Singapura Resesi? Bagaimana dengan Indonesia?

0
277

Oleh : Muhammad Sanjaya Putra
Penulis adalah Mahasiswa D3 Akuntansi Politeknik Keuangan Negara Stan (PKN STAN)

***

Singapura menjadi negara maju satu-satunya di kawasan asia tenggara. Hingga kemudian pandemi Covid 19 melahirkan cerita baru bagi negara tersebut. Singapura baru saja menghebohkan dunia dengan berita bahwa negara yang berbatasan langsung dengan Indonesia ini, mengalami resesi.

Berdasarkan data yang telah disampaikan oleh Kementerian Perdagangan dan Industri Singapura (MTI) disebutkan bahwa pada kuartal I tahun 2020 ekonomi  negara tersebut telah mengalami kontraksi sampai dengan 2,2% secara tahunan dan pada kuartal II tahun ini ekonomi Singapura juga mengalami kemerosotan sekaligus kontraksi hingga 41,2%.

Bahkan jika dilihat secara tahunan ekonomi Singapura mengalami kontraksi sampai dengan 12%. Hal ini disebabkan karena pemberlakuan peraturan penguncian wilayah (lockdown) dalam mencegah terjadinya penularan virus corona yang saat ini sedang melanda seluruh dunia, sehingga perekonomian negara Singapura tidak berjalan dengan baik.

Berbicara tentang resesi, mari kita ketahui lebih jauh tentang apa itu resesi ?

Dalam ilmu ekonomi makro, resesi merupakan kondisi dimana ketika produk domestik bruto (GDP) menurun atau ketika pertumbuhan ekonomi riil bernilai negatif selama dua kuartal atau lebih dalam satu tahun.

Resesi dapat mengakibatkan penurunan secara bersamaan pada seluruh kegiatan perekonomian seperti lapangan kerja, investasi, dan keuntungan perusahaan. Selain itu resesi juga sering dikaitkan dengan masalah turunnya harga-harga (deflasi), ataupun sebaliknya, meningkatnya harga-harga secara tajam (inflasi) dalam proses yang kita kenal sebagai stagflasi.

Mengutip dari Forbes, resesi dapat diartikan sebagai penurunan yang signifikan dalam kegiatan ekonomi yang berlangsung selama berbulan-bulan atau bahkan juga bias bertahun-tahun.

Menurut para ahli, suatu negara bias dikatakan mengalami resesi ketika ekonomi suatu negara tersebut mengalami produk domestik bruto (PDB) negatif, jumlah pengangguran semakin meningkat, dan kontraksi ukuran pendapatan dan manufaktur untuk periode waktu yang cukup panjang.

Lalu bagaimana dengan perekonomian di Indonesia akibat pandemic ini ?

Berdasarakan data yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik Indonesia (BPS) pada kuartal II 2020 perekonomian Indonesia mengalami kontraksi atau negatif hingga mencapai 5,32% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, lebih buruk dari proyeksi pemerintah negatif sebesar 4,32%.Perekonomian Indonesia juga tercatat negatif 4,19% dibandingkan kuartal I 2020 dan minus 1,62% pada sepanjang semester pertama tahun ini dibandingkan semester I 2019.

Mengapa perekonomian Indonesia mengalami kontraksi atau negaitf hingga mencapai angka 5,32% ? Hal ini sama seperti negara Singapura sebelumnya, dengan adanya pemberlakuan peraturan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Indonesia dalam mencegah menyebarnya wabah covid-19 saat ini sehingga perekonomian Indonesia menjadi terhambat dan melemah.

Apakah Indonesia dapat dikatakan sudah mengalami resesi ?

Menurut Menteri Keuangan Sri Mulyani, saat ini kondisi perekonomian Indonesia belum dapat diartikan sebagai bentuk resesi teknikal, meskipun perekonomian mengalami kontraksi atau negatif hingga mencapai 5,32%.

Dalam konferensi pers daring Bersama KKSK pada Rabu (5/8/2020) lalu, Menteri Kuangan Sri Mulyani juga menyatakan bahwa jika dilihat secara yaer on year (yoy), belum dapat dikatakan resesi secara teknikal, sebab ini pertama kalinya Indonesia mengalami kontraksi. Pertumbuhan quarter-to-quarter biasanya yang dilihat resesi adalah secara yoy dua kurtal berturut-turut.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here