Sastra Di Zaman Milenial

0
699
ilustrasi (foto: shoutmeloud.com

Oleh : Rutven Sisna Sinurat
Penulis adalah mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Medan

***

Dalam bahasa Indonesia, kata ‘sastra’ biasa digunakan untuk merujuk kepada “kesusastraan” atau sebuah jenis tulisan yang memiliki arti atau keindahan tertentu. Sastra adalah ungkapan ekspresi manusia berupa karya tulisan atau lisan berdasarkan pemikiran, pendapat, pengalaman, hingga ke perasaan dalam bentuk yang imajinatif, cerminan kenyataan atau data asli yang dibalut dalam kemasan estetis melalui media bahasa.

Sumardjo & Saini (1997: 3) berpendapat bahwa sastra adalah ungkapan pribadi manusia yang berupa pengalaman, pemikiran, perasaan, ide, semangat, keyakinan dalam suatu bentuk gambaran konkret yang membangkitkan pesona dengan alat bahasa.

Dalam arti kesusastraan, sastra bisa dibagi menjadi sastra tertulis atau sastra lisan (sastra oral). Di sini sastra tidak banyak berhubungan dengan tulisan, tetapi dengan bahasa yang dijadikan wahana untuk mengekspresikan pengalaman atau pemikiran tertentu.

Karya sastra adalah ungkapan pribadi manusia yang berupa pengalaman, pemikiran, perasaan, ide, semangat, keyakinan dalam suatu bentuk gambaran kehidupan, yang dapat membangkitkan pesona dengan alat bahasa dan dapat dilukiskan dalam bentuk tulisan.

Seiring berkembagnya zaman, semakin banyak anak muda yang beralih dari sastra karena harus menikmati karya sastra dari buku, buku dan buku yang terasa sangat membosankan.  Akan seiring perkembangan teknologi seperti memutar balik arah pandang anak muda kembali ke sastra. Misalnya seperti sepenggal puisi yang banyak diunggah di berbagai akun Instagram, tak perlu memperhatikan bagaimana bahasa yang digunakan, asalkan sesuai dengan perasaan si pembaca saja maka puisi tersebut akan begitu cepat melejit popularitasnya atau katakan saja viral.  

Dewasa ini, semakin berkembangnya teknologi maka popularitas sastra di era milenial ini semakin baik. Hal ini dikarenakan kreatifitas anak-anak milenial yang semakin mengembagkan karya sastra melalui teknologi sebagai media pengembagan popularitas keberadaan sastra. Hal ini terbukti dari semakin bayaknya karya-karya sastra lisan maupun tulisan yang dibuat dalam bentuk digitalisasi sastra.

Wadah-wadah pendigitalisasian sastra yang digunakan saat ini yaitu berupa aplikasi youtube yang bisa dijadikan sebagai wadah untuk mempublikasikan dongeng secara lisan, dramatisasi puisi dan lain sebagainya. Saat ini juga banyak akun di Instagram yang mempublikasikan karya-karya sastra lisan berupa musikalisasi puisi singkat dan sebagainya. Selanjutnya wattpad, aplikasi ini merupakan aplikasi untuk membaca novel yang saat ini sangat popular di kalangan pecinta novel. Aplikasi ini juga menyediakan berbagai macam genre yang bisa dinikmati bahkan pengguna aplikasi ini bisa bisa digunakan untuk menulis novel sendiri dan langsung dipublikasikan di wattpad tersebut.   

Dari banyaknya perkembangan sastra ke digital maka jurang pemisah antara penulis dan penikmat sastra semakin sedikit. Karena berbagai karya yag diciptakan bisa dengan mudah dinikmati , akan tetapi tentunya sesuai dengan kesepakatan penulis dalam mempublikasikan karyanya. Misalnya karya sastra dalam bentuk E-Book yang harus dibayar dulu agar bisa didapatkan misallnya seperti novel karya Boy Chandra dan penulis lainnya.

Dari penjelasan-penjelasan diatas , mungkin sastra saat ini jadi beralih ke sastra yang lepas dari syarat jika hanya menilai sastra dari keindahan dan tergantung perasaan pembaca saja. Akan tetapi, baiknya biarkan anak-anak muda belajar mulai dari hal paling sederhana tentang sastra yaitu keindahan, maka seiring berjalannya waktu mereka akan lebih sadar betapa misteriusnya satra itu dan akan menelisisk lebih dalam mengenai sastra .

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here