Tokoh Yang Diusulkan Menjadi Pahlawan Nasional

0
1103

JAKARTA, ANALISA INDONESIA – Untuk mendapatkan gelar Pahlawan Nasional tidaklah mudah. Ada banyak tahap yang mesti dilalui mulai dari pengajuan usulan, kemudian dilanjutkan tahap seleksi administrasi di kementerian sosial.

Pada tahap seleksi administrasi, ada 17 item berkas yang harus dipenuhi. Setelah Verifikasi lengkap maka usulan akan disampaikan oleh Kementerian Sosial ke Presiden RI melalui Dewan Gelar. Dewan Gelar ini terdiri dari sejarahwan, akademisi dan pemerintah terkait dalam hal ini Kementerian Pertahanan RI.

Kemudian barulah presiden mengumumkan tokoh yang mendapatkan gelar pahlawan nasional setiap tanggal 17 Agustus tiap tahunnya.

Berikut beberapa tokoh yang diusulkan untuk menjadi Pahlawan Nasional di tahun 2019.

Sultan Himayatuddin

Oputa Yikoo yang bernama asli La Karambau dengan gelar kesultanan, Himayatuddin Muhammad Saidi merupakan Sultan Buton ke-20 yang memerintah pada tahun 1751-1752.

Beliau merupakan satu-satunya Sultan Buton yang menjabat menjadi sultan dua kali masa jabatan.

Oputa Yikoo adalah Sultan yang paling dibenci dan dimusuhi oleh kompeni Belanda, Tokoh yang memiliki perawakan tegak, tinggi dan Kesatria dan tak pernah berkompromi menghadapi Belanda menjadi alasan Belanda terus memburu dan ingin membunuhnya.

Ketika Belanda mengirimkan pasukan ke pusat pertahanan untuk menyerang kerajaan Buton yang berlabuh di pelabuhan Baubau, pertempuran dan peperangan pun tidak dapat terhindarkan.

Oputa Yi Koo menyambut serangan Belanda dengan gagah berani, dan pantang menyerah serta meninggalkan Tahta Kesultanannya.

Dengan jiwa Ksatria Oputa Yi Koo mengobarkan api perlawanan demi mempertahankan tanah Buton dari Belanda, kisah itu terjadi ratusan tahun yang lalu.

Sultan Himayatuddin Muhammad Saidi konsisten melakukan perlawanan terhadap kekuasaan Belanda selama 24 tahun, hingga akhir hayat di puncak Gunung Siontapina dan dimakamkan di Lelemangura kelurahan melai.

La Karambau telah diusulkan mendapat gelar pahlawan nasional sejak tahun 2011 lalu. Jika akhirnya mendapatkan gelar Pahlawan Nasional, beliau akan menjadi pahlawan nasional pertama dari Sulawesi Tenggara.

Pue Lasadindi (Mangge Rante)

Pue Lasadindi dikenal juga dengan julukan Mangge Rante. Ia merupakan tokoh asal Donggala Sulawesi Tengah. Pue Lasadindi merupakan ulama berkarakter.

Masyarakat percaya, Mangga Rante memiliki ilmu gaib yang sangat tinggi dan kemampuan mistiknya luar biasa mampu menerawang kejadian di masa yang akan datang.

Pue Lasadindi mendapat julukan mangge rante karena setiap dimasukkan ke dalam penjara ia bisa keluar lagi dan begitu seterusnya karena ia kadang dilihat kadang tidak, sehingga tangannya dirante ini kekeramatan yang dimiliki oleh Pue Lasadindi.

Haliadi Sadi dan Ismail Syawal dari Pusat Penelitian Sejarah UNTAD menuliskan dalam buku “Sejarah Perjuangan Pue Lasadindi di Donggala” (2016) menuliskan perjalanan Lasadindi sebagai tokoh Partai Sarikat Islam wadah perlawanan pada pemerintah kolonial.

Mr. Gele Harun

Gele Harun lahir di Sibolga, 6 Desember 1910. Meski berdarah Batak, Gele Harun sudah tidak asing lagi dengan Lampung sebab ayahnya, Harun Al-Rasyid Nasution yang merupakan seorang dokter sejak dahulu telah menetap dan memiliki tanah yang sangat luas di Tanjungkarang Timur.

Beliau adalah seorang hakim, pengacara dan politikus Indonesia. Ia adalah Residen Lampung dari tahun 1950 hingga 1955. Ia dinobatkan sebagai Pahlawan Daerah Lampung pada 10 November 2015.

Perjuangannya menghadapi Belanda terlihat pada tahun 1945. Ia memulai perjuangannya dari Angkatan Pemuda Indonesia (API) dengan menjadi ketuanya. Tetapi aktivitas itu terhenti saat ia ditugaskan menjadi hakim di Mahkamah Militer Palembang, Sumatera Selatan tahun 1947 dengan pangkat letnan kolonel (tituler).

Dengan adanya ultimatum dari Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Hubertus van Mook yang mengharuskan seluruh tentara Indonesia termasuk hakim militer angkat kaki dari Palembang, Gele Harun memutuskan kembali ke Lampung dan bergabung kembali dengan API hingga ikut mengangkat senjata saat Agresi Militer Belanda II tahun 1948.Mohammad Tabrani
Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan Kemendikbud mengusulkan nama almarhum

Mohammad Tabrani

M Tabrani, lahir di Pamekasan (Madura), 10 Oktober 1904 dengan nama lengkap Mohammad Tabrani Soerjowitjitro – mulai bekerja pada harian Hindia Baru. Dalam kolom Kepentingan yang ia asuh di lembaga pers itu, pada 10 Januari 1926, dimuatlah tulisan dengan judul “Kasihan”. Tulisan itu muncul sebagai gagasan awal untuk menggunakan nama bahasa Indonesia.

Konsep kebangsaan yang muncul dari gagasan Mohammad Tabrani tersebut merujuk pada kondisi nyata keberagaman manusia (orang-orang Indie) yang masih bersifat kedaerahan/kesukuan dan masih mengutamakan kepentingan suku atau pun daerahnya masing-masing sebagaimana terbentuknya organisasi-organisasi pemuda pada masa itu.

Sayangnya, usulan M Tabrani ditentang Mohammad Yamin yang lebih mengusulkan bahasa Melayu sebagai bahasa persatuan.

Atas perbedaan pendapat antara Yamin dan Tabrani tersebut, keputusan terakhir pada Kongres Pemuda Indonesia pertama (1926) ditunda sampai kedua (1928).

Sang penggagas bahasa persatuan Indonesia wafat pada 12 Januari 1984. Makam almarhum di TPU Tanah Kusir merupakan situs memori untuk mengenang jasa-jasa Mohammad Tabrani.

Tanda jasa Perintis Kemerdekaan telah dianugerahkan oleh Kementerian Sosial Republik Indonesia.

Letkol Moch. Sroedji

Usulan pertama kali digagas oleh Yayasan Sroedji yang mengajukan surat pengusulan gelar pahlawan pada Dinsos, lalu diadakan seminar tentang Letkol. Mochammad Sroedji.

Letkol Moch. Sroedji telah memimpin perang pada Resimen 39 dan 40. Beliau sangat gagah dan berani. Perjuangannya bukan hanya di Jember, tetapi di sejumlah kabupaten lain termasuk di Lumajang, Malang, serta beberapa daerah lain.

Mochammad Sroedji saat itu, keluar masuk hutan untuk mencari tempat strategis yang menjadi penengah antara Jember, Banyuwangi, Bondowoso, dan Situbondo.

Beliau memilih hutan Sempolan. Namun saat hampir masuk hutan, M. Sroedji ketahuan penjajah Belanda. Kemudian beliau gugur itu sebagai pahlawan.

Abdoel Moies Hassan

Usulan gelar pahlawan Abdoel Moies Hassan digagas oleh Lembaga Studi Sejarah Lokal Komunitas Samarinda Bahari (Lasaloka-KSB).

Abdoel Moies Hassan merupakan tokoh besar di Kaltim. Turut berkiprah memperjuangkan daerah pada masa penjajahan. Beliau pernah menjabat sebagai gubernur Kaltim periode 10 Agustus 1962 hingga 14 September 1966.

Pada tahun 1940, ia mendirikan Roekoen Pemoeda Indonesia (Roepindo) dan menjadi ketuanya. Bersama A.M. Sangadji, ia mendirikan lembaga pendidikan bernama Balai Pengadjaran dan Pendidikan Ra’jat pada tahun 1942.

Ia bergabung dalam Panitia Persiapan Penyambutan Kemerdekaan Republik Indonesia (P3KRI) untuk mewujudkan Proklamasi Negara Indonesia di Samarinda tahun 1945 dan mendirikan Ikatan Nasional Indonesia (INI) Cabang Samarinda yang bertujuan menentang pendudukan Belanda di Samarinda setahun setelahnya. Tahun 1947 ia menjadi ketua Front Nasional sebagai koalisi organisasi yang mendukung RI dan menentang federasi yang dibentuk Belanda.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here