Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Solusi Keadilan Sosial di Indonesia

0
110

Oleh : Anthony Debrendan Suminto
Penulis adalah mahasiswa tugas belajar semester 5 Diploma III Akuntasi Alih Program Politeknik Keuangan Negara STAN ak. 2019

***

Sekilas Tentang Nuklir

Ketika berbicara tentang nuklir satu hal yang muncul dalam benak kita adalah suatu senjata pemusnah masal yang dulu sempat di ledakkan di Hiroshima dan Nagasaki. Betul senjata tersebut merupakan suatu jenis bom yang menggunakan reaksi nuklir. Namun yang akan kita bahas nuklir sebagai sumber energi listrik.

Nuklir pertama kali ditemukan pada tahun 1896 oleh Henri Becquerel yang saat itu sedang meneliti fenomena fosforensi pada garam uranium. Dalam prosesnya Henri dan teman-temannya menemukan radioaktivitas. Mereka mengisolasi Radium yang bersifat sangat radioaktif. Mereka menemukan bahwa Radium tersebut memancarkan gelombang gelombang yang akhirnya dinamai Alfa, Beta, Gamma. Beberapa jenis radiasi yang mereka temukan mampu menembus  beberapa material dan menyebabkan kerusakan.

https://ourworldindata.org/safest-sources-of-energy

Mengenal Lebih Jauh Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir

EBR-1 merupakan Reaktor Nuklir pertama yang digunakan untuk menghasilkan listrik ditemukan pada tahun 1951 di Amerika Serikat, tepatnya di dekat Arco, Idaho. Lalu pada tahun 1953, Presiden Amerika Serikat Eisenhower berpidato tentang “Atoms for Peace” yang menjadi cikal bakal perkembangan reaktor nuklir sebagai pembangkit listrik.

Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir merupakan pembangkit listrik termal. Listrik yang dihasilkan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir dihasilkan oleh panas yang terdapat pada reaktor nuklir. Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir dapat dibedakan menjadi dua jenis berdasarkan jenis reaksi nuklirnya yaitu Reaktor Fisi, Reaktor Fusi.

Seluruh Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir di dunia menyumbang sekitar  10% produksi listrik di dunia. Angka tersebut merupakan angka yang cukup besar mengingat saat ini hanya terdapat 440 Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir di kurang lebih tiga puluh negara.

Urgensi Energi di Indonesia

Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir di Indonesia selalu menuai polemik. Banyak orang beranggapan Indonesia seharusnya memaksimalkan sumber energi terbarukan. Di sisi lain banyak juga orang yang sudah paranoid ketika mendengar katan nuklir. Mereka takut kejadian seperti Chernobyl akan terulang dan menyebabkan kerugian yang begitu besar apabila Indonesia mendirikan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir.

Rasio elektrifikasi adalah perbandingan jumlah pelanggan rumah tangga yang memiliki sumber penerangan baik dari listrik Perusahaan Listrik Negara (PLN) maupun listrik non-PLN dengan jumlah rumah tangga. Pada tahun 2019, rasio elektrifikasi Indonesia mencapai 98,89% dan target pada tahun 2020 rasio elektrifikasi Indonesia adalah 100%. Jika dilihat dari capaian tahun 2019 terlihat sangat fantastis. Namun realita tidak seindah angka-angka tersebut. Rasio elektrifikasi merupakan data yang menunjukan akses listrik di Indonesia. Meskipun akses listrik tersebar hampir di seluruh wilayah Indonesia, tidak semua masyarakat dapat menikmati listrik secara total 24 jam. Masih banyak daerah yang melakukan pemadaman listrik secara bergilir. Hal ini menunjukkan bahwa kebutuhan listrik di Indonesia belum dapat tercukupi dengan pembangkit listrik yang ada. Selain itu rasio elektrifikasi tidak memisahkan sumber listrik yang berasal dari PLN dengan non-PLN (misal genset).

PLTN Sebagai Solusi Energi

Sejauh ini Indonesia memiliki enam jenis pembangkit listrik yang tersebar hampir di seluruh wilayah Indonesia. Keenam jenis tersebut terdiri dari Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU), Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG), Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD), Pembangkit Listrik Tenaga Panas bumi (PLTP), Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), dan Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB). Tiga dari enam jenis pembangkit listrik menggunakan energi fosil yang mana energi tersebut sangat tidak ramah lingkungan.

Kementerian ESDM mencatat bahwa energi fosil ini merupakan penyumbang terbesar energi listrik di Indonesia dengan persentase 80 persen dari kapasitas nasional. Hal ini menunjukkan ketergantungan yang begitu besar akan energi fosil. Padahal energi fosil menghasilkan emisi lebih besar dibandingkan dengan nuklir. Sebagai contoh, Emisi CO2 yang dihasilkan dari batu bara rata-rata mencapai 888 ton CO2/GWh jauh lebih besar dibandingkan dengan Nuklir yang rata-rata menghasilkan 29 ton CO2/GWh. Selain itu, energi yang dihasilkan oleh satu gram uranium setara dengan dua ton batu bara. Tidak hanya itu, harga uranium yang stabil membuat PLTN merupakan solusi atas kebutuh listrik di Indonesia. PLTN juga merupakan pembangkit listrik dengan tingkat kecelakaan kerja yang rendah.

Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir menawarkan banyak keuntungan. Selain menyediakan energi yang ramah lingkungan, PLTN dapat menyerap banyak tenaga kerja baik saat pembangunan maupun operasional. Namun Pemerintah Indonesia harus benar-benar cermat apabila ingin membangun PLTN di Indonesia mengingat Indonesia dilalui jalur pertemuan tiga lempeng tektonik dan dikelilingi oleh cincin api.

Kesimpulan

Energi listrik telah dinikmati hampir seluruh rakyat Indonesia. Namun tidak semua rakyat Indonesia dapat menikmati energi listrik secara utuh. Pemerintah harus mewujudkan keadilan sosial dalam hal ketersediaan energi listrik bagi seluruh rakyat Indonesia. Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir memberikan jawaban atas kebutuhan energi listrik di Indonesia.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here