NTT, ANALISA INDONESIA – Kampung Gurusina adalah salah satu objek wisata Indonesia yang telah mendunia–walau namanya justru kurang populer di wisatawan domestik.
Kampung Gurusina memiliki sangat banyak potensi sebagai sebuah kekayaan budaya Indonesia. Tidak hanya perkampungan adat mereka yang dibiarkan tetap lestari, tetapi mereka juga memiliki alat musik tradisional yang mendunia. Alat musik tersebut adalah alat musik tiup bambu yang dinamai Bombardom.
Lokasi kampung tradisional Gurusina berada di lereng Gunung Inerie. Gunung Inerie adalah salah satu gunung api tertinggi di kawasan Pulau Flores.
Perjalanan ke lokasi perkampungan Gurusina juga menjadi petualangan tersendiri karena medannya yang menanjak.
Ciri khas perkampungan mereka adalah bentuk rumah dan bangunan rumah terbuat dari alang-alang bahkan batu megalitikum yang sangat tinggi terlihat di kampung tersebut.
Kampung Gurusina Terbakar
Sayangnya, kampung yang banyak dicintai tersebut mengalami bencana kebakaran pada 13 Agustus 2018 lalu.
Pihak Kementerian Sosial langsung turun tangan pada saat tanggap darurat pada peristiwa kebakaran tersebut. Saat itu, Kemensos langsung mengerahkan Taruna Tanggap Bencana (Tagana) dan mendirikan dapur umum.
Kembali Menjadi Tempat Wisata Dunia
Keinginan Presiden Joko Widodo dan juga Kementerian Sosial untuk mengembalikan Gurusina seperti sediakala diwujudkan dengan menyalurkan bantuan sebesar Rp. 2,2 milyar untuk membangun kembali kampung adat megalitikum Gurusina di Desa Watumanu, Kecamatan Jerebu’u, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT)
Direktur Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial Kemensos Harry Hikmat mengatakan bantuan itu untuk mengembalikan kampung Gursina sebagai tempat destinasi wisata. Pembangunan kembali rumah adat warga Kampung Gurusina, tetap disesuaikan dengan arsitektur desa adat yang sesuai dengan keinginan masyarakat adat setempat.
“Kita harus mempertahankan keberadaan kampung ini sebagai tempat tujuan wisata. Untuk itu, rumah-rumah disini harus dikembalikan seperti semua. Saya tadi ke kampung adat Bena menggambarkan bagitu bagusnya kampung itu,”ucap Harry,saat bertemu warga Gursina,Jumat (16/11).
Harry mengaku kampung adat Gurusina sangatkan terkenal di seluruh dunia karena merupakan peninggalan budaya yang harus dilestarikan. “Ini kampung adat Megalitikum. Saat ini kebakaran sudah terjadi maka langkah untuk membangun kembali mesti dilakukan,” tambahnya.
Dinas Sosial Propinsi bergerak cepat melaporkan ke Kementerian Sosial mengenai kebakaran tersebut. Kecepatan ini, dikatakan Harry membuat respon pemerintah juga semakin cepat membantu untuk warga Gursina dalam memenuhi kebutuhan dasar dan membangun hunian sementara.
Bantuan Kementerian Sosial tersebut terdiri dari Bantuan Bahan Bangunan Rumah (BBR) untuk 33 unit/keluarga sebesar Rp.825.000.000, Bantuan Isi Hunian Sementara untuk 27 keluarga sebesar Rp.81.000.000, Bantuan Keserasian Sosial Kampung Gurusina sebanyak 3 paket sebesar Rp.150.000.000, Bantuan RS-RTLH untuk 7 kelompok sebesar Rp1.050.000.000.
Selain itu, Kemensos juga melakukan penyaluran bansos Program Keluarga Harapan tahap IV kepada 150 Keluarga Penerima Manfaat Gurusina. Jumlah bansos untuk propinsi NTT sebesar 1,28 triliun rupiah yang terdiri dari basos PKH sebesar 682.76 miliar rupiah untuk 386.315 keluarga dan bantuan beras sejahtera sebesar 597,4 miliar rupiah untuk 452.557 keluarga.
Sedangkan bansos untuk kabupaten Ngada antara lain bantuan PKH sebesar 12.89 miliar rupiah untuk 7.188 keluarga, bantuan beras sekahtera sebesar 10.63 miliar rupiah untuk 8.051 keluarga.
Dalam penyalurannya, Kementerian Sosial bekerja sama dengan Bank Rakyat Indonesia (BRI) melalui ATM Kartu Keluarga Sejahtera (KKS).
Menurut Harry, penyaluran bantuan secara non tunai ini, sesuai arahan Presiden Joko Widodo dan Menteri Sosial bahwa penyaluran bantuan sosial harus terpadu melalui kartu kombo. Dengan demikian kata dia, bagi korban yang memenuhi kriteria akan dapat menerima bantuan Program Keluarga Harapan (PKH), Bantuan Pangan Beras Sejahtera (Rastra), dan bansos lainnya.
“Pendekatan ini sekaligus menunjukkan bahwa Indonesia telah menerapkan sistem perlindungan sosial yang adaptif dan berkelanjutan,” tambahnya.
Ia menambahkan, berdasarkan data yang dihimpun Dinas Sosial Provinsi NTT, secara keseluruhan rumah adat yang berada di Kampung Gurusina berjumlah 33 unit, satu pos pariwisata, dan beberapa situs-situs adat didalamnya.
Situs-situs tersebut yaitu tiga buah kayu Ngadu (Tiang Adat yang melambangkan wujud laki-laki) dan tiga Rumah Bhaga (Rumah Adat minimalis selaku simbol perempuan yang berfungsi sebagai tempat untuk memberikan sesajian kepada nenek moyang pada saat upacara adat).














