Breaking

Manajemen Sekolah Dasar di Masa Pandemi

Oleh : Juan Markus Perangin Angin
Penulis adalah Mahasiswa semester VI Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Medan. Tulisan ini dipandu oleh Prof. DR. Rosmawaty Harahap, M. Pd.

***

Proses pendidikan di sekolah biasanya dilaksanakan secara tatap muka dan sewajarnya memang seperti itu. Walau kegiatan belajar juga dapat dilaksanakan secara online. Namun, lebih baiknya pendidikan dan proses pembelajaran dilaksanakan secara tatap muka agar proses pentransferan ilmu dari tenaga didik kepada peserta didik dapat dioptimalkan. Selain itu, dengan bertatap muka, komunikasi antara guru dengan siswa juga lebih terjamin erat.

Namun, ada beberapa kondisi yang mengharuskan kegiatan belajar harus dilaksanakan dengan cara online. Bisa saja untuk menyempurnakan sistem atau mengembangkan sistem pembelajaran terbaru.

Hal terbesar yang terjadi pada masa ini adalah merambahnya pandemi virus baru yang pertama kali teridentifikasi di kota Wuhan, Cina. virus yang dinamakan SARS-COV2 atau Covid-19 ini menyebar dengan begitu cepat dari Cina hingga ke seluruh dunia, tak terkecuali Indonesia.

Di Indonesia virus ini menyebar pertama kali pada Maret 2020. Akibatnya banyak kegiatan di tempat umum dan keramaian dilarang. Pada perkembangan selanjutnya, sekolah-sekolah juga ikut ditutup dalam kurun waktu yang lama – terhitung dari Maret hingga sekarang – mengakibatkan kegiatan belajar harus dilakukan dari rumah.

Kegiatan ini tentu saja membuat banyak orang merasa tidak nyaman. Bagaimana tidak, segala kegiatan pembelajaran harus dilakukan dari rumah dengan cara online. Bahkan penerimaan siswa baru dilakukan secara online hingga pembelajaran tahun ajar 2020/2021 dilakukan secara online. Cukup berat memang proses berjalannya pendidikan pada tahun 2020 ini.

Bukan hanya sekolah menengah saja, bahkan sekolah dasar yang pada hakikatnya merupakan masa belajar sambil bermain, masa di mana peran guru dalam mengembangkan emosional dan psikologi anak sangatlah penting. Masa sekolah dasar merupakan masa peralihan dari taman kanak-kanak dengan sifat pembawaan yang masih belum terfokus pada pembelajaran saja. Bagimana anak sekolah dasar bisa optimal dengan pembelajaran seperti saat ini?

Seperti yang telah dijelaskan diawal, pembelajaran bisa saja dilakukan secara online atau dalam jaringan. Mengingat beberapa hal atau keadaan yang mengharuskan pembelajaran daring ini. Khususnya pada tahun 2020 ini, akibat munculnya pandemi virus baru. Akhirnya sekolah dirumahkan. Lalu, bagaimana fungsi manajemen sekolah ini? Apakah lumpuh begitu saja?

Mungkin saja kita akan berpikir demikian karena manajemen sekolah dilakukan untuk sekolah. Namun, anggapan ini sebenarnya salah. Manajemen sekolah tidak hanya dilakukan bila sekolah secara tatap muka, namun bisa juga mengatur bagaimana proses pembelajaran secara daring.

Perencanan (planing)

Perencanaan merupakan proses penetapan tujuan dan sasaran serta bagaimana proses untuk mencapai tujuan itu. Dalam perencanaan ini manajer (kepala sekolah) dan komponen sekolah yang lain menetapkan tugas masing-masing, sehingga terjadi kesinambungan antara setiap komponen dalam mencapai tujuan sekolah dalam proses manajemen sekolah ini.

Dalam keadaan sekolah daring, perencanaan merupakan proses yang paling penting karena akan menetukan arah ke mana proses belajar daring ini akan dituju. Apalagi saat daring guru dan siswa tidak bertemu secara langsung. Jadi, akan sangat penting bagi sekolah untuk merencanaakan kegiatan pembelajaran daring agar saat daring sekalipun, pembelajaran dapat berjalan dengan baik.

Pengorganisasian (organizing)

Fungsi atau proses selanjutnya adalah fungsi pengorganisaian. Pengorganisasian berarti pembagian tugas bagi setiap orang/unsur dalam kegiatan manajemen sekolah. Orang yang dimaksud disini adalah kepala sekolah, guru, staf, dan siswa.

Dalam pembelajaran daring ini tentu saja peran setiap komponen sekolah sangat diperlukan. Apalagi peran dari kepala sekolah untuk membagi tugas bagi guru dan siswa dalam belajar. Kepala sekolah sebagai pemimpin harus bisa menentukan tugas guru saat mengajar dengan daring. Siswa juga bertugas untuk tetap mengikuti pembelajaran secara daring.

Pengarahan (directing)

Pada tahap selanjutnya, kepala sekolah juga mengarahkan warga sekolah untuk menjelankan tugas dengan baik. Tugas kepala sekolah disini sangat penting untuk memberikan arahan atau motivasi kepada setiap komponen sekolah agar tetap bisa menjalankan proses belajar dengan baik walau dalam keadaan daring.

Mengingat anak SD memiliki sifat yang masing kanak-kanak dan kebanyakan bermain, maka peran guru adalah mengarahkan siswa untuk tetap belajar dengan baik di rumah sembari bermain. Pengarahan ini sangat penting karena tanpa adanya arahan ini, komponen sekolah bisa saja tidak tahu arah pembelajaran daring ini. Pengarahan juga penting agar pembelajaran tetap berjalan sebagai mana telah disepakati di awal (perencanaan) sehingga tujuan yang ingin dicapai tetap bisa dicapai.

Pengawasan (controlling)

Pengawasan adalah proses dengan mana administrasi melihat apakah apa yang terjadi itu sesuai dengan apa yang seharusnya terjadi, jika tidak maka penyesuaian yang perlu dibuatnya. Artinya, pengawas melihat segala yang telah dijalankan apakah sesuai dengan perencanaan yang direncanakan di awal atau tidak. Bila sudah sesuai maka pengawas bisa memberikan arahan tambahan agar proses manajemen tetap pada jalurnya. Sedangkan, bila manajemen belum berjalan dengan baik, maka perlu adanya perbaikan agar perencanaan awal masih bisa dijalankan dengan baik untuk mencapai tujuan awal.

Pengawasan dalam belajar daring bisa saja dilakukan oleh kapala sekolah dengan memasuki kelas online satu persatu di satu waktu. Melihat bagaimana proses pembelajaran dilakukan. Baik itu melalui aplikasi chat atau virtual meet. Disini kepala sekolah menilai seberapa baik siswa dan guru dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar.

Realita Belajar Daring di Sekolah Dasar

Pembelajaran secara daring memang bukan pilihan utama bagi sekolah untuk menjalankan pembelajaran. Namun, belajar daring menjadi pilihan terbaik saat ini mengingat keadaan yang tidak mendukung.

Dalam pembelajaran daring ini tentu saja mengalami beberapa realita. Baik itu hal baik dan hal buruk. Hal-hal ini terjadi sudah menjadi keharusan. Mengingat keadaan belajar daring tanpa adanya pengawasan secara langsung oleh guru terhadap siswa.

Kebanyakan hanya bermain

Mental anak SD merupakan mental bermain. Tanpa bermain, anak SD merasa dunia mereka masih kurang lengkap. Bermain di masa SD memang juga penting bagi perkembangan pemikiran dan emosional anak dalam menghadapi dunia sekolah. Dengan bermain anak bisa berkembang dan komunikasi anak tentu saja akan meingkat bila mana bermain dalam lingkungan sosial.

Namun, bagaimana jadinya bila saat belajar online, kebanyakan anak hanya bermain-main saja? Tentu saja hal ini tidak akan bisa dihindari, karena kurangnya pengawasan dari guru secara langsung.

Saat sekolah tatap muka ada jadwal yang diberikan. Kapan anak belajar dan kapan anak beristirahat untuk bermain atau sekedar mengisi perut. Namun, saat belajar online tentu saja jadwal ini tidak bisa berlaku dengan baik secara online, di mana siswa dan guru berada di rumah/tempat masing-masing, bukan di sekolah.

Kebanyakan sekolah hanya memberikan selebaran atau kertas yang isinya materi pembelajaran kepada siswa untuk mereka pelajari sendiri. Kemudian di bagian akhir akan ada tugas yang harus mereka kerjakan, kemudian mereka antar ke sekolah sekaligus mengambil materi selanjutnya. Ketika mereka telah mendapatkan kertas belum tentu mereka mempelajari isi kertas tersebut. Apa yang mereka lakukan? Tentu saja bermain-main saja.

Orang tua yang belajar

Kenyataan dalam belajar online yang terlihat adalah orang tua yang belajar. Bagaimana tidak, saat selebaran tugas yang diberikan guru sudah berada di tangan siswa, malahan orang tua yang disuruh untuk memahami dan mengerjakan tugas tersebut. Sedangkan, siswa pergi bermain atau main handphone saja.

Hal ini menjadi fenomena yang sering ditemui dalam khazanah sekolah online. Begitulah kurang efektifnya sekolah online ini jika menggunakan sistem manajemen seperti itu.

Realitia seperti ini tentu tidak baik bagi siswa. Siswa yang seharusnya belajar hanya akan bermain-main saja tanpa melihat materi sama sekali, karena pelajaran telah dibebankan kepada orang tua.

Kurang memahami online

Siswa sekolah dasar biasanya masih belum memahami sekolah online, apalagi saat harus menggunakan media pembelajaran secara online, seperti zoom, gmeet, atau google class room.

Anak-anak biasanya saat menggunakan handphone hanya sekedar mencari kesenangan saja, seperti main game atau menonton video. Saat menggunakan aplikasi virtual meet tentu saja akan sulit bagi mereka untuk mengikutinya.

Di sinilah peran sekolah dalam memberikan dukungan melalui kegiatan manajemen sekolah untuk lebih mengarahkan siswa menggunakan media daring.

Leave a Comment