Breaking

Penerapan UX Design Process dalam Memberi Nilai Tambah Sebuah Produk

Pengguna internet di Indonesia semakin masif seiring dengan semakin banyaknya penggunaan internet untuk menjawab kebutuhan masyarakat. Penetrasi pengguna internet yang semakin besar juga didorong peristiwa pandemi Covid-19. Survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2023 menyebutkan penetrasi internet di Indonesia telah menyentuh angka 78,19 persen.  

Besarnya persentase masyarakat yang terhubung internet, di satu sisi juga mendorong semakin beragamnya website dan aplikasi yang hadir guna menjawab kebutuhan masyarakat yang semakin beragam. Alhasil peluang bagi para pengembang aplikasi dan website juga semakin terbuka.

Salah satu profesi penting dalam pengembangan website dan aplikasi yaitu user interface (UI) designer dan user experience (UX) designer. Pekerjaan ini memainkan peran penting untuk memberi nilai tambah dari sebuah produk.

Pentingnya menerapkan UX design process

Untuk membuat sebuah produk, faktor pengalaman pengguna menjadi bagian yang harus dipikirkan. Untuk itu tugas UI UX designer bukan sekadar menghasilkan antarmuka yang menarik dari sisi user interface (UI) tetapi juga harus memperhatikan apa yang pengguna rasakan dan inginkan dari penggunaan produk.

Dalam konteks produk digital, pengalaman pengguna termasuk pada aspek susunan, tata letak, hingga organisasi konten (wireframe).

Untuk menghasilkan aplikasi yang memberikan kemudahan dan kenyamanan pengguna dilalui dengan melewati UX design process. Proses ini berguna untuk membantu desainer membuat antarmuka yang ramah pengguna, efektif dan sesuai dengan kebutuhan pengguna.

Menghasilkan desain yang berbasis pada pengguna (human-centered design)

Contoh penerapan UX design process dapat dilihat dari produk digital Telkom Indonesia. Setiap aplikasi dari Telkom Indonesia melewati proses yang dalam dunia UI UX design disingkat PURITE.  Metode ini menggunakan pendekatan human-centered design. Untuk itu pada tahap awal bagian yang tidak boleh dilupakan yaitu menentukan siapa target audience.   

PURITE dimulai dari Prepare (persiapan). Pada tahapan ini identifikasi pengguna (audiens) sangat diperlukan.

Langkah selanjutnya yaitu Understand (memahami). Pemahaman tersebut termasuk memahami kebutuhan pengguna dan juga preferensi mereka. Banyak metode yang bisa dilakukan untuk memahami kebutuhan pengguna. Bisa dengan melakukan survei atau brainstroming.

Proses selanjutnya yaitu melakukan Render. Pada proses ini produk sudah berupa prototipe. Tahapan berikutnya yaitu Iterate yaitu melakukan perbaikan berdasarkan umpan balik dari klien yang telah mencoba prototipe.

Bagian yang tak kalah penting yaitu tahapan Test. Pada bagian ini, desain akan melewati fase uji dari pengguna untuk melihat apakah produk tersebut benar-benar menjawab kebutuhan pengguna sekaligus juga memberikan pengalaman positif bagi mereka.

Setelah hasil tes didapatkan, barulah melewati proses Enable. Pada fase ini tetap membutuhkan pemantauan untuk memastikan produk berjalan lancar dan mengindentifikasi jika terdapat perbaikan lebih lanjut.

Pentingnya Memberi Nilai Tambah (Value Added)

Nilai tambah sebuah produk (value added) akan menjadikan sebuah produk terlihat lebih menarik dibanding kompetitor. Selain itu, nilai tambah akan menjadikan produk terlihat berkualitas dan unggul. Dalam konteks desain aplikasi, UX design seharusnya mampu memberi nilai tambah pada produk.

Penambahan fitur, kemudahan dan kenyamanan penggunaan, hingga peningkatan fungsi haruslah mempertimbangkan keinginan pengguna. Karena itu penting bagi seorang UI UX designer untuk melakukan riset mendalam terhadap penggunanya sehingga produk yang dihasilkan sesuai dengan kebutuhan pengguna.

Seorang UX designer harus mengetahui dengan baik cara melakukan riset pengguna. Keahlian lain yang dibutuhkan selain keahlian teknis yaitu kemampuan komunikasi yang berguna untuk mempresentasikan karya desain ke klien dan juga pengguna.

Sebuah aplikasi tidak lahir dari tangan satu orang, penting bagi UI/UX designer memiliki kemampuan kolaboratif agar dalam proses pengembangan produk lebih efektif dan maksimal.

Leave a Comment