Siapakah Capres Pilihan Milenial?

0
258

JAKARTA, ANALISA INDONESIA – Suara milenial sangat menentukan dalam pemilihan Presiden 2019 yang akan datang. Data KPU menunjukkan bahwa suara kaum muda cukup potensial.

Berulangkali pula, pasangan capres/cawapres, terutama antara Joko Widodo dan Sandiaga Uno melakukan pendekatan ke kelompok milenial. Mereka berdua sama-sama melakukan kegiatan yang secara tidak langsung berupaya meraup suara anak-anak muda.

Karena itu, Hicon Law & Policy Strategic melakukan kajian mengenai calon presiden pilihan milenial.

Siapa Itu Milenial?

Dilihat dari kacamata akademis, pengertian milenial ternyata tidak tunggal. Ada beberapa indikator. Misalnya, pertama, usia. Generasi milenal disebut berusia antara 17-29 tahun. Centre for Strategic and Internasional Studies (CSIS) menggunakan indikator usia dalam risetnya pada 2017 untuk menyebut definisi milenial. Kedua, perilaku. Lembaga Alvara mentasbihkan milenial dengan kategori mereka yang lahir antara tahun 1980-2000 dengan ciri perilaku yang tak bisa lepas dari internet, menyukai kecepatan, sering liburan, suka berbagi dan bahkan tak peduli dengan politik.

HICON Law & Policy Strategic menggunakan indikator usia atau umur dalam menganalisis potensi pendulangan suara di pilpres. HICON mengindikasi umur 17-30 tahun untuk menyebut milenial.

Jumlah Pemilih Milenial

Berdasarkan data KPU, jumlah pemilih tetap (DPT) pilpres 2019 sebanyak 192.828.520. Sementara dari angka tersebut, pemilih berusia 17-30 tahun berjumlah 60.346.070. Artinya, jumlah pemilih milenial adalah 31,29 persen.

Capres Hanya Menyasar Milenial Perkotaan

Dalam penelitian Hicon, rupanya tim kampanye capres/cawapres, baik Jokowi-Amin maupun Prabowo-Sandi bekerja dengan mengasosiasikan pemilih milenial adalah para pemilih yang berada di perkotaan saja. Hal ini dapat dilihat dari perilaku tim kampanye masing-masing tim kampanye capres/cawapres.

Padahal, dalam penelitian Hicon, pemilih milenial lebih banyak yang tinggal di pedesaan yaitu sebanyak 73,53 persen milenial berada di pedesaan di 25 Provinsi.

Menurut HICON, metode yang bisa dipergunakan untuk mendekati milenial terbagi dalam dua karasteriktik yang berbeda. Untuk milenial perkotaan dimana penetrasi internet sudah memadai, maka kedua pasangan calon bisa menggunakan media ini. Hal yang selama ini sudah dilakukan oleh kedua pasangan calon beserta tim kampanyenya masing-masing.

Yang menjadi persoalan adalah penetrasi yang musti dilakukan oleh kedua pasangan calon untuk milenial pedesaan. Milenial di perdesaan tidak selalu menggunakan internet sebagai media berkomunikasi. Konteks kekerabatan menjadi fokus yang juga turut diperhitungkan. Milenial pedesaan, selayaknya karasteriktik pedesaan di banyak wilayah di Indonesia, memiliki rasa kekerabatan yang kental. Proses adaptasi yang mereka lakukan masih terorientasi pada budaya dan adat setempat. Konsentrasi tim capres cawapres lebih menyasar ke budaya setempat, disinyalir akan berdampak positif. Bentuknya bisa dilakukan dengan beragam cara. Pada intinya, identitas kebudayaan milenial pedesaan bisa diteguhkan secara nyata.

Kemana Suara Milenial?

Jika Pilpres Digelar Sekarang, Pemilih Milenial akan Memilih Siapa?

Rujukan jawaban pertanyaan tersebut akan menggunakan dimensi sosial-kualitatif, bukan kuantitas. Tim kampanye capres/cawapres belum melakukan upaya maksimal dalam meraih simpati pemilih milenial, baik perkotaan maupun pedesaan.

Kekerabatan dan situasi adat serta cakupan informasi menjadi salah satu kunci bagaimana pemilih milenial pedesaan menentukan pilihannya. Dengan asumsi bahwa masing-masing tim kampanye capres/cawapres belum maksimal meraih simpati milenial, maka petahana jauh lebih berpeluang untuk dipilih.

Ada beberapa alasan. Di antaranya adalah informasi yang sampai di pelosok, petahana memiliki jangkauan yang lebih luas. Beberapa program pemerintah, terlepas dari kontroversi yang meliputinya, jauh lebih dikenal sebagai program petahana. Dengan demikian, jika pilpres digelar sekarang, maka pemilih milenial pedesaan akan lebih memilih capres/cawapres Jokowi-Amin daripada Prabowo-Sandi.

Program pemerintah yang selama ini di cukup dikenal adalah dan langsung menyentuh milenial pedesaan adalah beragam beasiswa yang telah ditawarkan. Program rehabilitasi sekolah atau ruang kelas, anggaran kesehatan dan dana BOS, terlepas dari tepat tidaknya sasaran, membuat nama petahana cukup dikenal. Sebagai petahana, situasi seperti ini memang menjadi hal yang menguntungkan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here