Mengenal Eksternalitas Rokok dan Peran dari Pemerintah

0
246

Oleh : Muhamad Ilham Pangestu
Penulis adalah mahasiswa D3 Akuntansi Politeknik Keuangan Negara Stan (PKN STAN).

***

Rokok merupakan barang yang sudah tidak asing lagi dikhalayak orang banyak, mulai dari orang dewasa hingga anak kecil yang sudah dikenalkan dengan barang yang namanya rokok, walaupun  hanya sebatas disuruh oleh orang tua untuk membeli rokok di warung. Rokok sangatlah mudah untuk didadapatkan karena banyak yang menjualnya, mulai dari warung kecil hingga supermarket.

Dilansir dari wikipedia.com, rokok adalah silinder dari kertas berukuran panjang antara 70 hingga 120 mm dengan diameter sekitar 10 mm yang berisi daun-daun tembakau kering yang telah dicacah. Rokok dapat membuat orang yang menggunakannya menjadi kecanduan karena rokok ini mengandung zat adiktif seperti Nikotin, Amonia, Tar, Karbon Monoksida, dan lain sebagainya.

Di Indonesia sendiri tingkat orang yang merokok atau disebut perokok mencapai 39,9% dari jumlah penduduknya, hal ini menempatkan Indonesia sebagai peringkat ke tujuh Negara dengan jumlah perokok terbanyak di dunia, sebagaimana dilansir pada economy.okezone.com. Tingkat perokok yang tinggi, salah satunya disebabkan sebagian masyarakat Indonesia percaya bahwa rokok ini dapat menghilangkan stress, meningkatkan konsentrasi, mengurangi kecemasan, serta menambah nafsu makan. Bahkan ada yang beranggapan bahwa seorang perokok itu lebih keren dibandingkan dengan orang yang tidak merokok.

Disamping rokok tersebut banyak disenangi oleh kalangan masyarakat, karena efek yang ditimbulkan ketika mengonsumsinya, rokok ini memiliki eksternalitas negatif atau menimbulkan dampak yang bersifat merugikan baik terhadap dirinya sendiri atau orang disekitarnya, yang antara lain:

1. Meningkatkan Biaya Kesehatan

Eksternalitas negatif dari rokok dapat meningkatkan besarnya biaya kesehatan yang dikeluarkan karena penyakit yang disebabkan oleh kegiatan merokok seperti gangguan paru-paru, gangguan jantung, kanker, asma, dan bronitis kronis, yang mana dapat meningkatkan biaya pengobatan. Oleh sebab itu, biaya asuransi kesehatan bagi orang yang merokok akan dikenakan premi yang lebih tinggi untuk mengantisipasi risiko masalah kesehatan yang ditimbulkan akibat merokok.

2. Dapat Menimbulkan Kebakaran

Orang yang tertidur pada saat merokok atau orang yang sudah merokok dan lupa mematikan arang rokoknya dapat memicu adanya kebakaran, hal ini tentunya dapat merugikan orang lain seperti kehilangan harta benda akibat kebakaran, meningkatkan bahaya untuk pemadam kebakaran, dan meningkatkan premi asuransi.

3. Mengakibatkan Gangguan Kesehatan terhadap Orang Lain

Bahwa tidak hanya perokok aktif (orang yang mengonsumsi rokok) yang dapat terserang penyakit akibat kegiatan merokok, bahkan perokok pasif  (orang yang tidak merokok tetapi menghirup asap rokok dari orang lain) yang terpapar asap rokok secara terus-menerus dapat mengakibatkan gangguan terhadap kesehatannya.

4. Mengurangi Tingkat Produktivitas

Bahwa rentannya perokok terkena gangguan kesehatan mengakibatkan tingkat produktivitas dari seseorang menjadi berkurang karena sering absen dari pekerjaannya, dampak kelanjutannya juga mengakibatkan tingkat produktivitas dari suatu perusahaan dapat menurun akibat pegawainya yang sering absen dari pekerjaan.

Peran Pemerintah

Atas eksternalitas negatif yang ditimbulkan dari konsumsi rokok yang dapat merugikan terhadap banyak orang, maka diperlukan peran pemerintah untuk dapat mengendalikan tingkat konsumsi masyarakat terhadap rokok agar dampak yang ditimbulkan tidak semakin masif, yaitu dapat dengan cara:

1. Membuat Peraturan

Pemerintah dapat membuat aturan secara tegas terhadap perusahaan rokok seperti membatasi tingkat produksi rokok, membuat aturan larangan merokok di depan umum, seta membuat larangan iklan, promosi, dan sponsor rokok. Namun dalam mengimplementasikan aturan tersebut memang tidaklah mudah, tidak dipungkiri akan terdapat pro dan kontra dari elemen masyarakat tertentu terutama dari para pengusaha rokok.

2. Pajak

Untuk mengurangi tingkat konsumsi terhadap rokok, pemerintah dapat memberikan pajak yang lebih tinggi lagi kepada pengusaha rokok, sehingga harga dari rokok semakin tinggi yang diharapkan seseorang dapat mempertimbangkan lagi dalam pilihan konsumsinya untuk merokok.

Selain peran dari pemerintah untuk  mengatasi eksternalitas negatif dari rokok, sebagaimana teorema coase,  masyarakat umum dapat melakukannya dengan cara negosiasi antara pihak-pihak yang terkait utuk bersama-sama mencari solusinya. Sebagai contoh, perokok pasif dapat mengingatkan perokok aktif untuk tidak merokok dikhalayak umum, karena banyak yang terganggu akibat dari asap rokok yang dihasilkannya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here