Nilai Kebudayaan Batak Toba dalam Sastra Lisan Binanga Bolon

0
269
Gambar: Binanga Bolon, sungai di Urat, Desa Suhutnihuta, Kecamatan Palipi, Kabupaten Samosir, Sumatera Utara

Oleh : Maria Astari Silitonga
Penulis adlaah mahasiswi semester IV Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri Medan)

***

Batak Toba merupakan salah satu subetnis Batak yang memiliki kekayaan warisan tradisi kebudayaan dari para leluhur. Tradisi dan kesenian tersebut mengandung nilai-nilai penting yang dijadikan pedoman hidup bagi masyarakat Batak Toba hingga saat ini. Namun, kebanyakan tradisi atau kebudayaan Batak Toba hanya dijadikan sebagai pedoman hidup atau suri teladan saja, bukan sebagai kesusastraan yang dapat dipelajari semua masyarakat.

Sastra lisan merupakan bagian dari budaya yang dipelihara dan dilestarikan oleh masyarakat pendukungnya secara turun-temurun yang disebarkan secara lisan (dari mulut ke mulut). Sastra lisan mengandung nilai-nilai budaya yang menjadi pedoman dan pendorong perilaku hidup manusia.

Menurut Harahap dan Siahaan, 1987:134, etnis Batak Toba memiliki sembilan nilai budaya yang dipedomani masyarakat dalam hidup bermasyarakat, yakni meliputi nilai kekerabatan, religi, hagabeon, hukum, hamajuon, konflik, hamoraon, hasangapon, dan pengayoman.

Binanga Bolon adalah salah satu bentuk sastra lisan milik masyarakat Batak Toba, tetapi belum diketahui banyak orang, termasuk orang Batak Toba itu sendiri. Binanga Bolon merupakan sungai yang berada di Urat, Desa Parsaoran hingga mengalir ke Desa Suhutnihuta, Kecamatan Palipi, Kabupaten Samosir, Sumatera Utara. Sungai ini menjadi salah satu legenda bersejarah di Kabupaten Samosir, tetapi hanya diketahui oleh kelompok masyarakat desa setempat. Binanga Bolon mengandung nilai kebudayaan Batak Toba, yang meliputi nilai kekerabatan, nilai religi, nilai hagabeon,dan nilai hasangapon.

Nilai Kekerabatan

Falsafah Dalihan Na Tolu (somba marhula-hula, manat mardongan tubu, dan elek marboru) menjadi pedoman masyarakat Batak Toba dalam menjalin kekerabatan (persaudaraan). Kekerabatan masyarakat  Batak Toba terjalin melalui hubungan marga. Untuk itu, sangat penting orang Batak mengetahui marga orang lain agar tidak salah dalam berperilaku.

Dung simpul Raja Parhutala masumpah tu harajon ni si Namartua Pangaribuan, gabe limang ma akka batu-batu i sude. Dungkon I, dijou ibana ma haha anggina Marga Sinaga, Situmorang, Nainggolan, Simatupang, Aritonang dan Siregar. (Setelah siap dibuat Raja Parhutala semua permintaan putrinya itu, berencanalah dia ingin menempatkan putrinya itu ke Sopo Partonunan-nya itu. Dipanggilnyalah kakak dan adiknya Marga Sinaga, Situmorang, Nainggolan, Simatupang, Aritonang dan Siregar (Dikutip dari legenda Binanga Bolon).

Dari kutipan cerita di atas dapat dilihat bagaimana kekerabatan yang dijalin Raja Parhutala. Ia turut melibatkan kakak dan adiknya, yakni marga Sinaga, Situmorang, Nainggolan, Simatupang, Aritonang, dan Siregar dalam melawan kekuasaan Pardindingan. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat Batak Toba selalu melibatkan kerabat (saudara se-marga) dalam suatu peristiwa apapun, bahkan hingga saat ini.

Nilai Religi

Nilai Religi Religi mencakup kehidupan keagamaan yang mengatur hubungan manusia dengan Maha Pencipta dan hubungan manusia dengan ligkungannya.

Dung i, marpangidoan ma ibana tu Mulajadi Na Bolon, dipangidohon disi asa unang be masa si songoni tu joloan ni ari.” (Setelah itu, berdoalah dia kepada Tuhan Maha Pencipta, dimintanyalah di situ supaya tidak terjadi lagi seperti itu ke hari depannya. (Dikutip dari hasil wawancara dengan Ompung Dita Situmorang)

Dari kutipan di atas, masyarakat Batak Toba mempercayai bahwa leluhur merupakan perwakilan dari Debata Mulajadi Na Bolon (Tuhan Maha Pencipta) di dunia. Menghormati leluhur sama dengan menghormati Tuhan bagi masyarakat Batak Toba dahulu. Berdoa kepada Debata Mulajadi Na Bolon saat itu merupakan kewajiban untuk memperoleh berkat dan pertolongan. Raja Parhutala mempercayai leluhur mereka yang disebut “Namartua” atau “roh leluhur” yang masih gentayangan sebagai Tuhan yang akan memberikan pertolongan bagi mereka dalam berbagai hal.

Nilai Hagabeon

Hagabeon berasal dari kata gabe yang berarti mempunyai banyak keturunan, panjang umur, dan sekaligus menjadi panutan masyarakat.

Jadi dung adong urat ni Raja Parhutala dua dohot tolu boru na, ro ma boru na Si Boru Saroding mandok tu ibana. Ninna ma Nunga be las be roham among? Dialusi among na i ma Nunga be beu.” (Jadi setelah lahir anak laki-laki Raja Parhutala dua dan tiga putri, datanglah putrinya Si Boru Saroding berkata padanya. Katanya Sudah senangkah hatimu ayah? Dijawab ayahnya itulah Sudahlah putriku. (Dikutip dari hasil wawancara dengan Ompung Dita Situmorang)

Dalam kehidupan bermasyarakat, orang Batak yang memiliki banyak anak apalagi anak laki-laki sangatlah dihargai. Anak merupakan generasi penerus orang tua yang akan membawa nama keluarga serta garis marga bagi keturunannya di kemudian hari. Dalam legenda Binanga Bolon, Raja Parhutala merasa sangat bahagia karena tidak hanya memiliki anak perempuan, tetapi juga memiliki anak laki-laki. Kebahagiannya sungguh sudah sangat lengkap dan sempurna. Hal ini menunjukkan bahwa memiliki keturunan merupakan sesuatu yang sangatlah penting bagi orang Batak. Anak merupakan harta yang paling berharga bagi orang Batak seperti pepatah yang mengatakan Anakhonki do hamoraon di au (anak merupakan kekayaan orang tua).

Nilai Hasangapon

Hasangapon berasal dari kata sangap yang berarti kemuliaan dan kewibawaan. Nilai ini mendorong masyarakat Batak Toba gigih untuk mencapai kejayaan atau kekuasaan. Sama halnya dalam cerita lisan “Binanga Bolon” yang mengandung nilai hasangapon yakni adanya dua kuasa (kekuasaan Raja Parhutala dan kekuasaan Raja Pardindingan) yang berusaha memenangkan kejayaan masing-masing

Dung monang huaso ni Manartua Limang i, laos digoari ma i Binanga Bolon jala gabe Raja Parhutala ma nampunasa i.” (Setelah kekuasaan Namartua Limang memenangkan pertempuran, maka dibuatlah nama tempat tersebut Binanga Bolon dan menjadi kekuasaan Raja Parhutala. (Dikutip dari hasil wawancara dengan tulang Simorangkir).

Dalam mempertahankan kejayaan, Raja Parhutala meminta nasihat pada ayahnya yaitu Guru Solondason dan nasihat itu juga diturunkannya pada anak-anaknya. Raja Parhutala menekankan pada keturunannya untuk tetap menjaga kelestarian “Binanga Bolon” ini karena menjadi petanda keberadaan keturunan mereka.

Gambar: Penulis bersama penatua Ompung Dita Situmorang dan tulang Simorangkir. Sabtu, 7 Maret 2020.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here