Breaking

Eksistensi Tradisi Sastra Lisan Etnis Simalungun Di Dolok Paribuan, Sumatera Utara

Oleh : Dwi Friska Br Girsang
Penulis adalah mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Medan

***

Keberagaman budaya dan tradisi di Indonesia tidak terpungkiri banyaknya. Salah satu yang dahulunya sangat eksis adalah tradisi sastra lisan, tentunya setiap daerah di Indonesia memiliki sastra lisannya masing-masing dan memiliki keeksisannya juga. Tetapi seiring dengan berjalannya waktu tradisi sastra lisan itu mulai memudar.

Zaman yang terus menerus akan semakin berubah membuat generasi milenial, yang seharusnya mewarisi tradisi sastra lisan kini telah terlena di dalam dunia teknologi dan meninggalkan tradisi-tradisinya yang membuat eksistensi sastra lisan itu semakin memudar.

Sama halnya dengan tradisi sastra lisan Simalungun yang berkembang di suatu daerah di Sumatera Utara yang bernama Dolok Paribuan, tempat saya melakukan penelitian mengenai eksistensi tradisi sastra lisan yang berkembang disana yaitu “Legenda Batu Air”. Fakta yang saya temukan di lapangan menunjukkan bahwa sastra lisan mengenai Legenda Batu Air itu telah memudar sehingga narasumber yang saya dapati hanya berasal dari kalangan lanjut usia.

Hal tersebut tentu saja menggambarkan bahwa tradisi lisan kini berada dibatas ambang kepunahan, terkhusus tradisi sastra lisan di Simalungun. Tradisi sastra lisan semakin memudar ketika perkembangan teknologi ini terjadi yang membuat generasi milenial lebih memilih menikmati hal-hal yang berbau teknologi, seperti film-film yang telah dikemas secara modern, game online, sosial media dan beberapa aplikasi yang semakin menjadi incaran setiap anak muda sekarang. Sehingga melalui hal tersebut, menurut saya untuk dapat melestarikan kembali tradisi lisan itu yaitu dengan merevitalisasi sastra lisan itu dan diangkat menjadi sumber industri budaya yang akan lebih mengenalkan kepada generasi milenial setiap sastra lisan yang ada dengan cara yang lebih menarik tetapi tidak melunturkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Kiranya dengan memanfaatkan teknologi dapat menaikkan kembali eksistensi tradisi sastra lisan di kalangan masyarakat dan terkhusus pada generasi milenial.

Seperti yang dijelaskan sebelumnya bahwa kehidupan kita tidak lepas dari teknologi sehingga media teknologi akan sangat bermanfaat dalam proses revitalisasi tradisi lisan tersebut yang diharapkan dapat mengembalikan eksistensi sastra lisan itu. Kita sendiri adalah satu hal yang paling dalam proses pengembalian eksistensi sastra lisan itu, untuk itu terlebih dahulu kita harus secara pribadi sadar akan pentingnya tradisi sastra lisan itu sebagai kegiatan budaya tradisional yang harus kita jaga dan kita lestarikan.

Selain itu, ternyata masih juga ada berbagai sastra lisan yang belum pernah diulik oleh media manapun. Contohnya saja Sastra Lisan Etnis Simalungun, cerita “Legenda Batu Air” di Dolok Paribuan, Sumatera Utara. Baiklah, saya akan memaparkan bagaimana cerita “Legenda Batu Air” di bawah ini:

Legenda Batu Air di Dolok Paribuan

Di wilayah Sumatera Utara tepatnya di Desa yang bernama Dolok Paribuan terdapat sebuah Batu Air yang dipercaya memiliki kekuatan. Batu itu terletak di lokasi yang berdekatan dengan hutan bambu yang memiliki 7 wanita yang disebut penjaga hutan bambu tersebut.

Batu Air ini telah ada bahkan sebelum Negara Indonesia merdeka. Batu Air ini dahulu diterbangkan dengan ilmu gaib dari Gunung Tayas atas perintah Raja yang memimpin dahulu. Tempat Batu Air tersebut digunakan sebagai tempat pemandian dan pangir Baginda Raja yang kemudian seiring berjalannya waktu menjadi tempat pemandian untuk kaum pria dengan air yang mengalir dari pegunugan yang disanggah oleh bambu agar mengalir dengan baik. Oleh karena itulah, masyarakat menyebutnya dengan Batu Air. Ke 7 wanita penjaga tersebut diyakini memiliki hubungan dengan perpindahan Batu Air tersebut. Karena dilihat dari segi geografinya, desa ini bukan desa yang daerahnya memiliki bebatuan.

Lokasi Batu Air tersebut juga dikelilingi oleh banyak bambu bagaikan hutan bambu yang kesannya sangat angker. Anak-anak desa juga sering diceritakan oleh orangtua mereka bahwa hutan bambu itu memang sangat angker, hingga dahulu masyarakat desa pun harus permisi terlebih dahulu dengan membawa sirih  atau  rokok sebagai bentuk dari ijin memasuki hutan bambu tersebut, masyarakat pun tidak boleh sembarangan masuk ke dalam hutan apalagi sembarangan memotong bambu yang berada disana. Masyarakat dahulu juga tidak diperbolehkan masuk terlalu jauh ke dalam hutan sampai ke ujung hulu diatas hutan karena keangkerannya. Terlebih untuk para pendatang tidak boleh sembarangan berperilaku apalagi sampai masuk ke dalam hutan bambu tanpa permisi terlebih dahulu.

Ketika seorang ibu hamil baru melahirkan, bayinya tidak diperbolehkan dibawa untuk melintasi lokasi Batu Air itu berada, karena bayi masih memiliki batin yang sangat lemah, batinnya belum cukup kuat untuk menghadapi kekuatan gaib yang berada di sekitar lokasi Batu Air itu berada. Ketika aturan tersebut dilarang, maka bayi tersebut akan menderita sakit. Tetapi saat ini aturan tersebut tidak diiraukan oleh masyarakat lagi.

Kekuatan Batu Air yang diyakini oleh masyarakat adalah ketika Batu Air tersebut mampu mendatangkan hujan setelah kemarau panjang.

Dahulu jika terjadi kemarau yang panjang, masyarakat percaya jika mereka datang pada Batu Air itu dan memberi sesajian semacam (rokok, sirih) di sekitaran Batu Air itu maka besoknya atau bahkan setelah mereka selesai melakukan ritual, hujan akan langsung turun di desa itu. Saat melakukan ritual orang yang pertama atau yang berada pada barisan depan adalah sesorang yang bermarga Girsang dan selalu begitu sampai saat ini, jika tidak maka mungkin akan terjadi hal buruk atau permohonan masyarakat tidak akan terkabul.

Bahkan hingga saat ini hal tersebut masih dipercaya dan masyarakat desa percaya bahwa hal itu adalah nyata karena mereka merasakannya, tetapi saat ini masyarakat tidak membawa sesajian lagi, melainkan hanya sekedar membersihkan sekitaran Batu Air itu, karena saat ini Batu Air tersebut tidak digunakan lagi. Bahkan 3 tahun yang lalu masyarakat telah mengalaminya, karena terjadi kemarau yang panjang sekitaran 10 bulan, maka masyarakat berinisiatif untuk membersihkan lokasi batu itu berada dan benar saja besoknya hujan langsung turun.

Leave a Comment