Breaking

Sejarah Batu Tettal: Batu Perjanjian Marga Padang, Berutu, dan Solin

Oleh : Katerina Banurea
Penulis adalah Mahasiswa semester VI Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Medan. dalam rangka penuntasan tugas mata kuliah Penulisan Kreatif yang diampu oleh Ibu Prof. Dr. Rosmawaty Harahap, M.Pd., yang juga sebagai penyunting naskah artikel ini

***

Batu Tettal merupakan salah satu peninggalan sejarah yang ada di suku Pakpak yang berlokasi di Desa Jambu Rea, Kec. Siempat Rube, Kab. Pakpak Bharat. Menurut informasi yang kami dapat dari narasumber yaitu Bapak Kariaman Padang yang berusia 76 Tahun dan Bapak J. Padang yang berusia 57 tahun, batu ini dijadikan sebagai batu perjanjian oleh marga Padang, Berutu, dan Solin. Ketiga marga ini adalah marga tertua dalam Suak Pakpak Simsim.           

Batu ini dibuat oleh keturunan marga Padang, Berutu, dan Solin (tidak diketahui identitasnya) dengan perjanjian agar keturunannya kelak tidak saling menikah dikarenakan mereka lahir dari satu ibu yang sama walaupun dengan bapak yang berbeda, yaitu tiga bapak: Padang, Berutu, dan Solin. Menurut informasi, ibu dari ketiga marga ini Beru Kombih; seperti nama sungai Lae Kombih.           

Untuk memperkuat perjanjian, mereka menancapkan sebuah kayu mati yang berada tak jauh dari Batu Tettal tersebut. Mereka membuat kesepakatan: jika kayu mati itu tidak bertunas, maka perjanjian tersebut tetap kukuh. Begitupun sebaliknya, jika kayu mati itu bertunas, maka musnahlah perjanjian tersebut.           

Suatu hari, seekor burung kecil hinggap diatas kayu mati itu dengan membawa sarindan (parasit). Tak lama kemudian tunas pun tumbuh di kayu mati tersebut karena bantuan parasit yang dibawa oleh burung kecil itu serta kondisi kayu tersebut telah membusuk. Akhirnya, musnahlah perjanjian tersebut dan keturunannya boleh saling mengawini hingga saat ini.           

Tunas tersebut tumbuh besar hingga menjadi pohon ambasang yang besar. Uniknya, pohon tersebut menghasilkan tiga buah dengan jenis yang berbeda. Ketiga buah tersebut diberi nama Silada, Si lesung, dan Sigaluh. Masing-masing buah tersebut posisinya berbeda-beda, dengan berturut-turut mengarah ke tanah Marga Padang di Jambu Rea, Berutu di Singgabur, dan Solin di Tinada.           

Hingga saat ini, masih banyak keturunannya yang datang berziarah ke Batu Tettal tersebut; termasuk siapapun yang ingin meminta izin atau meminta restu, seperti seseorang yang ingin mencalonkan diri menjadi kepala desa maupun bupati. Dengan harapan sesampainya di rumah, mereka mendapat mimpi bagaimana jalan yang dikehendaki agar terpilih nantinya. Kebanyakan dari mereka membawa tepung beras yang biasa disebut Nditak Ginaburen. Mereka akan menaburkan tepung beras tersebut ke atas Batu  Tettal kemudian berdoa. Itu adalah salah satu dari beberapa tradisi keturunan ketiga marga tersebut saat berziarah ke sana.

Leave a Comment