Mengenal Oktan pada Bahan Bakar serta Bahaya Penggunaan BBM Oplosan

3
345

Oleh : Kezia Thessa Destine
Penulis adalah mahasiswa Bilingual Pendidikan IPA Universitas Negeri Medan

***

Bilangan atau angka oktan merupakan sebuah angka yang menunjukkan seberapa besar tekanan yang dapat diberikan sebelum bahan bakar tersebut terbakar secara spontan. Terdapat suatu bahan yang digunakan untuk spark ignition engine (SIE) dan dibedakan kualitasnya berdasarkan angka oktan yang dimiliki.

Nama oktan berasal dari oktana (C8), karena dari seluruh molekul penyusun bensin, oktana yang memiliki sifat kompresi paling bagus. Oktana dapat dikompres sampai volume kecil tanpa mengalami pembakaran spontan, tidak seperti yang terjadi pada heptana, misalnya, yang dapat terbakar spontan meskipun baru ditekan sedikit.

Di dalam mesin, campuran udara dan bensin (dalam bentuk gas) ditekan oleh piston sampai dengan volume yang sangat kecil dan kemudian dibakar oleh percikan api yang dihasilkan oleh busi. Karena besarnya tekanan ini, campuran udara dan bensin juga bisa terbakar secara spontan sebelum percikan api dari busi keluar. Jika campuran gas ini terbakar karena tekanan yang tinggi (bukan karena percikan api dari busi), maka akan terjadi knocking atau ketukan didalam mesin. Knocking ini akan menyebabkan mesin cepat rusak, sehingga sebisa mungkin harus kita hindari.

Pemisalan oktan yaitu : suatu bensin dengan bilangan oktan 87, berarti bensin tersebut terdiri dari 87% oktana dan 13% heptana (atau campuran molekul lainnya). Bensin ini akan terbakar secara spontan pada saat angka tingkat kompresi tertentu yang diberikan.

Oktan Bahan Bakar di Indonesia

Di Indonesia, tersedia berbagai jenis bahan bakar yang dapat diperoleh dengan angka oktan yang berbeda pula jenisnya, diantaranya: Premium memiliki nilai oktan 88, sedangkan Pertalite memiliki RON 90, Pertamax sebesar 92. dan Pertamax Plus sebesar 95. Semakin tinggi nilai oktannya, maka BBM lebih lambat terbakar, sehingga tidak meninggalkan residu pada mesin yang bisa mengganggu kinerjanya. Bahan bakar beroktan tinggi cocok digunakan dengan kendaraan yang menggunakan kompresi tinggi.

Hubungan Angka Oktan dengan Bensin Oplosan

Bensin merupakan hasil bahan bakar yang diperoleh dari hasil pengolahan minyak bumi. Komponen yang terdapat didalam bensin yaitu isooktana dan n-heptana. Kualitas bensin ditentukan berdasarkan bilangan oktan. Bilangan oktan merupakan angka yang menunjukkan kemampuan bahan bakar dalam mengatasi ketukan saat mesin terbakar. Apabila bilangan oktan bernilai 100 maka bensin tersebut memiliki nilai yang sama dengan isooktana. Sedangkan apabila bilangan oktan bernilai 0, maka nilai tersebut sama dengan n-heptana.

Hubungan bilangan oktan dengan kualitas bensin yaitu : “Semakin besar nilai tekanan oktan, maka akan semakin bagus kualitas mutu bensin yang dihasilkan”.

Seperti yang kita ketahui, banyak sekali beredar bensin eceran di berbagai tempat. Kita tidak tahu seberapa besar komponen isooktana dan n-heptana dan angka oktan yang terdapat pada bensin eceran.

Jadi begini, mesin kendaraan yang kita gunakan bekerja dengan prinsip pemampatan campuran bahan bakar dan udara di dalam mesin, sederhanya disebut sebagai tekanan/kompresi. Nilai tekanan tersebut berbeda-beda untuk setiap mesin kendaraan (kecuali berbagai varian kendaraan yang menggunakan basis mesin yang sama). Nilai tekanan ini biasa disebut rasio kompresi.

Sekali lagi, berbagai kendaraan memiliki rasio kompresi yang beragam, ada yang 8:1, 9:1, 10:1 dan seterusnya. Semakin tinggi angka perbandingan kompresi tersebut menandakan bahwa kompresi atau tekanan di dalam mesinnya semakin tinggi.

Terkait kebutuhan bahan bakar, semakin tinggi kompresi mesin, artinya mesin tersebut membutuhkan karakter bahan bakar yang tidak mudah terbakar. Jika kendaraan kita memiliki rasio kompresi yang tinggi (misalnya 10:1), maka kita harus memberinya bensin dengan oktan yang tinggi. Jika menggunakan bahan bakar oktan rendah yang mudah terbakar, maka berpotensi terjadi pembakaran sebelum saatnya (pre-ignition).

Dampak langsung dari pre-ignition adalah terjadinya getaran (knocking) di dalam mesin dan menurunnya performa kendaraan. Knocking disebabkan oleh penggunaan bahan bakar dengan oktan yang lebih rendah dari seharusnya. Jika hal tersebut dibiarkan secara merus menerus, dapat merusak komponen mesin.

Tentunya kinerja motor tidak maksimal kalau banyak kerak yang menumpuk di ruang bakar. Bahkan lebih lanjut, Tri mengatakan ada kemungkinan bensin tersebut oktannya turun. Ada kemungkinan oktannya juga turun karena panas meningkatkan laju penguapan. Bisa jadi pada bensin eceran, nilai RON (Research Octane Number) semakin rendah akibat dari pemindahan bahan bakar dari SPBU ke jalanan. Jadi bisa dikatakan kerak atau deposit akan lebih banyak muncul pada mesin motor yang sering menggunakan bensin eceran, yang cara penyimpanannya juga salah. Tentunya kinerja motor tidak maksimal kalau banyak kerak yang menumpuk di ruang bakar.

Bahkan lebih lanjut, kemungkinan bensin tersebut oktannya turun akibat karena panas matahari ke botol bensin meningkatkan laju penguapan. Dan juga kita tidak tahu apa yang sudah dicampur pada bensin eceran. Oleh karena itu, mari kita sayangi kendaraan kita khususnya kendaraan bermotor. Haruslah kita seimbangkan nilai kompresi mesin dengan karakter RON bensin yang kita puilih. Sudah sewajarnya kita meninggalkan bensin eceran demi kebaikan dan keawetan kendaraan kita.

Bahaya Bensin Oplosan

Seperti yang kita ketahui, semua kendaraan memerlukan bahan bakar, terutama kendaraan motor. Tidak bias kita pungkiri masih banyak masyarakat yang menggunakan bensin eceran terutama pada kendaraan bermotor mereka. Masih banyak masyarakat yang tidak membeli bahan bakar di tempatnya (SPBU).

Terkait dengan alasan-alasan mereka yaitu malas mengantre di SPBU, tidak sempat atau sudah terkejar waktu bila mengisi bensin di SPBU. Padahal harga bensin eceran itu pasti lebih mahal dari harga di SPBU. Misalnya pada 1 liter pertalite di SPBU seharga Rp. 7.500. Jika kita membeli eceran, 1 liter pertalite diberi harga Rp.10.000. Padahal di SPBU, kita sudah mendapatkan kualitas bensin yang baik, juga pelayanan yang baik pula. Dibandingkan dengan bensin eceran, sangat berbanding terbalik. Selain itu membeli bensin eceran juga harus siap dengan risiko mendapatkan bensin oplosan.

Bensin oplosan adalah bensin yang sudah dicampur dengan bahan lain. Contohnya : air, hingga minyak tanah. Banyak sekali resiko memakai bensin oplosan, seperti :

1. Performa Mesin rusak

Akibat yang pertama kali muncul di mesin kamu karena menggunakan bensin oplosan adalah suara mesin motor kamu yang jadi lebih berisik dari biasanya.Bensin oplosan yang komposisinya tidak sesuai dengan spesifikasi mesin kamu akan memunculkan banyak kerak di piston, kepala silinder, dan sekeliling payung klep.Adanya kerak ini akan menimbulkan knocking di mesin motor kamu. Knocking di mesin motor inilah yang akan membuat suara mesin motor kamu menjadi lebih berisik.

2. Motor menjadi Loyo

Akibat banyaknya kerak atau endapan dari bensin eceran, mengakibatkan motor menjadi loyo bahkan mogok. Performa motor yang menurun, mengakibatkan motor sering mogok. Ilustrasinya, mesin yang didalam motor semakin lemah tarikannya. Tidak lagi kuat seperti awal membelinya. Ini diakibatkan oleh pengisian bahan bakar dengan menggunakan bensin eceran.

Baiklah, setelah mengetahui ini, apakah kita masih “berani” pakai bensin oktan rendah bahkan bensin campuran (oplosan)? Mari kita rawat kendaraan kita dengan sebaik-baiknya, beri Ia “minuman bergizi” agar performanya tetap terjaga. Selain menjaga komponen mesin dan performa, bensin dengan oktan tinggi juga hanya menghasilkan sedikit kandungan berbahaya pada gas buang. Kesimpulannya, menggunakan bahan bakar dengan oktan yang tinggi sesuai spesifikasi sangat baik untuk kendaraan, performa dan lingkungan. Mari gunakan bahan bakar yang baik dan benar, dengan mendapatkannya secara resmi di SPBU (Stasiun Pengisian Bahan Bakar)

3 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here