Oleh : Herty H Siregar
Penulis adalah Mahasiswa semester IV Bahasa dan Sastra Indonesia FBS Universitas Negeri Medan
***
Legenda ini sangat terkenal dan diceritakan turun temurun di kalangan masyarakat Kuta Tinggi, Cerita ini berasal dari Pakpak Bharat yang menceritakan asal muasal nama Pea Ganci.
Desa Pea Ganci terletak di desa Penanggalen Binanga Boang atau Lebbuh Binanga boang, sekitar tiga kilometer dari Salak menuju jalan ke arah desa Kuta Tinggi. Desa ini dihuni oleh marga Bancin. Dulu nama tempat ini bukanlah Pea Ganci tetapi masih Kuta Ganci.
Pea dalam bahasa Pakpak berarti danau/bendungan air. Dalam tradisi lisan masyarakat setempat, pea dipercaya sebagai kutukan dari seorang ibu, sehingga desa itu berubah menjadi danau. Banyak mistis yang dipercaya di sana sehingga masyarakat takut untuk berdomisili di dekat desa Pea Ganci.
Ulasan Mengenai Desa Pea Ganci
Pada zaman dahulu, Kuta Ganci adalah perkampungan yang dihuni banyak orang dan menjadi tempat ideal untuk bercocok tanam. Adapapun kuta (desa) ini terletak di desa Penanggalen Binanga Boang atau Lebbuh Binang Boang, sekitar tiga kilometer dari Salak menuju jalan ke arah desa Kuta Tinggi.
Pada zaman dahulu penduduk Binanga boang dengan Kuta Ganci memiliki kekompakan dan kebersamaan. Hubungan harmonis tersebut tercermin dari dari berbagai kegiatan bersama, mereka memiliki rasa solidaritas yang tinggi, rukun dan hidup saling tolong menolong, bahu membahu, di antara sesama dan tidak ada percekcokan, baik masalah tanah dan juga batas wilayah.
Awal mula Legenda Pea Ganci dituturkan oleh Bapak U Bancin kepada penulis. Beliau adalah tokoh adat dan raja tanah. Bapak U Bancin merupakan warga desa Cikaok yang bersebelahan kampung dengan desa Pea Ganci, tidak terlalu tua tetapi bisa sedikit banyaknya menceritakan sejarah desa Kuta Ganci, Sabtu (07/03)
Menurutnya, cerita ini tentang seorang ibu dan anak yang tinggal di desa Kuta Ganci. Ibu tersebut adalah penyandang tuna netra atau buta. Alkisah, suatu waktu, sang ibu meminta makanan kepada sang anak. Anaknya pun meminta bantuan asisten rumah tangganya (budak) untuk mengirimkan makanan kepada sang ibu.
Di tengah jalan, rupanya sang asisten rumah tangga justru mengganti makanan tersebut dengan makanan sisa. Mendapat sajian yang tak layak tersebut, sang ibu kecewa atas perbuatan anaknya.
Ibunya mengira itu semua adalah perbuatan anaknya. Ia pun meluapkan kekesalannya. Dia mengutuk anaknya dan menangis terus menurus sehingga kuta atau desa itu berubah menjadi danau (pea).
Bapak U Bancin pun melanjutkan ceritanya, “jadi karna tangis ngo inangnen ti puhun asa berubah jadi pea” (jadi danau ini terbentuk gara –gara tangisan si ibu).
“Tikan ni dom ngo isen mermangkaten ikan cibahut toko mbelgah-mbelgahna tapi oda pang ise muat karna mbiar ngo kalak karina”. (Dahulu juga disini banyak sekali ikan lele yang besar-besar tetapi tidak ada yang berani mengambilnya karena orang takut).
“Dom kalon ngo kepercayaan kalak akan kuta en mbiar ngo kalak karina muat juma i pinggir pinggir en pe bagendari karna percaya ngo kuta en lok isi begu,janah i pinggir pinggir pea en dom ngo kocing ,nipe,isa mbiar ngo kalak”. (Banyak kepercayaan, orang orang tentang desa ini, orang-orang juga tidak ada yang berani mengambil ladang dan bercocok tanam di sekitaran desa Pea Ganci karena kepercayaan masih ada mistisnya, di desa Pea Ganci itu banyak ular, kucing liar sehingga masyarakat disana takut.
“imo kessa nang si kami engetna menegenget umur nami pe nggo mo tua oda ne nienget karinana tapi bagimo ceritana” . (Seperti itulah nak cerita dari sejarah kuta pea ganci ini karna umur kami pun sudah tua, tidak banyak lagi mengingat jelas tentang cerita ini karena sudah berpuluh –puluh tahun silam).
Sejak saat itulah nama Kuta Ganci berubah menjadi Pea Ganci, karena sudah dipenuhi air seperti danau atau “Pea” dan banyak ditumbuhi kayu ara.
Di dalamnya dihuni bebagai macam binatang seperti, ular, kucing dan bemacam lainya yang dipercaya memiliki gaib. Wilayah itu menjadi gelap bagai hutan belantara, tetapi sekarang setelah beberapa tahun kemudian penduduk setempat mulai bercocok tanam di pinggir Pea Ganci. Namun mereka belum berani untuk bertempat tinggal melainkan hanya membuka perladangan, hingga sekarang inipun tidak ada orang yang berdiam diri berdomisili di pinggiran Pea Ganci.
Sekarang ini Pea tersebut banyak ditumbuhi dengan legging yang tumbuh secara liar. Ada pula peninggalan seperti rusuk tulang pohon kayu ara yang besar ditumbuhi semak belukar dan ada juga terdapat banyak ikan cibahut (lele).
Menurut masyarakat tidak ada satu pun diantara warga yang pernah menabur benih ikan di sana. Ikan itu selalu ada dan tidak pernah habis walau musim kemarau, sampai pea itu mengalami kekeringan dan Pea Ganci ini sangat jarang kekeringan walau musim kemarau panjang.
Konon Pea Ganci tersebut sampai sekarang masih ada penghuninya.
















Keren?
makasih sayang