Jaringan Nasional Duta Joko Widodo Sampaikan Tanggapan Soal UU Ciptaker

0
120

*Terkait kesalahan penulisan pada UU Ciptaker yang telah ditandatangani Presiden

JAKARTA, ANALISA INDONESIA – Jaringan Nasional Duta Joko Widodo yang merupakan organ relawan yang terdiri dari berbagai elemen masyarakat sipil dan sudah menjadi bagian pemenangan Presiden Joko Widodo sejak 2014 menyampaikan pandangannya mengenai UU Ciptaker.

Melalui rilis yang diterima Analisa.id pada Rabu, 4/11/2020 Duta Joko Widodo mengungkapkan bahwa UU Ciptaker sejatinya merupakan manifestasi dari semangat keberpihakan Presiden pada penciptaan lapangan kerja bagi jutaan generasi muda.

“Harus diakui bahwa niat baik Presiden ini telah menjadi polemik karena lemahnya komunikasi publik yang dilakukan dalam sosialisasi,” ungkap Sekjen Jaringan Nasional Duta Joko Widodo, Sofia, SH.

Terkait kesalahan penulisan, Duta Joko Widodo memandang bahwa kesalahan penulisan ini bukanlah sekadar hal teknis karena terjadi pada “jantung” institusi negara. Padahal sejatinya seluruh kerja-kerja di “jantung” harus dilakukan dengan prinsip-prinsip kehati-hatian, kecermatan dan tepat.

“Harus zero tolerance dan zero mistake. Apalagi untuk produk hukum yang sedang menjadi sorotan dan perdebatan di publik, seperti UU Ciptaker,” ungkapnya dalam rilis.

Menurutnya, dalam situasi ini komitmen Presiden harus diperkuat dengan sikap dan kerja profesional yang cermat, bukan justru malah diperlemah dengan kesalahan yang tidak perlu.

“Permintaan maaf tidak cukup. Para pejabat terkait dan para pemeriksa harus bertanggung jawab kepada publik. Mengundurkan diri adalah cara paling tepat untuk itu,” imbuh Duta Joko Widodo.

Kesalahan Penulisan UU Ciptaker

Dalam catatan Duta Joko Widodo, setidaknya ada 2 kesalahan penulisan yang terjadi, pasal 6 di halaman 6 dan pasal 53 ayat 5 halaman 757. Kesalahan tulis ini telah membuat isi kedua pasal tersebut menjadi ambigu secara substansi dan menimbulkan prasangka dan kegaduhan baru.

Kesalahan penulisan ada di pasal 6 di bagian tersebut menyebutkan, “Peningkatan ekosistem investasi dan kegiatan berusaha sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat 1 huruf a meliputi, “ada empat huruf, a sampai d, yang menjabarkan apa saja peningkatan ekosistem”.

Yang menjadi permasalahan, ternyata dalam Pasal 5 yang dirujuk oleh Pasal 6 tidak memiliki ayat tambahan apapun. Tidak ada ayat 1 huruf a seperti yang dirujuk pada Pasal 6.

Kesalahan kedua, terdapat pada Pasal 53 Bab XI mengenai Pelaksanaan Administrasi Pemerintahan untuk Mendukung Cipta Kerja, bagian kelima tentang izin, standar, dispensasi, dan konsesi, yang ada di halaman 757. “Ayat 5 pasal itu harusnya merujuk ayat (4), tapi ditulisnya ayat (3),”.

Saat ini tim hukum Duta Joko Widodo yang terdiri dari berbagai praktisi masih terus mempelajari secara intens isi UU yang baru saja ditandatangani oleh Presiden. (rls)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here