebihnya, bisa didapatkan pula secara online melalui marketplace.

Atas prestasi dan konsistensinya di dunia bisnis, Irma pun mendapatkan sejumlah penghargaan, baik di tingkat provinsi maupun nasional. Penghargaan yang diraihnya antara lain juara 1 nasional kategori camilan dari Kementerian Perdagangan RI dan Ibu Cerdas Indonesia (ICI) dari Kementerian Sosial RI.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here