Breaking

INFOGRAFIS – Hari Istiqlal dan Sejarah Pembangunan Masjid Istiqlal

Hari Istiqlal disebut-sebut menjadi hari untuk memperingati peresmian Masjid Istiqlal. Lalu apakah Hari Istiqlal benar-benar diperingati sebagaimana hari peringatan lainnya? Redaksi Analisa.id tidak menemukan peringatan Hari Istiqlal walaupun benar jika Masjid Istiqlal diresmikan pada tanggal 22 Februari.

Pada awalnya, masjid yang akan dibangun bukanlah masjid megah dan menjadi yang terbesar di Asia Tenggara. Melainkan sebuah Masjid Jami’. Tetapi Presiden Soekarno menginginkan masjid yang megah.

Pembangunan Masjid Istiqlal sempat mangkrak pada tahun 1965. Lalu, Mayor TNI  Yunan Helmy Nasution tergugah melihat mangkraknya pembangunan tersebut. Dia pun mengajak masyarakat dan barisan seniman budayawan muslim untuk memikirkan solusi. Pada ulang tahun Himpunan Seniman Budayawan yang ke-20 itulah, diputuskan untuk melanjutkan pembangunan Masjid Istiqlal.

Pada 1966, Menteri Agama KH M Dahlan kembali mempelopori kembali pembangunan masjid ini. Dahlan menggalang dana agar pembangunan fisik masjid digencarkan kembali, di mana pengurusannya dikoordinir oleh KH. Idham Chalid, yang ditunjuk sebagai Koordinator Panitia Nasional Pembangunan Masjid Istiqlal. Akhirnya bangun utama Masjid Istiqlal bisa selesai pada 24 September 1967 dan baru benar-benar selesai pada 22 Februari 1978.

Penentuan lokasi Masjid sempat menimbulkan perdebatan antara Bung Karno dan Bung Hatta yang pada saat itu menjabat sebagai Wakil Presiden RI. Bung Karno mengusulkan lokasi di atas bekas benteng Belanda Frederick Hendrik dengan Taman Wilhelmina yang dibangun oleh Gubernur Jendral Van Den Bosch pada tahun 1834 yang terletak di antara Jalan Perwira, Jalan Lapangan Banteng, Jalan Katedral dan Jalan Veteran. Sementara Bung Hatta mengusulkan lokasi pembangunan masjid terletak di tengah-tengah umatnya yaitu di Jalan Thamrin yang pada saat itu disekitarnya banyak dikelilingi kampung-kampung, selain itu ia juga menganggap pembongkaran benteng Belanda tersebut akan memakan dana yang tidak sedikit. Namun akhirnya Presiden Soekarno memutuskan untuk membangun di lahan bekas benteng Belanda. Karena di seberangnya telah berdiri gereja Kathedral dengan tujuan untuk memperlihatkan kerukunan dan keharmonisan kehidupan beragama di Indonesia.

Leave a Comment