Oleh : Fandy Syahputra Lubis
Penulis adalah Mahasiswa D3 Akuntansi PKN STAN
Di era Revolusi Industri 4.0 ini siapa yang tidak pernah berbelanja online? Tercatat di awal Tahun 2019 berdasarkan data yang dihimpun Global Web Index, sebanyak 86 persen pengguna internet Indonesia melakukan belanja online lewat perangkat apapun.
Apakah anda termasuk dari 14 persen pengguna internet yang belum pernah berbelanja online?
Saat anda berselancar di dunia maya pasti pernah melihat iklan belanja online, dari sinilah banyak penawaran yang diberikan, mulai dari harga miring, diskon besar, hadiah tambahan, cashback, dan penawaran menggiurkan lainnya, yang membuat para pengunjung internet tertarik untuk singgah di situs e-commerce tersebut.
Belanja online lebih dipilih karena murah, cepat, lengkap, efisien, praktis, dan fleksibel daripada harus berbelanja secara konvensional ke toko, warung, atau pasar.
Lalu, pernahkah terpikir oleh anda kenapa banyak online store seperti Tokopedia, Bukalapak, Shoppe, BliBli, dan online store lainnya menawarkan barang dengan harga yang lebih murah padahal dengan merek dan kualitas yang sama dengan yang ditawarkan di offline store, bahkan beberapa online store yang juga startup unicorn tanah air rela bakar uang untuk para pelanggan.
Sudah Murah, Ditambah Cashback dan Diskon
Murahnya harga barang yang ditawarkan oleh online store dikarenakan banyak biaya yang dapat ditekan dari biaya-biaya yang biasa dikeluarkan oleh toko-toko konvensional, seperti biaya sewa gedung, biaya gaji pegawai, dan biaya operasional toko lainnya. Ditambah dengan adanya cashback dan diskon besar-besaran, membuat para pelanggan di dunia maya semakin tertarik dengan produk yang ditawarkan.
Tren perang cashback dan diskon-diskonan di dunia e-commerce sudah dimulai sejak pertengahan Tahun 2018, hal ini dikarenakan maraknya online store bermunculan dengan jenis yang sama di pasar persaingan membuat setiap online store harus memutar otak untuk menarik pelanggan, salah satunya dengan memberikan cashback dan diskon yang jorjoran.
Tercatat hingga akhir Tahun 2019 sudah ada 47 pemain besar e-commerce tanah air, dua diantarnya adalah startup unicorn tanah air yaitu Tokopedia dan Bukalapak. Toko-toko online inilah yang sangat memanjakan para pelanggannya dengan menjual barang harga miring ditambah dengan cashback dan diskon tambahan. Hal ini memunculkan pertanyaan, alasan apa yang membuat toko-toko online tersebut masih terus bakar uang? Strategi mencari untung? Atau mencari pelanggan?
Tercatat 10 tahun belakangan salah satu startup unicorn, Tokopedia tidak pernah mendulang keuntungan, bakar uang yang dilakukan oleh perusahaan ini ternyata merupakan strategi untuk menarik pelanggan, selain itu strategi ini dilakukan untuk memperkuat nama dan membangun perusahaan, sehingga akan menarik investor untuk berinvestasi di perusahaan tersebut. Strategi ini akan terus dilakukan hingga perusahaan dirasa cukup kuat untuk bersaing di pasar tanpa mengandalkan penawaran cashback dan diskon besar-besaran lagi.
Kapan Era Bakar Uang Selesai
Tahun 2020 diperkirakan akan menjadi tahun awal mulai menurunnya aktivitas bakar uang, beberapa startup yang rajin bakar uang seperti Tokopedia, Bukalapak, hingga OVO akan merubah haluan mereka untuk mengejar profit di tahun ini. Bakar uang dinilai sudah cukup, perusahaan Tokopedia dan Bukalapak merasa sudah kuat untuk bersaing di pasar dengan mengutamakan inovasi, bukan hanya membakar uang, bahkan Bukalapak memulai langkahnya dengan melakukan Pemutusan Hubungan Kerja 100 karyawan yang tidak mempunyai hubungan langsung dengan kinerja perusahaan.
Contoh startup lain di luar online store yaitu OVO bahkan sudah kehilangan sebagian suntikan dana dari Lippo Group, yang membuat OVO harus sedikit mengurangi aktivitas bakar uang dan kegiatan marketingnya. Selain itu, banyak startup dunia seperti Uber dan Zomato terpaksa ikut merampingkan perusahaannya karena tidak tahan bakar uang terus-menerus.
Apakah online store juga akan ikut-ikutan mengurangi kegiatan bakar uangnya di tahun ini? Hilangnya era bakar uang nantinya apakah akan menurunkan antusias masyarakat dalam berbelanja online? Atau akan muncul tren baru yang akan menggantikan tren bakar uang? Kita lihat saja di Kuartal I Tahun 2020 ini.














