Mengangkat Sejarah ”Eluh Berru Tinambunen“ Sebagai Kekayaan Sastra Lisan Sumatera Utara

1
686
Gambar : Dokumentasi bentuk Eluh Berru Tinambunen yang terbentuk dari air mata Putri Berru Tinambunen.

Oleh : Esra M. Manurung, Meyetty Br. Purba, Laila Maharani Sipahutar, Sarmainah Hasibuan
Penulis adalah Mahasiswa semester 4 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Negeri Medan

***

Sumatera Utara memiliki kekayaan sastra lisan yang sayangnya belum banyak diangkat ke publik. Akhirnya tak jarang sastra lisan tersebut semakin terlupakan.

Sastra lisan adalah kesusastraan yang mencakup ekspresi kesusastraan warga dan kebudayaan yang disebarkan dari dan turun-temurunkan secara lisn atau dari mulut ke mulut (Hutomo, 1991: 1). Sastra lisan sendiri memiliki nilai-nilai yang luhut dalam masyarakat lebih-lebih pada kebudayaan yang ada dalam masyarakat.

Melalui  wawancara yang dilakukan sebelumnya kepada narasumber yaitu P. Berutu dan A. Manik ditemukan begitu banyak sastra lisan di Sumatera Utara yang memasuki masa kritis. Mengapa demikian? Seiring dengan memudarnya penggunaan bahasa daerah (etnis Sumatera Utara) di dalam masyarakat Batak. Sebab sastra lisan tidak lepas dari bahasa pendukungnya. Keduanya adalah dua sisi yang tidak dapat dipisahkan. Melalui bahasa etnis tersebutlah, sastra lisan melekat.

Sejarah Eluh Berru Tinambunen menjadi salah satu sastra lisan yang diakui belum diketahui oleh orang banyak. Bahkan kisah ini belum dipublikasikan ke dalam media.

“Eluh Berru Tinambunen” tepatnya terletak di kaki Delleng Simpon (Pegunungan) di Pakpak Bharat.

A.Manik seorang masyarakat Desa Sukaramai, Kec. Kerajaan  mengisahkan kepada penulis jika cerita ini bermula pada zaman dahulu ada seorang putri cantik nan jelita dan memiliki suara merdu yang merupakan keturunan marga Tinambunen. Karena kecantikan parasnya seorang raja melamarnya yang ingin di jadikan sebagai istri ataupun permaisuri raja tersebut.

Akan tetapi sang putri menolak lamaran raja. Sang putri menolak dan tidak menyukai Raja dikarenakan dia anak dari keluarga kaya raya. Berbagai cara dilakukan keluarga agar bru Tinambunen mau menikah dengan Raja tersebut. Akan tetapi putri bru Tinambunen masih saja menolak lamaran itu.

Sang Raja tidak tinggal diam, Ia tidak merasa puas bila dia tidak mendapatkan putri bru Tinambunen. Hingga akhirnya, sang Raja memerintahkan pasukannya untuk menculik puti bru Tinambunen.  Ketika tengah malam putri bru Tinambunen tertidur sangat lelap dan pasukan raja tersebut membawa diam- diam putri bru Tinambunen pergi untuk dibawa ke rumah raja tersebut. 

Namun, ketika berada di puncak Delleng Simpon, putri bru dinam terbangun dari tidurnya. Dia menyadari bahwa dia telah dibawa diam- diam oleh raja yang akan dijadikan sebagai istri raja tersebut. Menyadari hal itu, putri Berru Tinambunen pun menangis, dia tidak tahu jalan pulang ke rumahnya karena dia dibawa saat malam hari. Putri bru Tinambunenpun menangis sejadi jadinya mengingat nasibnya yang akan menikah dengan Raja.

Sejak saat itulah Eluh Berru Tinambunen terbentuk di Delleng Simpon. Eluh Berru Tinambunen ini seperti tanah yang dilubangi yang berisikan air mata putri bru Tinambunen, yang tidak pernah kering walaupun sedang musim kemarau dan setiap orang yang mengunjungi Eluh Berru Tinambunen ini di sarankan  untuk mencuci wajah pada air tersebut sebagai adat- istiadat di lokasi tersebut.

Masyarakat meyakini jika ait tersebut bisa menyumbuhkan rasa lelah jika kita mencuci wajah kita pada air tersebut dan ada beberapa masyarakat juga mempercayai bahwa air Eluh tersebut mata air cari jodoh.

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah kami lakukan, dapat diambil simpulan sebagai berikut. “Eluh Bru Tinambunen ini berawal dari air mata putri bru Tinambunen yang tidak mau dinikahi oleh raja”.

Hal-hal yang kami peroleh dari penelitian ini menjadi salah satu kekayaan sastra etnis yang banyak tersebar di Sumatera Utara, khususnya etnis Pakpak. Sastra ini merupakan salah satu sastra lisan yang ada dan menjadi cerita turun-temurun di sekitar masyarakat Pakpak Bharat . Namun, sekarang banyak kepercayaan yang sudah dilupakan masyarakat karena sudah mempercayai agama dan Tuhan.

1 KOMENTAR

  1. izin pertua nami, sedikit ganjal di cerita ini, ketika suruhan raja menculik berru tinambunan, mreka membawa berru tinambunan ke rumah si raja, lalu knpa tiba” sudah ke puncak delleng simpon (berru tinambunen sadar) ? apakah rumah si raja mlewati delleng simpon ? dan kalaupun si berru tinambunan menangis di puncak delleng simpon, knpa bisa mata air tidak di puncak tempat beliau menangis, malah mata airnya skrg di kaki delleng simpon, atau mungkin di atas memang ada mata air jga ?? mohon cerahenna pertua nami🙏🏼🙏🏼

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here