Mahar dan Modernisasi Pernikahan di Pulau Nias

0
1223

Oleh : Herni Serli Yanti Lase
Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Medan

***

Nias atau biasa disebut masyarakat setempat dengan sebutan Tano Niha. Pulau Nias terletak di barat Pulau Sumatera, pulau yang penuh keindahan alam dan memiliki daya tarik adat istiadat yang masih tetap dipertahankan.

Nias mempunyai berbagai budaya dan aturan yang masih kental dan masih dipercayai oleh masyarakat setempat, mulai dari kelahiran, pernikahan, hingga kematian. Tentu yang paling menarik perhatian mengenai pernikahan adat Nias.

Lalu, bagaimana adat pernikahan pada masa lampau dan perubahan serta perkembangannya pada zaman sekarang?

Dalam  adat pernikahan Nias berbagai tahapan  akan dilalui baik oleh mempelai laki-kaki dan pihak perempuan sesuai dengan kebiasaan yang sering dilaksanakan setiap daerah yang ada di pulau Nias.

Saat ini kita berada di zaman yang moden, seiring dengan kemodernan tersebut masyarakat Nias juga turut serta di dalamnya terutama bagi mereka yang akan melangsungkan pernikahan. Ada beberapa perubahan yang terus terjadi dalam sistem adat pernikahan yang berlangsung tapi tidak menghilangkan kekhasan budaya Nias itu sendiri atau dengan kata lain tetap mempertahankan kesakralan pernikahan tersebut sesuai dengan budaya Nias.

Adapun moderniasi yang dapat kita rasakan dalam pelaksanaan pernikahan di tanah Nias khususnya daerah Gunungsitoli Selatan dan kita amati berdasarkan tuntutan zaman antara lain:

1.Sebelum pesta adat biasanya ada yang namanya pertunangan dan sekarang banyak yang melakanakan tunangan tukar cincin langsung didepan  umum. Di zaman dulu tidak ada yang namanya tukar cincin di depan umum, melainkan cincin perempuan yang telah diberikan oleh pihak laki-laki kepada pihak perempuan akan disimpan dulu di dalam kamar baru setelah itu diberitahukan kepada keluarga perempuan  yang telah datang di acara pertunangan.

2. Penggunaan alat-alat musik yang tidak hanya berfokus pada alat musik tradisional tetapi ada juga kolaborasi dengan alat musik modern.

3. Pemahaman masyarakat semakin lebih modern tentang acara pernikahan yang tidak perlu lama  sehingga waktunya dapat diminimalisir sesuai dengan kebutuhan.

4.Kemajuan transportasi juga ikut berperan dalam hal ini pada zaman dahulu berjalan kaki menjadi alternatif tetapi sekarang transportasi telah tersedia.

5.Adanya sesi Prewedding yang menunjukkan kemodernan.

6.Acara pesta tidak hanya dilaksanakan di rumah saja tetapi bisa dilaksanakan di gedung.

7.Perkembangan dalam hal busana kini sudah maju berbagai model pakaian modern banyak ditemukan.

8.Penerapan nilai estetika dalam hal dekorasi panggung, pelaminan sudah mulai modern.

Modernisasi yang dijelaskan di atas masih sebagian daerah yang melaksanakannya. Dan perlu diketahui tuntutan zaman bisa diikuti asalkan tidak menghilangkan nilai budaya dan sastra etnis yang terdapat di dalamnya, adat istiadat dan kebudayaan harus tetap dilestarikan.

Berbicara soal pernikahan adat Nias yang lebih mencolok di sini dan sering menjadi topik pembicaraan mengenai “Böwö” yang merupakan sebutan mahar adat pernikan di Nias.

Menurut Postinus Gulo dalam tulisannya yang berjudul “Sistem Adat Pernikahan Nias: Salah Satu Penyebab Kemiskinan Masyarakat Nias?, Böwö secara etimologi adalah hadiah, pemberian yang cuma-cuma dan arti sejati dari böwö itu mengandung dimensi aktualisasi kasih sayang orang tua kepada anaknya.

Böwö pernikahan adat Nias yang dikatakan besar ini memunculkan berbagai komentar dan pendapat dari masyarakat Nias bahkan yang di luar Nias ikut berpartisipasi, lalu apa saja pro dan kontra yang dilontarkan?

Membahas mengenai pro, ada yang mengatakan mahar gadis Nias yang besar dikarenakan itu pertanda bahwa betapa berharganya derajat wanita dan agar wanita di Nias tidak dipandang sebelah mata. Ada yang berpendapat bahwa sepantasnya saja mahar gadis Nias besar dikarenakan banyak persiapan dan acara yang akan dilaksanakan. Ada juga yang mengatakan  itu merupakan adat yang harus dilestarikan yang merupakan identitas nias yang tidak bisa dihilangkan. Begitulah komentar pro yang sering diungkapkan.

Ada juga beberapa pendapat kontra yang mengatakan mahar gadis Nias begitu besar sehingga menyebabkan kemiskinan, membuat orang Nias tidak nikah-nikah dikarenakan tidak sanggup memenuhi mahar yang telah ditentukan,  membuat orang yang bersuku Nias yang sedang berada di luar Pulau Nias lebih memilih menggunakan adat pernikahan pasangannya dari pada menggunakan adat Nias.

Kita sudah berada di zaman modern tetapi apakah cara pandang, dan pola pikir kita juga ikut modern? Jika sudah modern mengapa pemikiran dan ansumsi mengenai böwö Nias yang terlalu mahal selalu diperdebatkan?. Hingga lebih berkesan bahwa masyarakat Nias selalu membicarakan mengenai uang, jabatan dan kedudukan. Padahal sebenarnya tidak begitu adanya, adat Nias menjunjung tinggi nilai dan norma yang berlaku, adanya rasa tolong menolong, saling berbagi, saling menghargai satu sama lain.

Besar tidaknya sebuah mahar itu tergantung dari pola pikir masing-masing, adapun yang berasumsi tergantung pendidikan, status dan kedudukan. Kita ambil saja contoh mahar dalam hal materi/uang, ada yang berasumsi Rp.100.000.000,00 mahar yang diberikan oleh pihak laki-laki yang berstatus berkecukupan dalam hal materi bagi mereka tidak menjadi masalah dan itu sudah sewajarnya dikarenakan pengeluaran banyak dan acara yang dilaksanakan juga berhari-hari. Lalu jika mahar dengan jumlah Rp.50.000.000.00 diberikan kepada keluarga yang pas-pasan pasti begitu berat dan menjadi beban. Tetapi jika semuanya sesuai kesepakatan dan kebutuhan pasti akan berjalan dengan baik dan tidak ada istilah mahar yang terlalu besar.

Sebenarnya böwö pernikahan adat Nias ini dinamis tergantung dari kebutuhan dan kesepakatan dari keluarga, tidak ada paksaan hanya saja banyak yang menyatakan dan berasumsi mahar harus besar, malu dengan tetangga, malu dengan keluarga, nanti kebutuhan tidak tercukupi, anak saya berpendidikan tinggi, itu menjadi pendorong sehingga mahar yang diminta semakin besar.

Perekonomian masyarakat Nias lebih berfokus pada bertani, nelayan, menyadap karet karena tanah yang subur dan kekayaan laut yang lestari walaupun ada juga yang bekerja sebagai PNS, wiraswasta atau pekerja lainnya. Akan tetapi hal itu belum tentu menjamin pendapatan masyarakat di Nias yang dapat mencukupi kebutuhan sehari-hari mereka karena sama seperti masalah ekonomi di daerah lain yang terkadang apa yang didapat hari ini belum tentu sama dengan hari esok dan seterusnya. Sehigga masyarakat yang memiliki pendapatan rendah untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari saja belum tentu cukup apalagi jika melangsungkan pernikahan dengan böwö yang mahal.

Upaya yang dapat kita lakukan agar böwö pernikahan adat Nias dikatakan normal sesuai dengan yang kita harapkan bersama tanpa menghilangkan adat istiadat yang terkandung didalamnya agar tidak membutuhkan dana yang terlalu besar yaitu:

  1. Adanya kesepakatan dari kedua belah pihak.
  2. Jika pada saat pesta tamu yang diundang terlalu banyak membutuhkan surat  undangan yang banyak juga, sebaiknya kita meminimalisir pencetakan surat undangan dengan cara datang langsung mengundang tanpa memberikan surat undangan.
  3. Dalam hal dekorasi sebaiknya sederhana saja jangan terlalu mewah sesuai dengan kebutuhan.
  4. Perlengkapan pengantin pada acara disesuaikan dengan kondisi terutama dalam hal busana, perhiasan dan pernak-pernik yang lainnya.
  5. Saling membantu meringankan beban satu sama lain.
  6. Saling menerima dan mengerti kondisi tanpa menuntut lebih.

Hal ini bisa dipertimbangkan agar dapat meringankan pengeluaran, tetapi pihak yang harus Lafosumange (dihargai, dihormati, dijunjung tinggi) harus saling mengerti semua pihak mempunyai hak dan kewajibanya masing-masing pengeluaran untuk itu disesuaikan sesuai dengan kesepakatan bersama.

Selain itu adapun upaya yang harus kita lakukan agar pola pikir mengenai böwö dan adat pernikan Nias ini semakin maju sesuai dengan kondisi masyarakat Nias dan sesuai perkembangan zaman yaitu:

  1. Dimulai dari diri sendiri untuk mengubah pola pikir mengenai böwö yang terlalu mahal.
  2. Dimulai dari keluarga, siapapun kita dengan status sosial yang bagaimanapun, kita harus bisa berpikir kritis mengenai böwö nias. Satu persatu keluarga yang memberikan böwö dengan normal dan sesuai keadaan maka satu persatu masyarakat akan mengikutinya, karena akan semakin nampak dampak positifnya.
  3. Sebagai generasi muda, kita yang harus lebih berperan aktif dalam mengembangkan dan melestarikann adat dan budaya Nias.
  4. Kita harus memberikan pemahaman kepada orangtua kita, apa dampak positif negatif böwö yang mahal bagi kehidupan.
  5. Pendapat kita pasti tidak bisa diterima begitu saja oleh orangtua, apalagi Tokoh Adat tetapi apa salahnya kita berdiskusi dan saling membuka pikiran masing-masing mengenai adat Nias dengan kemajuan  zaman sekarang.
  6. Melakukan diskusi dengan tokoh adat Nias atau penggerak budaya Nias, sehingga kita bisa mendapat ilmu tentang bagaimana sistem böwö yang seharusnya dan apa yang bisa kita lakukan untuk meminimalisir keadaan böwö yang sering dikatakan mahal.
  7. Memanfaatkan teknologi untuk menjadi wadah penyaluran pendapat mengenai böwö dan adat istiadat di Nias.
  8. Mempraktekan secara langsung mengenai adat Nias dengan böwö yang normal sesuai dengan kebutuhan.
  9. Saling bekerja sama dan menerima pendapat dari orang lain.
  10. Hilangkan rasa gengsi yang terlalu berlebihan.
  11. Mengembangkan dan mempertahankan adat Nias dengan menghubungkannya dalam sastra contohnya membuat puisi mengenai adat pernikahan Nias dan mengenai böwö.
  12. Menciptakan lagu mengenai adat dan budaya Nias.
  13. Membuat film, opera atau drama mengenai adat pernikahan Nias dengan memasukkan makna dari böwö.
  14. Harus adanya kerjasama antar masyarakat bagaimana baiknya ketentuan mahar yang sesuai dengan kondisi dan situasi.

Semoga artikel ini bermanfaat bagi pembaca khususnya masyarakat Nias, dan adat istiadat pernikahan di Nias lebih maju dan baik lagi sesuai dengan kebutuhan. Mari kita bergandeng tangan memajukan pulau Nias, tetap melestarikan adat istiadat, budaya dan sastra etnis yang telah ada.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here