Breaking

Manfaat Di Balik Fenomena Korosi Bagi Kehidupan

Oleh : Saidatunnisa Nasution
Penulis adalah mahasiswa Bilingual Pendidikan IPA UNIMED

***

Korosi merupakan suatu bentuk reaksi elektrokimia akibat interaksi antara logam dan logam, atau sebagai suatu bentuk degradasi logam dari keadaan berenergi tinggi ke energi rendah. Reaksi elektrokimia tersebut menghasilkann suatu produk yang bersifat menurunkan kualitas logam tersebut.

Pada peristiwa korosi, logam mengalami oksidasi, sedangkan oksigen (udara) mengalami reduksi. Karat logam umumnya adalah berupa oksida atau karbonat. Rumus kimia karat besi adalah Fe2O3.nH2O, suatu zat padat yang berwarna coklat-merah.

Menurut proses elektrokimia, bahwa proses korosi pada logam disebabkan karena logam  itu mempunyai komposisi kimia yang tidak homogen. Dalam kenyataan memang logam  sangat sulit untuk dibuat betul-betul homogen. Akibatnya akan ada perbedaan potensial yang  dapat menimbulkan korosi galvanis bila ada elektrolit (uap air dan udara). Bagian yang  berpotensial lebih rendah akan menjadi anoda sedangkan yang berpotensial lebih tinggi akan  menjadi katoda.

Sebagai contoh korosi pada besi

Contoh di atas merupakan fenomena yang paling umum terjadi pada kehidupan yaitu kerusakan logam besi dengan terbentuknya karat oksida.

Kerugian dan Manfaat dari Fenomena Korosi

Dengan demikian, korosi menimbulkan banyak kerugian. Beberapa kerugian yang ditimbulkan akibat korosi tersebut adalah antara lain seperti menyebakan logam keropos, berlubang dan dapat menyebabkan kebocoran, Berkurangnya faktor keamanan, dan naiknya biaya peralatan, dan masih banyak lagi kerugian lainnya.

Di balik kerugian yang ditimbulkan oleh korosi,  korosi juga mempunyai keuntungan, karena suatu hal pastilah tidak hanya mempunyai kekurangan, tetapi juga kelebihan.

Keuntungan korosi ini hanya terjadi pada beberapa jenis logam saja, tergantung pada jenis logam apa yang bereaksi meimbulkan corrosion product. Tidak semua jenis logam dapat menghasilkan corrosion product yang bermanfaat bagi logam tersebut. Salah satu logam yang bersifat menguntungkan bila terkena korosi adalah aluminium.

Di zaman modern ini, logam aluminium banyak digunakan dalam pembuatan konstruksi pesawat terbang, alat-alat industri, perabotan rumah tangga hingga kemasan makanan. Maka untuk memperoleh hasil produk yang baik aluminium diproses secara modern dengan ilmu pengetahuan sebagai dasarnya untuk meminimalisasi korosi yang tidak dapat dihindarkan.

Aluminium umumnya mempunyai sifat ketahanan terhadap korosi yang tinggi sehingga sulit terkorosi, namun seperti halnya logam yang lain aluminium tetap dapat terkorosi dengan kondisi ekstrim tertentu. Dalam pemilihan bahan logam untuk konstrusi salah satu parameter yang harus dipertimbangkan adalah ketahanan logam terhadap korosi sehingga aluminium pun juga memerlukan perlakuan khusus agar terhindar dari korosi.

Aluminum memang bisa saja untuk terjadi korosi, namun korosi pada aluminium dibanding dengan logam seperti tembaga, besi, atau seng, aluminium memiliki kelebihan yaitu tahan terhadap korosi, ringan dan mudah dibentuk. Logam sulit dibuat homogen karena ada faktor pengotor, sehingga menimbulkan beda potensial yang bisa menyebabkan korosi galvanis (adanya anoda, katoda, elektrolit dan konuktor) di antara butiran dalam logam tersebut.

Korosi yang umumnya terjadi pada logam aluminium adalah korosi sumuran. Korosi sumuran membentuk lubang-lubang kecil yang kasat mata pada awalnya. Korosi ini  berlangsung ketika  logam aluminium  bereaksi dengan  udara lembab.  Karena itu korosi pada aluminium ini bisa berkibat pada kebocoran pada material tanpa diketahui.

Keuntungan korosi pada logam jenis aluminium adalah aluminium mempunyai lapisan Al2O3 yang bisa melindungi logam terhadap pengkorosi pada pH antara 4 – 9 diluar kisaran itu aluminium bisa terkorosi, baik pada suasana asam maupun basa. Hal ini disebabkan oleh fenomena pasivasi, yaitu proses pembentukan lapisan aluminium oksida (Al2O3) di permukaan logam aluminium segera setelah logam terpapar oleh udara bebas. Lapisan aluminium oksida ini nantinya akan mencegah terjadinya oksidasi lebih jauh. Namun, pasivasi dapat terjadi lebih lambat jika dipadukan dengan logam yang bersifat lebih katodik, karena dapat mencegah oksidasi aluminium. Bila korosi terjadi pada logam jenis aluminium maka lapisan senyawa Al2O3 tersebutlah yang akan melindingui aluminum tersebut dari korosi yang lebih parah lagi, sehingga nantinya lapisan tersebut akan bersifat pelindung (protektif) bagi aluminium dan membuat aluminium semakin kuat dan tahan terhadap korosi.

Lapisan oksida pada permukaan aluminium dapat dibuat lebih tebal melalui elektrolisi, yang disebut anodizing. Aluminium yang telah mengalami anodizing digunakan untuk membuat panci dan berbagai perkakas dapur, bingkai, kerangka bangunan (panel dinding), serta kusen pintu dan jendela. Lapisan oksida aluminium lebih mudah dicat dan memberi warna yang lebih terang  Jadi, bahan yang cocok digunakan untuk alat-alat pada industri  farmasi  sebaiknya berasal  dari logam jenis alumunium, mengingat keuntungannya yang lebih banyak dan lebih baik.

Jenis logam lainnya yang bersifat menguntungkan pula bila terbenuk korosi adalah stainless steel. Stainless steel merupakan paduan beberapa logam dengan kandungan utamaya adalah besi dan chrom. Komposisi lainnya adalah mangan, silikon, karbon, dan nikel dalam jumlah tertentu. Korosi pada stainless steel juga hampir sama dengan korosi pada aluminium.

Baja stainless steel ketika terdapat air atau uap air akan bereaksi dengan oksigen dan membentuk suatu lapisan yang sangat tipis. Lapisan tersebut akan melekat kuat pada permukaanya sehingga nantinya akan dapat melindungi bagian bawah logam yang belum teroksidasi. Lapisan tipis ini memiliki sifat tembus cahaya dan juga memiliki warna seperti pada logam aslinya (stainless steel dan aluminium yang belum teroksidasi) sehingga kedua logam tersebut akan nampak seperti tidak teroksidasi atau tidak mengalami karat (korosi).

Lapisan tipis pada baja stainless steel adalah kromium (III) oksida (Cr2O3) yang merupakan hasil reaksi antara krom dengan oksigen. Oleh sebab itu, yang berperan penting dalam membentuk lapisan pelindung korosi pada stainless steel adalah krom, sedangkan unsur yang lainnya seperti nikel berfungsi sebagai penguat. Jika lapisan oksida Stainless steel terkelupas, maka protective layer akan segera terbentuk secara spontan, tentunya jika kondisi lingkungan cukup mengandung oksigen. Walaupun demikian kondisi lingkungan tetap menjadi penyebab kerusakan protective layer tersebut.

Pada keadaan di mana protective layer tidak dapat lagi terbentuk, maka korosi akan terjadi. Banyak media yang dapat menjadi penyebab korosi, sepertinudara, larutan yang bersifat asam/basa, gas proses (misal gas asap hasil buangan ruang bakar atau reaksi kimia lainnya), logam yang berlainan jenis dan saling berhubungan dan sebagainya Sedangkan pada aluminium, seperti yang telah dijelaskan tadi juga yaitu aluminium (III) oksida yang merupakan  corrosion product atau hasil reaksi antara aluminium dengan oksigen.

Berdasarkan paparan diatas, kita telah menambah wawasan dan informasi bahwa ternyata korosi (pengkaratan) juga memiliki keuntungan, di balik kerugian yang disebabkannya.

6 thoughts on “Manfaat Di Balik Fenomena Korosi Bagi Kehidupan”

Leave a Comment