Proses Mengubah Minyak Jelantah Menjadi Bahan Bakar

0
280

Oleh : Melina Angelita Stevani
Penulis adalah mahasiswa Pendidikan IPA Universitas Negeri Medan

****

Minyak goreng merupakan salah satu bahan masak yang amat sering digunakan sehari-hari. Minyak goreng bekas pakai disebut minyak jelantah. Pengunaan berulang minyak jelantah sangat tidak dianjurkan sebab sangat berbahaya bagi kesehatan. Menurut Blumethal (1991), Mazzal dan Qi (1992), serta Tyagi dan Vabistha (1966) dalam Natalia dan Wasi (2017), selama proses penggorengan terjadi penurunan kualitas serta gizi makanan yang digoreng dan minyak gorengnya sehingga mempengaruhi kesehatan konsumen apalagi jika minyak goreng dilakukan secara berulangulang. Minyak goreng seperti ini memiliki sifat karsinogen (penyebab tumbuhnya sel kanker) sehingga tidak aman lagi untuk digunakan.

Pembuangan limbah minyak goreng bekas (jelantah) juga masih dilakukan secara sembarangan, biasanya dibuang di sungai, selokan atau langsung dibuang ke tanah. Hal ini pastilah akan mencemari lingkungan sekitar, berpotensi merusak kehidupan beberapa komunitas makhluk hidup di sungai dan merusak komponen kandungan tanah.

Lantas, langkah apa yang dapat dilakukan untuk menangani limbah minyak jelantah ini?  

Minyak jelantah termasuk minyak nabati yang dapat digunakan sebagai bahan bakar alternatif pengganti minyak tanah. Sebagian besar minyak nabati dapat digunakan untuk bahan bakar kompor baik yang menggunakan sumbu maupun kompor tekan ( I Ketut Gede Wirawan, 2014).

Minyak goreng bekas dapat digunakan sebagai bahan baku dalam proses pembuatan biodiesel. Minyak goreng bekas mengandung asam lemak bebas (Free Fatty  Acid,  FFA) yang dihasilkan dari reaksi oksidasi dan hidrolisis pada saat penggorengan. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk menghilangkan asam  lemak  bebas adalah mereaksikan asam lemak bebas dengan alkohol dengan bantuan katalis asam sulfat. Reaksi ini dikenal dengan esterifikasi. Diharapkan dengan pretreatment ini dapat menurunkan kadar asam lemak bebas yang terdapat dalam minyak goreng bekas sehingga kualitas biodiesel yang dihasilkan akan lebih baik. Reaksinya adalah sebagai berikut :

Gambar 1. Reaksi Esterifikasi

Transesterifikasi adalah suatu reaksi yang menghasilkan ester dimana salah satu pereaksinya juga merupakan  senyawa  ester. Jadi disini terjadi pemecahan senyawa trigliserida dan migrasi gugus alkil antara senyawa ester. Ester yang  dihasilkan  dari reaksi transesterifikasi ini disebut biodiesel. Reaksinya adalah sebagai berikut :

Gambar 2. Reaksi Transesterifikasi

Reaksi esterifikasi dan transesterifikasi merupakan reaksi bolak balik yang relatif lambat. Untuk mempercepat  jalannya reaksi dan meningkatkan hasil, proses dilakukan dengan pengadukan yang baik, penambahan katalis dan pemberian reaktan berlebih agar reaksi bergeser ke kanan. Secara umum faktor- faktor yang mempengaruhi reaksi transesterifikasi adalah pengadukan, suhu, katalis, perbandingan pereaksi dan waktu  reaksi (Darnoko and Cheriyan, 2000).

Minyak goreng bekas (450 ml) dimasukkan ke dalam labu leher tiga. Katalis asam sulfat (0,25% berat minyak) dimasukkan ke dalam minyak dan dipanaskan sampai suhu yang diinginkan (600C). Metanol (50 ml) ditempat terpisah juga dipanaskan sampai suhu yang diinginkan. Setelah suhu tercapai, metanol dimasukkan ke dalam minyak, pengaduk dihidupkan. Setelah 2,5 jam reaksi dihentikan kemudian diambil dan dianalisa kadar asam lemak bebasnya (FFA).

KOH (1% berat minyak) dilarutkan dalam metanol (100 ml) dan  dipanaskan sampai suhu yang diinginkan (600C). Produk esterifikasi (400 ml) dipanaskan dalam labu leher tiga dan ditambahkan larutan metoksida (metanol-KOH). Pengaduk dinyalakan.  Setelah 1 jam reaksi dihentikan.Produk didiamkan dan ditimbang berat biodiesel yang dihasilkan.

Biodiesel yang dihasilkan terlebih dahulu dicuci dengan larutan garam jenuh sampai pH netral. Biodiesel yang sudah netral selanjutnya di analisa sifat fisik dan kimianya meliputi densitas, viskositas,  kadar  air, bilangan asam, titik nyala, titik tuang, komposisi senyawa penyusun dan angka csetana.

Merk biodiesel ini adalah BioTech B100. Biodiesel ini akan mengatasi ketergantungan bahan bakar berbahan dasar minyak bumi. Selain itu, biodiesel ini juga ramah terhadap lingkungan. Hanya saja saat ini pemasarannya masih terhambat sebab kurangnya subsidi dari pemerintrah. Hal ini berdampak pada harganya yang lebih mahal dari solar dang membuat masyarakat beranggapan bahwa solar lebih baik.

Sumber:

Aziz, I., Nurbayti, S., & Ulum, B. (2011). Pembuatan produk biodiesel dari minyak goreng bekas dengan cara esterifikasi dan transesterifikasi. Jurnal Kimia Valensi2(3).

Blumethal, M.M. 1991. A New Lost at The Chemistry and Phyics of Deep – Fat Fring. J.F Tech 45 (2) 68-71 ; 94ng.

Darnoko, D and Cheryan, M, 2000, “Kinetics of Palm Oil Transeterification in a Batch Reactor”, J. Am.Oil Chem.Soc., 77, 1263-1267.

Mujadin, A. Jumianto, S. Puspitarini, R.L.20 14. Pengujian Kualitas Minyak Gore – ng Berulang Menggunaka Metode Uji Viskosit dan Perubahan Fisis. Jurnal Al-Azhar Indonesia SeSSains dan Teknologi, 2(4), (229- 233).

Setyaningsih, N. E., & Wiwit, W. S. (2018). PENGOLAHAN MINYAK GORENG BEKAS (JELANTAH) SEBAGAI PENGGANTI BAHAN BAKAR MINYAK TANAH (BIOFUEL) BAGI PEDAGANG GORENGAN DI SEKITAR FMIPAUNNES. Rekayasa: Jurnal Penerapan Teknologi dan Pembelajaran15(2), 89-95.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here