Inilah Istilah Bahasa Indonesia Yang Digunakan DKI Jakarta Untuk Mengganti Serapan Bahasa Asing

0
312
Gubernur Provinsi DKI Jakarta menerima Penghargaan Reksa Bahasa dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) pada Senin, (10/12/2018). Foto (Facebook/Anies Baswedan)

JAKARTA, ANALISA INDONESIA – Dibawah kepemimpinan Anies Baswedan, Pemerintah DKI Jakarta melakukan berbagai terobosan untuk mengganti sejumlah istilah asing. 

Atas terobosannya tersebut, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta meraih penghargaan Reksa Bahasa, dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).

Penghargaan ini diterima langsung oleh Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan di Gedung Samudra Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Pulogadung, Jakarta Timur.

“Saya megucapkan terima kasih kepada Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbud yang sudah memberikan penghargaan ini. Terima kasih apresiasi teman-teman di Badan Bahasa yang terus bekerja mengembangkan bahasa,” ujar Anies Baswedan, Senin (10/12/2018).

Sesuai dengan namanya, Reksa yang bermakna penjaga, penghargaan Reksa Bahasa diberikan kepada pemerintah yang telah mengembangkan dan menjaga penggunaan bahasa Indonesia dalam sejumlah program.

Berikut Kata Bahasa Indonesia yang dikembangkan oleh Pemerintah DKI Jakata

Jak Lingko

Kata Lingko digunakan untuk menyebutkan jejaring rute integrasi transportasi antarmoda di Jakarta. Jak Lingko adalah program transportasi satu harga untuk satu kali perjalanan. Program ini diluncurkan oleh Provinsi DKI Jakarta saat Anies Baswedan menjabat sebagai Gubernur DKI.

Penamaan Jak Lingko diberikan untuk program OK Trip yang dulu disebutkan saat masa kampanye.

Menurut Anies Baswedan, lingko merupakan kosakata baru dalam bahasa Indonesia yang diserap dari bahasa Manggarai, Nusa Tenggara Timur.

Lingko berarti sistem terintegrasi seperti jejaring yang dulu digunakan untuk membangun distribusi air sawah di Manggarai.

Moda Raya Terpadu (MRT)

Alih-alih menyebut mass rapid transit, Pemerintah DKI Jakarta memilih untuk memberi kepanjangan Moda Raya Terpadu untuk menyebut MRT.

Tidak hanya MRT yang mendapatkan kata dalam bahasa Indonesia. Anies Baswedan juga menyebutkan bahwa dalam sistem MRT telah digunakan 54 kosa kata baru utk seluruh peristilahannya. Misalnya “Add Value Machine” dinamai “Mesin Penambah Saldo”.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here