Masyarakatkan Hasil Penelitian, Mahasiswa Ditantang Upload Hasil Penelitian di Medsos

0
224
Menteri Keuangan, Sri Mulyani (Foto: Kemenkeu.go.id)

TANGERANG SELATAN, ANALISA INDONESIA – Selama ini hasil penelitian mahasiswa hanya tersimpan di perpustakaan-perpustakaan kampus dan sedikit diantaranya dipublikasikan melalui jurnal. Tetapi Menteri Keuangan, Sri Mulyani punya saran agar mahasiswa mempublikasikan hasil penelitiannya dalam bentuk unggahan di sosial media.

Menurut Sri Mulyani, apabila hanya menjadi buku atau prosiding, nantinya hasil penelitian itu hanya akan mengendap di perpustakaan kampus dan minim dibaca.

Bagi Menkeu, Perguruan Tinggi tidak hanya sebatas retorika dan mencatat data yang ada di lapangan tetapi juga membuat desain program sehingga bisa menjadi rancangan program pembangunan yang nyata.

“Bisa enggak diterjemahkan dalam bentuk post di Instagram, Facebook Page, atau status twitter,” ujar Sri Mulyani di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara, Tangerang Selatan, Ahad, 18 November 2018.

Ide Sri Mulyani mengenai mengunggah hasil penelitian di media sosial di dasari karena ramainya anak muda di media sosial Menurutnya, gemasan hasil penelitian dalam bentuk unggahan di sosial media bakal membuat para anak muda mau membacanya. Pasalnya, ketimbang membaca buku, millenials lebih senang membaca di gawainya masing-masing.

“Kalian kan millenial yang kreatif, jadi hasil pemikiran dan perdebatan harus disebarluaskan,” kata Sri Mulyani. Malahan dengan itu, ia berharap mahasiswa bisa menjernihkan media sosial yang acapkali dikeruhkan oleh kabar-kabar yang kurang bisa dipercaya kebenarannya, bahkan kabar bohong alias hoaks. “Anda bisa bertempur dengan hoakser itu, jadilah mata air yang menjernihkan,” ujar Sri Mulyani. “Debat boleh, tapi berdasarkan apa yang anda lakukan, jadi terjemahkan apa yang anda lakukan dan komunikasikan secara efektif.”

Pengabdian Masyarakat di Desa

Di samping itu, Sri Mulyani mendukung program perguruan tinggi untuk masuk dan melakukan pengabdian masyarakat di desa. Dengan demikian, selain bisa memahami persoalan yang ada, mahasiswa nantinya bisa memberi solusi bagi pembangunan di Indonesia. Ia berharap mentalitas itu juga bertahan tatkala para lulusan STAN menjadi pengambil kebijakan di pemerintahan.

Saat ini, kata Sri Mulyani, ada 75 ribu desa yang bisa dimasuki oleh perguruan tinggi guna melakukan penelitian. Dari jumlah tersebut, masih banyak desa dengan kategori tertinggal. “Itu lahan ibadah dan amal yang tidak habis-habis, janga hanya datang ke desa yang populer.”

Di desa, perguruan tinggi dapat meneliti berbagai macam hal. Dari temuan di sana, mahasiswa bisa mendapatkan statistik yang apabila diolah dapat menjadi sebuah data atau bukti. Nantinya data itu bisa diolah menjadi usulan kebijakan-kebijakan anyar.

Perguruan tinggi, ujar Sri Mulyani, mesti mampu mengisi slot-slot yang kosong dalam persoalan di masyarakat secara penuh, misalnya soal retorika, anggaran, sistem penerapan, hingga metode penyampaiannya. “Saya tantang BEM (badan eksekutif mahasiswa), ayo kita pikirin,” ujar Sri Mulyani. “Jangan ke desa cuma bikin laporan tapi tidak membuat analisis.”

Sumber: Tempo

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here