Mengenal Istilah Storynomic Tourism; Strategi Promosi Pariwisata Pemerintah

0
797

JAKARTA, ANALISA INDONESIA – Ada banyak pendekatan promosi pariwisata yang bisa dilakukan. Salah satunya apa yang diistilahkan oleh pemerintah sebagai Storynomic Tourism.

Dalam rilisnya, Pemerintah akan menjadikan Storynomics Tourism sebagai strategi pengembangan pariwisata Indonesia andalan, khususnya di lima kawasan wisata destinasi super prioritas. Kelima destinasi itu adalah Danau Toba, Borobudur, Mandalika, Labuan Bajo, dan Likupang.

Secara sederhana Storynomic Tourism adalah pendekatan pariwisata yang mengedepankan narasi, konten kreatif, dan living culture serta menggunakan kekuatan budaya sebagai DNA destinasi.

Dalam bahasa yang lain, Menteri Pariwisata menyebut, nantinya promosi kawasan wisata akan dilakukan dengan narasi story telling serta dikemas dalam konten menarik yang terkait dengan budaya setempat.

Storynomic adalah Intrepetasi

Dekan Fakultas Pariwisata Universitas Pancasila Devi Roza Krishnandi Kausar seperti dilansir Antara menyebutkan bahwa Ini kan sebetulnya cerita tentang mengembangkan narasi.

“Jadi kalau di pariwisata sebetulnya kami biasa mengenal itu dengan istilah interpretasi,” ungkapnya.

Dalam pandangan Devi, perlu dibangun interpretasi pada suatu tempat atau obyek pariwisata. Ia memberi contoh Danau Toba di Sumatra Utara. Pendekatan yang ada selama ini lebih banyak sekedar menceritakan keindahan Danau Toba, dan tidak terlalu banyak mengangkat cerita di baliknya seperti bahwa Danau Toba dulunya merupakan super volcano.

Devi menuturkan bahwa pendekatan interpretasi bukan hal baru dalam bidang pariwisata budaya dan pariwisata ekologi. Penerapan konsep buah pikiran Freeman Tilden tersebut diharapkan dapat mengubah perilaku para pengunjung, untuk bukan saja sekedar mengerti tempat atau obyek pariwisatanya namun juga mampu mengapresiasi.

Sedangkan storynomic sendiri diadaptasi dari dunia pemasaran buah pikiran Robert McKee. Dengan mempersiapkan cerita yang bagus, proses pemasaran menjadi berbeda. Sebuah cerita yang memiliki nilai ekonomi dapat menarik orang dalam mengambil suatu keputusan pembelian.

Perempuan yang mengambil gelar Doktornya di Universitas Nagoya itu kemudian memberikan dua contoh, yakni es krim Ben and Jerry’s serta Coco Channel. Dua produk tersebut dapat memiliki tempat di hati para konsumen, karena bukan hanya menjual barang, mereka juga menawarkan cerita yang menarik di balik produk tersebut.

“Kalau diterapkan di pariwisata setahu saya berarti ini dekat dengan interpretasi. Artinya menceritakan tentang suatu destinasi atau daya tarik wisata dengan serius, jadi narasinya, kemudian nilai-nilai apa yang ingin dikedepankan,” paparnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here