Breaking

Bank Digital di Tengah Gig Ekonomi yang Menyasar Milenial dan Gen-Z

Bank digital semakin marak digunakan di Indonesia. Hadirnya bank digital di Indonesia sudah dimulai sejak 2016 lalu. Lalu sejurus kemudian diikuti dengan hadirnya beragam bank digital lain, baik yang berasal dari perbankan swasta maupun bank milik BUMN.

Lalu apa perbedaan antara bank digital dan bank konvensial? Secara sederhana, walau perbankan biasa menggunakan pula sistem perbankan digital, tetapi dapat dikatakan bank digital menawarkan produk dan layanan perbankannya secara online.

Bank digital karena semua layanannya dilakukan secara online, maka mereka menawarkan aplikasi manajemen keuangan yang unik, termasuk aplikasi untuk mengatur perputaran uang bulanan bagi nasabahnya.

Karena membutuhkan proses adaptasi teknologi informasi dalam mengakses layanannya, sehingga bisa dikatakan, bank digital menyasar segmen generasi milenial dan generasi-Z sebagai pasarnya. Tak heran jika iklan, desain produk hingga branding mereka menggunakan desain  yang sesuai dengan karakter generasi milenial dan gen-Z.  

Salah satu desain bank digital yang menyasar generasi muda (milenial dan Gen-Z) bisa kita lihat pada Bank Raya.  Bank yang merupakan anak perusahaan bank BUMN ini, yaitu Bank Rakyat Indonesia (BRI) lahir di tengah tumbuhnya Gig ekonomi. Salah satu contoh penting maraknya gig economy di tengah Revolusi Industri 4.0 adalah banyak pekerja freelance dan pekerja independen.

Cara Bank Raya menggaet pasar anak muda ini dengan membuat desain yang sesuai dengan karakter generasi Z yang independent dan penuh semangat. Hal ini tercermin dari desain yang tampak pada beragam aset media Bank Raya.  Logo maupun maskot sangat mencermin karakter generasi Z dan milenial.

Harus diakui jika generasi milenial dan gen-Z merupkan dua generasi yang digital savy atau generasi yang nyaman dengan teknologi. Termasuk dalam layanan perbankan, karena itu hadirnya bank digital menjadi salah satu kebutuhan bagi mereka. Jumlah pasarnya bisa dibilang sangat besar. Bahkan Indonesia menjadi negara dengan bonus demografi karena besarnya jumlah penduduk usia muda.

Mengacu data BPS (Hasil Proyeksi Penduduk Interim 2020–2023 (Pertengahan tahun/Juni)), jumlah penduduk Indonesia berusia 15-19 tahun sebesar 22.200 juta jiwa. Adapun penduduk berusia 20-24 tahun sebesar 22.577 juta jiwa dan 25-29 tahun sebesar 22.381 juta jiwa. Kelompok usia ini merupakan kelompok usia milenial dan generasi Z dengan proporsi kelompok umur terbanyak.

Kelompok usia ini juga menjadi kelompok usia yang paling besar di internet. We Are Social (2022) mencatat dari 277,7 juta jiwa penduduk Indonesia pada Januari 2022 terdapat 204,7 juta pengguna internet di Indonesia. Jumlah pengakses Internet terbesar ada apa kelompok usia 18-24 tahun sebesar 32 persen, dan kelompok usia 25-34 tahun sebesar 22,6 persen.

Besarnya penggunakan teknologi digital di kalangan anak muda, termasuk juga dalam mengerjakan pekerjaan termasuk juga maraknya crowdsourcing menjadi salah satu pendorong lahirnya gig economy yang salah satu tandanya yaitu maraknya anak muda yang bekerja lepas. Tidak semua definis gig economy ditandai dengan pekerja lepas, ada pula yang mendefinisikan gig economy termasuk bagi pekerja dengan sistem kerja yang fleksibel.

BPS seperti dilansir Tempo mencatat jumlah pekerja lepas pada Agustus 2020 sebesar 33,34 juta jiwa. Jumlah ini bertambah 4,3 juta jiwa dibandingkan tahun sebelumnya. Hal ini mengindikasikan tumbuhnya gig economy di Indonesia.

Salah satu tantangan gig economy adalah persoalan literasi keuangan, terutama karena pelaku gig economy merupakan kalangan remaja yang seringkali terjebak pada kehidupan hedonis dan konsumtif. Hadirnya bank digital di tengah perkembangan gig economy yang menawarkan fleksibilitas dalam layanan merupakan sebuah hal baik. Persoalannya adalah bagaimana meningkatkan literasi finansial di kalangan generasi Z agar mereka tidak menghabiskan pendapatannya pada sektor konsumsi saja.  Inilah salah satu tantangan dari bank digital.

Leave a Comment