Breaking

Belajar Daring Ciptakan Kultur Digital Pada Masa Pandemi Covid-19

Oleh : Lili Sartika
Penulis adalah Mahasiswa program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Medan. Tulisan ini dalam rangka penuntasan tugas mata kuliah Penulisan Kreatif yang diampu oleh Prof. Dr. Rosmawaty Harahap, M.Pd.

***

Pandemi Covid-19  mewabah sejak akhir tahun 2019. Virus ini melanda 215 negara dari seluruh penjuru dunia. Melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Pemerintah telah melarang perguruan tinggi untuk melaksanakan perkuliahan tatap muka (konvensional) dan memerintahkan untuk menyelenggarakan perkuliahan atau pembelajaran secara daring (Surat Edaran Kemendikbud Dikti No. 1 tahun 2020). Dikutip dari kemendikbud.go.id, pesan Nadiem Makarim (Mendikbud) terkait belajar dari rumah. “Kami ingin mengajurkan bagi daerah yang sudah melakukan belajar dari rumah agar dipastikan gurunya juga mengajar dari rumah untuk menjaga keamanan guru, itu sangat penting.” Sehingga, dalam pembelajaran komunikasi yang terjadi saat ini didominasi melalui jaringan, yaitu dengan memanfaatkan aplikasi yang mendukung pembelajaran jarak jauh, seperti Zoom Cloud Meeting, Google Meet, Google Classroom,WhatsApp, dsb. Khususnya Universitas Negeri Medan, telah menerapakan sistem pembelajaran daring ini sejak Maret tahun 2020.

Sistem pembelajaran daring erat kaitannya dengan kultur digital pada masa Covid-19 . Sebelum itu, apa yang dimaksud dengan kultur digital? Kultur digital adalah produk dari teknologi yang meresap dan akses tanpa batas ke informasi, sebuah produk dari inovasi teknologi digital yang memiliki karakter disruptif dalam kehidupan dan gaya hidup digital masyarakat kita. Karakter tersebut tidak secara general menjadi sifat kultur digital, karena sifat-sifat lainnya juga bisa disertakan.

Singkatnya, kultur digital adalah gaya hidup yang dianut oleh masyarakat saat ini. sehingga, dapat dikatakan bahwa belajar daring merupakan  salah satu wujud nyata dari hakikat kultur digital yang telah disebutkan. Saat ini, segala sesuatu kegiatan yang berhubungan dengan pendidikan atau pembelajaran (khsususnya)  memanfaatkan aplikasi digital, kegiatan tersebut diantaranya: 1) Seminar, 2)Workshop, 3) Kajian, bahkan 4) Wisuda berbasis virtual atau online. Hal ini dibuktikan oleh layanan telekonfrensi naik drastis sejak pandemi.

Dilansir dari Kompas.com, jumlah unduh aplikasi telekonferensi meningkat drastis hanya dalam waktu satu minggu. Situs riset aplikasi, App Annie mencatat aplikasi telekonferensi telah diunduh 62 juta kali dalam kurun 14-21 Maret. Angka tersebut setara peningkatan 45 persen dari pekan sebelumnya, dan menjadi pertumbuhan aplikasi tertinggi di antara semua kategori di toko aplikasi, baik Google Play Store maupun Apps Store. Bahkan saat dibandingkan dengan rata-rata pertumbuhan mingguan pada 2019, peningkatanya kini mencapai 90 persen. “Orang-orang menghadapi ketidakpastian di masa isolasi ini, aplikasi video telekonferensi berpotensi memengaruhi kebiasaan sehari-hari, meruntuhkan hambatan geologis dan menumbuhkan kemampuan bekerja serta bersosialsisasi,” tulis App Annie.

Berdasarkan hasil wawancara kepada beberapa narasumber yaitu mahasiswa Unimed, rata-rata dari mereka berpendapat bahwa belajar daring dan kultur digital memiliki hubungan yang cukup erat. Misalnya saja tanggapan dari salah satu informan yaitu Herlina Fitri Yani Manurung (Mahasiswa), ia mengatakan bahwa kultur digital memiliki peran penting dalam proses pembelajaran daring. Berbeda halnya dengan Rantika Alycia Putri (Mahasiswa),  ia menyatakan bahwa belajar daring dan kultur digitakl memiliki hubungan sebab akibat, sebab (Covid-19), dan akibat (belajar daring/evolusi) dan upaya atau solusi (kultur digital). Selain itu, Alda Marsya Ayudia (Mahasiswa),   menyampaikan bahwa komunikasi yang terjadi sejak belajar daring banyak berubah. Mulai dari penggunaan medianya, cara memulai dan menanggapi pembicaraan di kelas, sampai kepada bagaimana menjawab segala pertanyaan yang muncul di kelas. Misalnya ketika berbicara di kelas. Tentu kita harus benar benar menampakkan diri seperti membuka kamera dan mengulang nama dan pertanyaan agar jelas. Sebab masalah jaringan mungkin menjadi faktor penghambat.  Juan Markus Peranginangin juga menjelaskan secara ringkas bahwa sejak daring semua komunikasi dalam pembelajara dilakukan secara online. Ayang Sari Sun juga menambahkan bahwa dari esensi komunikasi daring itu sendiri menimbulkan interaksi yang hangat.

Pernyataan-pernyataan yang telah disajikan menunjukkan bahwa belajar daring dan kultur digital pada masa pandemi ini adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Hubungan erat keduanya cukup ditandai dengan fakta bahwa App Annie mencatat aplikasi telekonferensi telah diunduh 62 juta kali dalam kurun 14-21 Maret. Bahkan saat dibandingkan dengan rata-rata pertumbuhan mingguan pada 2019, peningkatanya kini mencapai 90 persen. Tentunya, dengan mengingkatnya jumlah pengunduhan aplikasi telekonferensi pada masa Covid-19 ini, aplikasi telekonferensi  juga banyak diunduh oleh civitas akademika. Sehingga, ralitas ini menunjukkan bahwa kultur digital semakin nyata di kalangan masyarakat.

Leave a Comment