Menelisik Film Upin-Ipin Episode “Syahdunya Syawal” Seri 01 dari Sudut Pandang Penonton

0
225

Oleh: Hidayat Apri Kuansa
Mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Negeri Medan

***

Seiring berjalannya waktu, banyak pembaruan-pembaruan pada berbagai jenis karya sastra termasuk pada prosa, sehingga membuat ragam prosa semakin berkembang. Salah satu perkembangan prosa terjadi pada jenis komik atau manga yang bergeser pada bentuk animasi. Fenomena tersebut juga diakui oleh Basihar lubis yang mengatakan bahwa pada perkembangannya komik mengalami beberapa modifikasi mulai dari format, muatan isi, teknik pembuatan, hingga strategi pemasarannya. Beberapa komik diterbitkan seiring dengan peluncuran animasi layar lebarnya (Sobur, 2004: 137).

Sama dengan karya sastra lain animasi juga memiliki narasi penyerta gambar. Narasi yang muncul terkadang berupa onomatopea suara binatang, bunyi benda jatuh, desiran angin, dan sebagainya. Berkaitan dengan teks narasi (narrative text) tentu akan menyentuh bidang kesusastraan (Sobur, 2004:136). Pernyataan lain Sobur yang mendukung bahwa animasitak lepas dari bidang sastra yaitu bahwa elemen pembentuk komik-kartun cukup lengkap, yakni terdiri atas unsur-unsur berbagai disiplin, misalnya bidang seni rupa, sastra, linguistik, dan sebagainya.

Rangkaian gambar dan dialog dalam anime menciptakan imaji dan sistem penandaan. Menurut Rader (dalam Redyanto Noor, 2007: 98), berpendapat bahwa bentuk fantasi paling dikenal adalah khayalan, jika khayalan itu menjelma menjadi karya sastra tentu gambaran yang muncul sudah disesuaikan dengan kaidah etik dan estetik karya sastra. Akibatnya yang muncul dalam karya sastra adalah suatu upaya menyamarkan makna tersirat, berupa simbolisasi (pelambangan), kondensi (pemadatan), substitusi (penggantian), dan simpton-simpton tertentu yang berulang-ulang menampakkan gejala dalam wacana.

Berbagai simbol dan tanda terkadang berfungsi sebagai penanda suatu maksud atau lambang benda tertentu. Hal ini sangat unik mengingat banyak penonton tidak menyadari bahkan tidak mengerti maksud tanda-tanda tersebut dalam animasi.

Salah satu rumah produksi pembuat animasi yang sangat terkenal ialah Les’ Copaque Production di Malaysia yang didirikan pada tahun 2005 oleh Hj. Burhanuddin Md Radzi dan Hjh. Ainon Ariff. Salah satu animasi Les’ Copaque Production yang terkenal ialah Upin & Ipin. Les’ Copaque Production merampungkan produksi animasi animasi Upin dan Ipin pada Agustus 2007. Sebulan kemudian, animasi ini diputar di Channel 9, salah satu televisi swasta yang ada di Malaysia. Animasi ini mendapat sambutan hangat dari masyarakat Malaysia. Tak hanya mendapat sambutan hangat di Malaysia, animasi Upin dan Ipin juga mendapat sambutan hangat dan banyak digemari anak-anak di Indonesia.

Pada Ramadan tahun 2009, animasi Upin dan Ipin untuk pertama kalinya hadir menyapa penonton TVRI. Namun belakangan ini, animasi Upin dan Ipin menyapa penikmat MNCTV. Bahkan kini banyak kaset VCD/DVD animasi Upin dan Ipin di jual bebas. Tak hanya itu, animasi Upin dan Ipin juga dengan mudah bisa diunduh di internet, termasuk disitus resminya Les’ Copaque Production.

Animasi produksi Malaysia itu terasa dekat di hati masyarakat Indonesia terutama dalam kedekatan budaya. Animasi Upin dan Ipin memang banyak menceritakan kisah-kisah keseharian masyarakat Malaysia, yang memiliki budaya begitu dekat dengan orang-orang yang ada di Indonesia.

Tayangan ini disajikan sederhana namun komunikatif dan mendidik. Serial kartun ini pada awalnya hanya memiliki 6 seri, dimana setiap serinya terdiri dari 10 menit. Namun kini film Upin dan Ipin terdiri dari banyak seri dan cerita yang beranekaragam, yang mana setiap seri dan ceritanya tidak lepas dari unsur mendidik.

Pada 24 Mei 2020 Upin & Ipin episode “Syahdunya Syawal” seri 1 yang tayang pada pukul 17:00 WIB di MNCTV, menyirat kontravensi pendapat mengenai ujuran salah satu karakter tokoh dalam Upin & Ipin yang sering disapa Fizi yang memiliki nama lengkap Mohammad Al Hafezzy. Pada cuplikan video itu, terlihat Fizi, Mail, Upin dan Ipin lagi berbicara bareng. Ke-empat anak itu sedang membicarakan tentang surga di bawah telapak kaki ibu.

“Aku tidak boleh main, aku mau bantu ibuku. Membakar lemang, menganyam ketupat, dan masih banyak lagi” ujar Mail.

“Bagus, Mail. Anak yang saleh” ujar Ipin.

“Harus, karena surga berada di bawah telapak kaki ibu” ujar Mail.

“Jika tidak punya ibu?” Ujar Upin.

“Maka tidak ada surga, itupun tak tahu!” Ujar Fizi.

Seketika mimik wajah Upin dan Ipin langsung berubah jadi murung dan sedih. Mail terkejut ketika Fizi berkata tersebut lalu memukulnya.

Kontravensi terhadap ujaran di atas menyatakan sikap mencela terhadap anak yatim piatu, dengan satire yang khas diujarkan oleh Fizi. Dikarenakan ujaran tersebut tidak mendidik seutuhnya melainkan untuk mencela dibalik ujaran yang seolah-olah mendidik melupakan kualitas informasi yang berupa didikan secara penuh terhadap animasi yang akan diberikan. Kontravensipun mulai redah saat Fizi melakukan klarifikasi, melalui akun twitter @fizithekid pada 26 Mei 2020.

“Saye fizi, ini klarifikasi saye atas masalah saye dan Upin Ipin. Saya nak minte maaf kepada orang-orang indo atas masalah saye, yang buat kebisingan kat daerah kamu. Sebelumnye saya nak kenalken eshan kawan baik saye yang meminjamkan tablet ini. Sebenarnya saya berbicara macam tu karena saya budak yang jujur, Ibu saya cakap bahwasannya kite kini harus jadi budak yang jujur. Tapi karena saya budak yang baik jadi saye nak minta maaf atas perkataan saye terutama kepada Upin dan Ipin yang dah buat sedih korang. Saye mengaku menyesal sangatlah cakap macem itu dan untuk Mail saya nak ucapkan terimakasih karena telah mengingatkan saye atas perkataan saye yang macam itu. Sekali lagi saye atas nama fizi yang dah bercakap yang tak betul kepada Upin & Ipin dengan tweet ini meminta maaf dengan setulus hati saye. Terimakasih tuk semuanye yang telah memaafkan saye, selamat hari raye semue”, ujar Fizi pada tweet tersebut.

Setelah klarifikasi Fizi selesai, diharapkan kepada studio Les’ Copaque Production tidak menampilkan animasi yang dapat mencela suatu perbedaan beragama, meski celahan tersebut mendapatkan solusi tetapi mohon pergunakan cara yang halus dalam membuat naskah animasi tersebut.

Referensi

Noor, Redyanto. 2007. Pengantar Pengkajian Sastra. Semarang: Fasindo.

Sobur, Alex. 2004. Analisis Teks Media. Bandung : Remaja Rosda Karya

id.wikipedia.org/wiki/Upin_%26_Ipin

twitter.com/Official_MNCTV/status/1264437624288116736?s=20

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here