Kaum Millenial: Pendidikan Karakter Melalui Cerita Legenda Sungai Kuruk Keramat Datuk Siddik

0
359

Oleh : Lili Sartika
Penulis adalah mahasiswa aktif program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Medan. Juga aktif pada Persma Kreatif Universitas Negeri Medan.

***

Sastra lisan memiliki ruang tersendiri dalam bidang pendidikan, salah satunya adalah pendidikan karakter. Pendidikan karakter sangat dibutuhkan saat ini, mengingat bahwa  dekadensi moral rentan terjadi pada diri generasi milenial yang hidup era disrupsi digital. salah satu faktor yang mempengaruhi terjadinya dekadensi moral pada generasi milenial adalah sekolah dan wawasan. Jika di dalam sekolah dan wawasan mengajak siswanya untuk fokus mengimplementasi dan menginterpretasi sastra lisan, pastilah representasi nilai-nilai yang terkandung dalam sastra lisan dapat melekat pada diri siswa tersebut, terlepas dari sedikit dan banyaknya nilai yang dikonsumsi. Tentu, gagasan yang dikemukakan berlandaskan pada teori yang sudah diteliti oleh ahli sebelumnya. Selain itu, faktor kemajuan teknologi juga menjadi penyebab dari dekadensi moral pada generasi milenial. Tentu saja kemajuan teknologi mengakibatkan sastra lisan memudar, sehingga memudar pula nilai-nilai yang terkandung di dalam sastra lisan tersebut.

Menurut A Teew, sastra lisan adalah kesusastraan yang mencakup ekspresi kesusastraan warga dalam suatu kebudayaan yang disebarkan dan diturun-temurunkan sastra lisan atau dari mulut ke mulut. Sebagai bagian dari kebudayaan, sastra lisan tidak terlepas dari pengaruh nilai-nilai hidup dan berkembang pada masyarakat. Dalam hal ini bagi A Teeew sastra lisan tidak ada kemurnian (Astika dan Yasa, 2014: 2).

Pembelajaran sastra lisan selama ini belum teraplikasikan dengan baik, terutama perihal sastra lisan yang mampu menarik perhatian generasi millenial. Bahwa sastra lisan memiliki peran penting dalam membentuk karakter seorang siswa melalui nilai filosofi dan fungsi yang terkandung di dalam sastra lisan tersebut. Tentu sastra lisan memiliki fungsi yang signifikan dalam hal pendidikan karakter. Menurut Suwardi, fungsi dari dari sastra lisan secara garis besar dapat diklasifikan menjadi 4 yaitu: (1) Didaktif, kebudayaan karya sastra lisan mengandung nilai-nilai luhur yang berkaitan dengan adat istiadat ataupun agama tertentu, (2) Sebagai pelipur lara, sastra lisan sebagai alat pendidik masyarakat juga digunakan sebagai penghibur masyarakat, (3) Sebagai bentuk protes sosial yang berisikan penolakan-penolakan masyarakat atas aturan-atura yang mengikat mereka, dan (4) Sastra lisan sebagai sindiran, seringkali kita temui dalam bentuk pantun, lagu rakyat dan sebagainya.

Melalui empat fungsi diatas, jelaslah tergambar bahwa sastra lisan mampu memberi nilai-nilai yang bertujuan untuk mendidik masyarakat terhadap aturan-aturan yang terdapat dalam kehidupan sosial dan budaya. Jelas hal ini sejalan dengan pendapat Sulistyowati yang mengatakan bahwa pendidikan karakter merupakan pendidikan yang mengembangkan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa pada diri seseorang, sehingga ia mampu memiliki dan menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupannya sebagai anggota masyarakat dan warga negara yang relegius, produktif, dan kreatif (Lizawati, 2016: 181).

Sastra lisan pada saat ini masih hidup di tengah masyarakat, namun eksistensi sastra lisan semakin mengkhawatirkan. hal ini menunjukkan bahwa secara lisan telah ditinggalkan oleh masyarakat dan citra film-film, fenomena budaya pop, cerita yang berkembang dan sebagainya. Sehingga hal ini bisa berdampak terhadap eksistensi dan pelestarian nilai-nilai lokal. Maka dari itu, artikel ini bertujuan untuk menyadarkan kita bahwa sastra lisan perlu dilestarikan karena di dalam sastra lisan terdapat representasi nilai-nilai pendidikan karakter, oleh karenanya  sastra lisan dalam perspektif pendidikan karakter memiliki urgensi dalam hal dekadansi moral milenial saat ini.

 Dalam membahas nilai-nilai yang terkandung dalam sastra lisan, maka nilai-nilai tersebut akan saya jabarkan, mengingat telah dimuatnya artikel yang ditulis teman sekolompok penelitian saya, melalui analisa.id dengan judul “Legenda Sungai Kuruk Keramat Datuk Siddik”  Di Pantai Labu Lubuk Pakam Sumatera Utara. Cerita tersebut mengandung nilai-nilai Luhur yang ada di dalam masyarakat, yang dapat dijadikan sebagai pembelajaran bagi pembacanya.

Melalui karakter tokoh si Adik dan Datuk Keramat Siddik, kita dapat memperoleh nilai-nilai Luhur tersebut. Berdasarkan kajian teori Kemendiknas (Lizawati, 2016: 182-183) tentang butir nilai-nilai luhur sebagai pondasi karakter bangsa, saya menaganalisis butir nilai-nilai Luhur yang terkandung di dalam cerita “Legenda Sungai Kuruk Keramat Datuk Siddik” yaitu:

a. Nilai Pendidikan Karakter Religius

Religius merupakan sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleransi terhadap pelaksanaan ibadah lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain. Hal ini dapat dilihat melalui kutipan berikut ini:

Sang adik terkenal dengan keserakahannya sedangkan sang abang orang dermawan. Sang abang ingin membangun  dan membuka hutan tersebut. Dihutan itu terdapat pohon rambung, sang abang berkata bahwasanya siapa pun atau saudara-saudaranya  ingin membangun rumah ambillah kayu dari pohon-pohon tersebut. Namun si Adik membantah jika pohon itu tidak digratiskan dan harus dibeli oleh siapapun yang ingin menggunakannya.

Dari kutipan di atas, dapat diartikan bahwa Datuk Keramat Siddik mengajarkan adiknya agar tidak serakah, sebab sikap serakah dilarang oleh agama. Meskipun demikian, sang adik tetap saja tidak mendengarkan abangnya, sehingga adiknya pun celaka karena keserakahannya. Maka dalam hal ini, kita diajarkan untuk tetap bersikap baik sebagaimana ajaran dari agama.

b. Nilai Pendidikan Karakter Jujur

Jujur dalam kamus bahasa Indonesia dimaknai dengan lurus hati, tidak curang, adanya kesamaan antara kenyataan dengan ucapan atau apa adanya. Jujur merupakan perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang akan selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan. Hal ini dapat dilihat melalui kutipan berikut:

Dan suatu malam sang abang memberitahu kepada seluruh warga untuk tidak keluar pada malam hari itu. Karena sungai tersebut ingin dikorek. Dan timbul pertanyaan warga, siapa yang mengorek sungai itu? Dan si Abang berkata sudah kalian tidak perlu tahu. Malam itu semua warga menutup pintu masing-masing. Namun ada warga yang jahil malam itu mengintip dengan menggunakan obor, dan warga tersebut berkata  sungai yang begitu panjang selesai dalam waktu 1 jam dan yang mengerjakannya rakyat sang keramat, keramat tersebut sang abang dari 2 bersaudara tadi, bisa dikatakan jin yang mengerjakannya.”

Dari kutipan di atas, dapat diartikan bahwa warga tersebut tidak melaksanakan arahan dari Datuk Keramat Siddik. Meski pintu rumahnya tertutup dengan rapat, namun ia masih mengintip menggunakan obor. sehingga warga tersebut harus melihat apa yang tidak seharusnya ia lihat. Dalam hal ini, kita diajarkan untuk tidak curang, artinya kita harus bersikap apa adanya atau sering disebut dengan jujur.

c. Nilai Pendidikan Karakter Toleransi

Toleransi adalah sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, etnis, pendapat, sikap, dan tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya. Hal ini dapat dilihat melalui kutipan berikut:

Sang abang ingin membangun  dan membuka hutan tersebut. Dihutan itu terdapat pohon rambung, sang abang berkata bahwasanya siapa pun atau saudara-saudaranya  ingin membangun rumah ambillah kayu dari pohon-pohon tersebut. Namun si Adik membantah jika pohon itu tidak digratiskan dan harus dibeli oleh siapapun yang ingin menggunakannya. Si Adik menjabat sebagai kepala desa dan merasa sebagai orang yang berkuasa.  Namun sang abang marah akan perilaku sang adik, sang abang yang dermawan bermaksud biarlah saudara yang membutuhkan mengambilnya untuk membuat gubuk kecil.

Dari kutipan di atas, dapat diartikan bahwa sang adik tidak menghargai pendapat abangnya, dengan cara membantah niat baik dari abang. Sehingga sang adik tidak memiliki sikap toleransi tentang tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya. Dalam hal ini mengajarkan kita bentuk tetap menghargai perbedaan yang ada, sehingga tidak terjadi pertengkaran, terlebih tindakan yang ditentang adalah niat baik yang sebenarnya tidak boleh diacuhkan.

d. Nilai Pendidikan Karakter Peduli Sosial

Peduli sosial adalah sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan pada orang lain dan masyarakat yang membutuhkan. Hal ini dapat dilihat melalui kutipan berikut:

Sang abang ingin membangun  dan membuka hutan tersebut. Dihutan itu terdapat pohon rambung, sang abang berkata bahwasanya siapa pun atau saudara-saudaranya  ingin membangun rumah ambillah kayu dari pohon-pohon tersebut.

Dari kutipan di atas, dapat diartikan bahwa Datuk Keramat Siddik memiliki peduli sosial yang tinggi. Sehingga sia berniat untuk menggratiskan kayu dari pohon-pohon yang ada di hutan kepada warga yang ingin membangun rumah. Dalam hal ini, mengajarkan kita bahwa tetaplah membantu sesama, karena peduli sosial tidak memandang siapapun.

e. Nilai Pendidikan Karakter Tanggung Jawab

Sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya yang seharusnya dia lakukan, terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial, dan budaya), negara dan Tuhan Yang Maha Esa. Hal ini dapat dilihat melalui kutipan berikut:

Sang abang ingin membangun  dan membuka hutan tersebut. Dihutan itu terdapat pohon rambung, sang abang berkata bahwasanya siapa pun atau saudara-saudaranya  ingin membangun rumah ambillah kayu dari pohon-pohon tersebut. Namun si Adik membantah jika pohon itu tidak digratiskan dan harus dibeli oleh siapapun yang ingin menggunakannya. Si Adik menjabat sebagai kepala desa dan merasa sebagai orang yang berkuasa.  Namun sang abang marah akan perilaku sang adik, sang abang yang dermawan bermaksud biarlah saudara yang membutuhkan mengambilnya untuk membuat gubuk kecil. Dalam pertengkaran keduanya, sang abang pergi dari kampung dan sebelum pergi sang abang mengikat kepala parang dan batu sebagai sumpah dengan melemparkan kepala parang dan batu ke sumur dan berkata  kalau kepala parang dan batu ini timbul barulah jaya kampung sungai kuruk ini. Sampai sekarang belum timbul, dan desa tersebut seperti desa mati, kalau kita masuk tidak ada bangunan yang mewah. Setelah itu sang abang pergi dan menghilang. Suatu saat dia datang dengan megggunakan kendaraannya yaitu harimau bahkan selalu mengelilingi desa tersebut tanpa warga tau dan hanya orang tertentu yang mengetahuinya. Sang Datuk datang untuk melihat perkembangan desa tersebut.

Dari kutipan di atas, dapat diartikan bahwa  sang abang telah melakukan tanggung jawabnya sebagai abang, menasihati sang adik agar menjadi pemimpin yang baik untuk desa. Akan tetapi sang adik tidak melakukan tanggung jawabnya sebagai pemimpin desa, dengan keserakahannya ia menjual kayu yang ada di hutan bagi warga desanya ingin membangun rumah. Sehingga hal ini membuat abangnya murka, dan mengutuk desa tersebut, karena adiknya yang tidak bertanggung jawab, seluruh warga desa pun kena imbasnya. Dalam hal ini mengajarkan kita agar tetap bertanggung jawab dengan amanah kita, karena kemajuan orang-orang yang kita pimpin berawal dari bagaimana cara kita bertanggung jawab sebagai seorang pemimpin.

Adapun solusi dalam mengatasi permasalahan ini adalah dari faktor penyebab terjadinya dekadensi moral pada generasi milenial. Diantaranya ada 2 yang telah saya bahas sebelumnya, yaitu sekolah dan wawasan serta kemajuan teknologi. Maka dari itu, perihal sekolah dan wawasan, pendidik dituntut untuk menginterpretasi dan mengimplementasi nilai sastra kepada siswanya, agar nilai-nilai tersebut dapat melekat ada diri siswa, sehingga peran penting sastra lisan dalam pendidikan karakter terwujud. Selain itu, kemajuan teknologi yang mengakibatkan dekadensi karakter pada generasi milenial dapat diatasi melalui pengemasan sastra lisan secara teknologi pula. Information and Communication Technologies (ICT) berperan sebagai media pengemasan sastra lisan yang dimaksud, sebab ICT merupakan payung besar terminologi yang mencakup seluruh peralatan teknis untuk memproses dan menyampaikan informasi, jika sastra lisan dikemas melalui media teknologi, maka generasi milenial dapat mengakses sastra lisan tersebut melalui gadget yang dimilikinya, sehingga nilai-nilai Luhur yang terkandung di dalam sastra lisan dapat tersampaikan.

Penulis bersama narasumber Nenek Nurmaya dan Kakek Syamsul

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here