Kualifikasi Dan Peluang Diterima Bekerja

0
363

Ada beberapa sumber tenaga kerja atau pencari kerja; pertama mereka yang memang telah selesai lulus dari sekolah atau pendidikan formalnya, kedua; mereka yang tidak mengenyam pendidikan formal akan tetapi siap untuk bekerja, yang ketiga mereka yang masih duduk di bangku pendidikan akan tetapi ingin nyambi bekerja disela-sela waktu sekolah atau kuliah.

Pencari kerja (job seeker) yang telah lulus dari pendidikan formalnya kebanyakan tertuju pada pekerjaan yang sesuai dengan disiplin atau bidang pendidikan yang telah ditempuhnya. Misalnya mahasiswa lulusan farmasi cenderung ingin bekerja di bidang farmasi. Akan tetapi tidak sedikit juga yang keluar dari bidang keilmuan yang dimiliki. Misalnya tenaga kerja lulusan IT yang mencoba peruntungan dengan membuka warung makan dan seterusnya.

Kelompok pencari kerja yang kedua adalah mereka yang tidak mengenyam pendidikan formal akan tetapi siap bekerja. Distribusi tenaga kerja kelompok kedua ini sering mendominasi sektor non formal dan pekerja kelas bawah. Ada diantara mereka yang mendulang kesusksesan yang diperoleh dari ketekunan merintis usaha sendiri dan akhirnya memeiliki perusahaan, akan tetapi lebih banyak lagi yang tetap terjebak dalam situasi yang serba kekurangan yang disebabkan upah dari pekerjaan yang ditekuni tidak mencukupi untuk meningkatkan kesejahteraan pekerja tersebut.

Kelompok yang ketiga; adalah pekerja yang mencari pekerjaan yang masih sedang menempuh pendidikan formal. Mereka ini memiliki motivasi mencari pekerjaan yang beragam. Mulai dari hanya mencari pengalaman selama masih kuliah sampai bekerja karena memang harus memenuhi kebutuhan biaya pendidikan atau biaya kehidupan sehari-harinya.

Banyak pekerja yang kesulitan mencari kerja, hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain:

  1. Para pekerja cenderung memiliki ekpektasi jenis pekerjaan tertentu, akan tetapi kebutuhan tenaga di daerah atau tempat mencari lowongan tersebut terbatas, misalnya seorang sarjana lulusan arsitek yang mencari kerja sebagai arsitektur di perusahaan pengembang bangunan, akan tetapi di daerah tersebut perusahaan pengembang masih sangat sedikit dan cenderung perusahaan tersebut tidak menggunakan jasa arsitektur dalam proses pembangunan. Hal ini bisa dikategorikan bahwa supply atau ketersediaan tenaga kerja di wiliayah tersebut lebih besar dari demand atau permintaan tenaga, sehingga sulit memperoleh pekerjaan.
  2. Para pekerja cenderung menginginkan penghasilan yang tinggi, padahal perusahaan akan sangat keberatan memberi gaji yang tinggi terutama para pekerja yang masih freshgraduate atau pekerja yang belum memiliki pengalaman.
  3. Pilihan pekerjaan yang tidak bervariasi karena kurangnya variasi kemampuan dan kemamuan belajar yang rendah. Calon pekerja semestinya telah menyiapkan banyak “amunisi” selama masih menempuh pendidikan formal, misalnya selama kuliah jurusan psikologi si calon pekerja atau mahasiswa ini kursus bahasa asing, sehingga saat lulus nanti tidak hanya terpaku pada lowongan tanaga psikologi akan tetapi juga bisa bekerja di tempat kurusus sebagai tenaga pengajar. Inilah yang dimaksud dengan advatage value atau nilai lebih dari seseorang yang dapat menjadikan dirinya survive pasca pendidikan usai.
  4. Minimnya jejaring atau kenalan, seringkali pekerjaan datang dari rekomendasi atau informasi teman. Prinsipnya bahwa rejeki selalu melalui perantara datangnya dan perantara rejeki kebanyakan dari manusia, oleh sebab itu berteman dengan banyak orang akan menguntungkan karir yang diinginkan. Pertemanan ini akan sangat efektif diperoleh jika seseorang mau terlibat dan mengikuti berbagai macam organisasi di lingkungan sosial maupun di tempat menempuh pendidikan.

Ada salah satu faktor yang sering terlupakan seorang pencari kerja yaitu berdoa, kelihatannya sederhana, berdoa adalah cara menambatkan upaya yang tak kelihatan ujungnya, sehingga seseorang tetap optimis dalam menjelajahi rimba lapangan kerja. Doa juga dapat menjadi penyambung antara upaya materil dan kepasrahan terhadap ketentuan Tuhan sehingga seseorang tidak selalu memandang sebuah urusan dari sisi upaya materil akan tetapi juga harus diwarnai dengan upaya spiritualitas.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here