Breaking

Bahaya Disinfektan Bagi Tubuh dan Lingkungan

Oleh : Grace Angeline Manurung
Penulis adalah mahasiswa Bilingual Pendidikan IPA UNIMED

***

COVID 19 telah menjadi wabah global yang melemahkan seluruh sektor kehidupan. Dilansir who.int, secara global, pada pukul 15:36 CEST, 9 Oktober 2020, ada 36.361.054 kasus COVID-19 yang dikonfirmasi, termasuk 1.056.186 kematian, dilaporkan ke WHO.

Covid-19 yang saat ini sedang mewabah di seluruh dunia  telah membuat masyarakat khawatir, sehingga melakukan berbagai upaya untuk melindungi diri, keluarga serta lingkungan agar tidak  terinfeksi Covid-19.

Sekalipun saat ini tengah berlaku era new normal di mana sebagian daerah diperbolehkan beraktifitas tetapi dengan gaya hidup yang baru yaitu dengan penerapan protokol kesehatan dalam semua aktifitas yang dilakukan. Adapun  beberapa upaya yang dilakukan masyarakat agar tidak terinfeksi oleh covid-19 diantaranya adalah dengan  memakai masker, menjaga jarak, tidak berkerumun, menjaga daya tahan tubuh, menjaga kebersihan dan melakukan disinfeksi di rumah, lingkungan  serta tempat-tempat umum.     

Pencegahan secara swadaya dilakukan, salah satunya dengan penyemprotan disinfektan. Bukan hanya penyemprotan ke lingkungan sekitar tetapi juga ke tubuh manusia, lewat bilik disinfektan.

Bahaya Disinfektan bagi Tubuh

Bahan disinfektan pada dasarnya adalah bahan berbahaya, bukan hanya bagi tubuh tapi juga untuk lingkungan.  Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengingatkan bahwa disinfektan tak boleh disemprotkan langsung ke badan seseorang.

“Jangan menyemprot disinfektan langsung ke badan seseorang, karena hal ini bisa membahayakan. Gunakan disinfektan hanya pada permukaan benda-benda,” cuit WHO Indonesia. Menurut WHO, menyemprot bahan-bahan kimia itu dapat membahayakan jika terkena pakaian atau selaput lendir seperti mata atau mulut.

“Ingat alkohol dan klorin bisa berguna sebagai disinfektan pada permukaan, tetapi hanya digunakan sesuai dengan petunjuk penggunaannya,” kata WHO. Menurut WHO, disinfektan hanya membunuh virus yang berada di permukaan benda, dan tak dapat membunuh virus yang sudah terlanjur masuk ke dalam tubuh manusia.      

Sekolah Farmasi ITB menulis cairan disinfektan yang digunakan melawan Covid-19 dan digunakan di bilik disinfektan umumnya diluted bleach (larutan pemutih/natrium hipoklorit), klorin dioksida, etanol 70 persen. Selanjutnya kloroksilenol, electrolyzed salt water, amonium kuarterner (seperti benzalkonium klorida), glutaraldehid, hidrogen peroksida (H2O2) dan sebagainya.

Bahan-bahan kimia ini berbahaya jika mengenai kulit atau tubuh manusia. Bahkan bahan disinfektan inhalasi gas klorin (Cl2) dan klorin dioksida (ClO2) dapat mengakibatkan iritasi parah pada saluran pernapasan menurut WHO. Jika menggunakan larutan hipoklorit pada konsentrasi rendah secara terus menerus dalam jangka waktu lama, maka dapat mengakibatkan iritasi kulit dan kerusakan pada kulit. Sementara penggunaan pada konsentrasi tinggi dapat mengakibatkan kulit terbakar parah.        

Walaupun data masih terbatas, inhalasi hipoklorit (OCl–) dapat menimbulkan efek iritasi ringan pada saluran pernapasan. Bahaya dari bahan disinfektan electrolyzed salt water tak jauh beda dengan klorin, klorin dioksida dan larutan hipoklorit. Sedangkan bahan kloroksilenol (bahan aktif cairan antiseptik komersial) yang juga digunakan sebagai salah satu disinfektan dapat meningkatkan resiko tertelan atau secara tidak sengaja terhirup. Hasil studi EPA terkait bahan kimia ini pada hewan menunjukan bahwa kloroksilenol menyebabkan iritasi kulit ringan dan iritasi mata parah. Bahkan bisa menimbulkan kematian pada dosis tinggi.   

Bahaya Disinfektan Bagi Lingkungan

Adapun dampak negatif dari penyemprotan disinfektan bagi lingkungan di mana  bahaya ini akan muncul di kemudian sehingga  harus tetap dipertimbangkan karena semua bahan kimia yang tumpah atau sengaja dibuang ke lingkungan, baik lewat udara, air atau tanah akan mengalami pergerakan yang saling bertautan.

Ketika disinfektan disemprotkan ke udara, maka dia akan jatuh ke tanah bila ada hujan turun, maka ada sebagian yang terbawa melalui air hujan atau meresap ke dalam tanah.

Menurut pendapat Guru Besar Ilmu Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Prof. Dra. Wega Trisunaryanti, mengatakan bahwa penyemprotan disinfektan secara berlebihan bisa mematikan bakteri baik yang ada.

Disinfektan dengan kandungan alkohol 70 persen bisa menyebabkan bakteri mati. Tetapi, tidak hanya bakteri jahat yang mati, bakteri baik yang bermanfaat juga ikut mati. Misalnya, bakteri pembusuk sampah yang berfungsi untuk menguraikan sampah yang ada. Jika bakteri tersebut mati, maka dikhawatirkan sampah-sampah yang ada sulit untuk terurai. Di mana hal ini akan mengganggu keseimbangan lingkungan. Bahkan, mikrorganisme yang bertugas menguraikan bahan kimia disinfektan tadi juga ikut mati dan punah, sehingga disinfektan akan lebih lama berada di lingkungan.       

Seperti yang telah dijelaskan mengenai dampak yang ditimbulkan disinfektan bagi tubuh dan lingkungan, maka dari itu penyemprotan disinfektan harus dilakukan secara berkala dan tidak berlebihan agar pencegahan terhadap Covid-19 dapat terus dilakukan tanpa harus menimbulkan dampak yang justru lebih besar bagi manusia dan lingkungan.

Solusi aman untuk pencegahan pemaparan Covid-19 saat ini sesuai rekomendasi WHO adalah dengan cuci tangan menggunakan sabun (minimal 20 detik), mandi serta mengganti pakaian setelah melakukan aktivitas dari luar atau dari tempat yang terinfeksi tinggi, serta menerapkan physical distancing (minimal 1 meter).

6 thoughts on “Bahaya Disinfektan Bagi Tubuh dan Lingkungan”

Leave a Comment