Pentingnya Mengapa Milenial Harus Melek Politik

0
367
Asrorun Ni’am Sholeh saat membuka Seminar Milenial Melek Politik, 4/12/2018 (Foto: ist)

JAKARTA, ANALISA INDONESIA – Milenial punya tantangan tersendiri dalam mengenal dunia politik di tengah perkembagan teknologi yang kian masif. Sebuah acara seminar bertajuk Seminar Milenial Melek Politik diselenggarakan oleh Asisten Deputi Kemitraan dan Penghargaan Pemuda, Deputi Bidang Pengembangan Pemuda, Kementerian Pemuda dan Olah Raga RI dihadirkan untuk menjawab berbagai tantangan yang dihadapi milienial kaitannya dengan peta politik masa depan.

Seminar Milenial Melek Politik berlangsung pada tanggal 4 Desember 2018 di Gedung Teater Wisma Kemenpora RI Jl. Gerbang Pemuda Jakarta Pusat.

Kegiatan Seminar ini dibuka oleh Deputi Pengembangan Pemuda Kemenpora RI Asrorun Ni’am Sholeh. Dalam kesempatan tersebut, Deputi menyampaikan bahwa pemuda dalam hal ini generasi milineal harus menegaskan komitmen kebangsaan karena arah peta politik dimasa yang akan datang ditentukan oleh generasi muda hari ini.

“Partisipasi politik generasi milineal dihantui oleh fenomena hoax yang membanjiri media sosial dimana generasi milineal ini sebagai konsumen utamanya,” tegas mantan ketua KPAI ini.

“Tanggung jawab politik integrasi bangsa sekarang ada di pundak generasi milineal ini,” tutup Niam dalam sambutannya.

Dalam laporannya Asisten Deputi Bidang Kemitraan dan Penghargaan Pemuda Drs. Wisler Manalu, MM menyampaikan bahwa animo generasi milineal untuk mengikuti kegiatan yang positif seperti hari ini sangat tinggi, hal ini ditunjukkan batas jumlah pendaftar melebihi target yang ditentukan panitia.

Peserta yang hadir dalam seminar ini berjumlah 200 orang yang terdiri dari pemilih yang berusia 16-30 tahun yang tersebar dari berbagai organisasi, perguruan tinggi dan Sekolah Menengah Atas yang tersebar di Jakarta.

Seminar Milenial Melek Politik menghadirkan pembicara Adi Prayitno, M.Si (Pengamat Politik yang juga dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta) dan Juri Ardiantoro, M.Si., Ph.D (Tenaga Ahli Utama Kedeputian V (bidang politik dan pengelolaan isu Polhukam, Kantor Staf Presiden) yang menyampaikan gagasan menangkal hoax dan menjadi pemilih cerdas.

Juga pembicara Hasanuddin Ali (peneliti partisipasi politik Alvara Institute) yang menyampaikan peran pemuda dalam membangun suasana kondusif pemilu 2019.

Inilah beberapa gagasan penting dalam Seminar Milenial Melek Politik :

1. Jumlah Calon Pemilih Muda Lebih Besar Dibanding Pemilu Sebelumnya

Partisipasi calon pemilih dan kualitas proses Pemilu adalah indikator utama suksesnya pelaksanaan Pemilu yang jujur dan adil. Pada kontestasi politik 2019 ada perubahan signifikan persentase calon pemilih, di mana jumlah calon pemilih muda cukup besar dibandingkan pemilu sebelumnya.

2. Jumlah Pemilih Pemula

Kementerian Dalam Negeri mencatat ada 5.035.887 orang pemilih pemula pada Pemilu 2019. Data ini masuk dalam Daftar Penduduk Pemilih Potensial Pemilu (DP4). Jumlah ini diperoleh dari hasil pengurangan total Daftar Penduduk Pemilih Potensial Pemilu (DP4) dan data penduduk wajib KTP elektronik.

Dalam laporan terbaru Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), sekitar 55% pemilih milenial/pemilih pemula (17-38 tahun) yang ikut dalam Pemilu 2019.

3. Pemilu Berkualitas Dengan Pelibatan Pemilih Muda

Pelibatan calon pemilih muda untuk mewujudkan Pemilu berkualitas dilakukan melalui pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Secara kuantitatif yakni suatu proses mendorong lebih banyak calon pemilih muda berpartisipasi dalam pemungutan suara. Kini partai-partai politik berupaya keras berebut simpati dan mempengaruhi preferensi politik mereka dengan berbagai cara. Tak dipungkiri, pandangan umum bahwa dunia “politik itu kotor” memengaruhi preferensi politik mereka sehingga muncul sikap apatis terhadap Pemilu.

Pada sisi lain, calon pemilih muda ini bisa dikategorikan massa mengambang (floating mass), di mana mereka tidak memiliki keterikatan atau berorientasi pada ideologi atau platform partai tertentu. Pemilu akan tercederai bila jumlah “golongan putih” dari calon pemilih muda tinggi, meski hasil pemilu sah namun akan menurunkan indeks demokrasi. Bagaimanapun Pemilu harus didukung oleh partisipasi tinggi calon pemilih.

Secara Kualitatif. Keterlibatan kaum muda dalam proses pemilu adalah sebuah pembelajaran demokrasi, di mana kaum muda nantinya adalah calon-calon pemimpin dan pemegang tampuk kepemimpinan nasional. Mentalitas mengedepankan kejujuran dan keadilan seyogianya menjadi kredo dalam berpolitik.

Menekankan proses menjadi pijakan penting untuk pemilih pemula, membentuk karakter mental dan moralitas mereka untuk menjunjung proses kontestasi politik jujur, bersih, transparan dan adil menjadi modalitas mereka nanti. Dengan pendekatan ini setidaknya calon pemilih pemula memiliki gambaran apa maksud dan tujuan Pemilu, mengapa harus berpartisipasi dan dampak pemilu itu sendiri bagi masa depan bangsa dan negara.

4. Pendidikan Politik Untuk Partisipasi Politik Bertanggung Jawab

Sosialiasi pemilu bagi pemilih pemula juga bentuk pendidikan kebangsaan dan menanamkan tanggung jawab di kalangan generasi muda. Mau tidak mau, mereka adalah penerima estafet kepemimpinan negara di masa depan.

Pendidikan politik adalah suatu upaya sadar yang dilakukan secara terencana, sistematis, dan dialogis dalam rangka mempelajari dan menurunkan berbagai konsep, simbol, hal -hal dan norma-norma politik dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Pendidikan politik mempunyai tujuan untuk mengubah dan membentuk tata perilaku seseorang agar sesuai dengan tujuan politik yang dapat menjadikan setiap individu sebagai partisipan politik yang bertanggung jawab.

Pendidikan politik berperan penting sebagai media penyampaian konsep politik yang memiliki tujuan akhir untuk membuat pemilih pemula menjadi lebih melek politik, pemuda yang sadarakan hak dan kewajiban sehingga dapat ikut serta dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Pendidikan politik sangat berperan penting untuk mewujudkan kehidupan yang demokratis. Kehidupan yang demokratis tidak hanya memerlukan peraturan perundang-undangan yang rigid, melainkan memerlukan sikap yang demokratis.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here