Breaking

Menelisik Film Sebagai Sastra Modern

Film Bumi Manusia yang diadaptasi dari Novel Sastra Bumi Manusia (foto: IG Hanung)

Oleh : Boy Pratama Sembiring
Penulis adalah mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Medan

***

Perkembangan sastra terus berubah mengikuti alur zaman, mulai dari masa periodisasi sastra, hingga bentuk dan jenis-jenis sastra. Hal ini memungkinkan sebuah sastra berkembang pesat dan membentuk periodisasi baru yang melahirkan bentuk dan jenis-jenis yang baru pula. Beberapa orang menanggap film merupakan sebuah bentuk digitalisasi dari karya sastra dan sebagian juga tidak sependapat.

Mursal Esten (Esten, 1978: 9) berpendapat bahwa Sastra adalah pengungkapan dari fakta artistik dan imajinatif sebagai manifestasi kehidupan manusia dan masyarakat umumnya, melalui bahasa sebagai medium dan memiliki efek positif terhadap kehidupan manusia. Hal ini diperkuat oleh pendapat Panuti Padjiman (1990:68) sastra merupakan karya lisan atau tulisan yang memiliki berbagai ciri keunggulan seperti keorisinalan, keartistikan, keindahan dalam isi dan ungkapanya.

Seni sastra yang merupakan sebuah seni yang menjadikan bahasa sebagai media, dapat diartikan sebagai cabang seni yang didalamnya berisi segala sesuatu baik lisan maupun tulisan yang mengandung unsur keindahan, seni, imajinatif dari hasil karya seseorang yang hasilnya bisa dinikmati karena memiliki faktor keunggulan dan artistik. Dalam seni sastra selain kita mengenal adanya unsur-unsur seni sastra, seni satra juga memiliki beberapa jenis pengelompokan cabang seninya tersendiri.

Awalnya sastra hanya dikelompokkan menjadi satu jenis saja yakni cerita. Namun seiring dengan berkembangnya seni sastra, muncul beberapa jenis baru. Bahkan pengertian seni sastra juga mulai ditentukan definisinya, supaya jelas batas mana seni sastra dan mana yang bukan. Sastra dibagi menjadi tiga bagian, yaitu Puisi, Prosa, dan Drama. Drama adalah jenis sastra paling mirip dengan film.

Perjalanan drama di Indonesia berawal dari cerita-cerita mengenai Dewa Dewi yang diperankan melalui permainan wayang kulit, hal ini dibenarkan oleh sejarah perkembangan wayang kulit di Indonesia. Ditinjau dari sejarah yang ada, asal usul wayang dianggap telah hadir semenjak 1500 tahun sebelum Masehi. Wayang lahir dari para cendikia nenek moyang suku Jawa di masa silam. Pada masa itu, wayang diperkirakan hanya terbuat dari rerumputan yang diikat sehingga bentuknya masih sangat sederhana. Wayang dimainkan dalam ritual pemujaan roh nenek moyang dan dalam upacara-upacara adat Jawa.

Pada periode selanjutnya, penggunaan bahan-bahan lain seperti kulit binatang buruan atau kulit kayu mulai dikenal dalam pembuatan wayang. Adapun wayang kulit tertua yang pernah ditemukan diperkirakan berasal dari abad ke 2 Masehi. Perkembangan wayang terus terjadi. Cerita-cerita yang dimainkan pun kian berkembang. Adapun masuknya agama Hindu di Indonesia pun telah menambah khasanah kisah-kisah yang dimainkan dalam pertunjukan wayang. Kisah Mahabrata dan Ramayana merupakan 2 contoh kisah yang menjadi favorit pada zaman Hindu Budha di masa itu.

Kemudian wayang kulit bertransformasi menjadi wayang golek. Wayang ini pertama kali diperkenalkan oleh Sunan kudus sebagai bentuk penyebaran agama Islam, dan terakhir wayang yang diperankan oleh pelakon atau biasa disebut dengan wayang orang. Wayang orang disebut juga dengan istilah wayang wong (bahasa Jawa) adalah wayang yang dimainkan dengan menggunakan orang sebagai tokoh dalam cerita wayang tersebut. Wayang orang diciptakan oleh Sultan Hamangkurat I pada tahun 1731.

Banyak orang mengkreasikan wayang orang dengan menggunakan naskah cerita yang diperankan oleh pelakon dengan banyak tema dan judul cerita yang disebut dengan drama. Sejarah drama sudah berkembang di Yunani sebagai bentuk pujian atau persembahan untuk Dewa Dewi yang disembah. Seiring berkembangnya teknologi, radio menjadi pusat media penyebaran berita. Sejarah radio di Indonesia dimulai sejak masa penjajahan Belanda.

Pada masa-masa inilah, Belanda dipusingkan pada berbagai peristiwa besar yang mengobarkan semangat nasionalisme di kalangan kaum pribumi yaitu dengan didirikannya Budi Utomo pada tahun 1908 dan gerakan Sumpah Pemuda pada tahun 1928. Indonesia, yang saat itu masih bernama Hindia Belanda mendirikan radio siaran pertamanya pada tanggal 16 Juli 1925 yang bernama Bataviase Radio Vereniging atau BRV di Batavia atau Jakarta tempo dulu. Hingga diserahkan oleh Jepang pada tahun 1945 dan dimaanfaat sebagai penyebaran berita kemerdekaan Indonesia. Sastra juga berkembang, termasuk drama yang dimainkan melalui media radio.

Pertama kali masyarakat Indonesia menyaksikan demonstrasi televisi adalah pada 1955, 29 tahun setelah diperkenalkan pada 1926 dan 26 tahun setelah siaran televisi pertama dunia dibuat pada 1929. Ini televisi pertama dibawa dari Uni Soviet selama perayaan anniversary fair 200 tahun Yogyakarta. Pada 25 Juli 1961, ditandatangani kesepakatan untuk menciptakan komite untuk persiapan pembentukan televisi di Indonesia.

Hanya selang satu tahun untuk membuat studio, menara siaran, dan peralatan teknis lainnya di lokasi bekas Akademi Informasi di Senayan. Siaran TV percobaan pertama adalah liputan langsung dari perayaan HUT ke-17 Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1962 dari Istana Merdeka Jakarta. HUT ke 17 tersebut yang diselenggarakan oleh Divisi Televisi Radio dan Biro Komite Televisi Organizing. Hari yang dikenal sebagai kelahiran Televisi Republik Indonesia atau TVRI, stasiun televisi pertama di Indonesia (Okezone.com). Melalui televisi inilah menjadi awal mula perkembangan drama televisi dan perfilman Indonesia.

Pengertian film menurut Effendi (1986:239) adalah hasil budaya dan alat ekspresi kesenian. Film sebagai komunikasi massa merupakan gabungan dari berbagai teknologi seperti fotografi dan rekaman suara, kesenian baik seni rupa dan seni teater sastra dan arsitektur serta seni musik. Sebuah film memiliki sebuah alur cerita yang dituliskan atau sering disebut sekenario (naskah cerita).

Pada drama pertelevisian dan perfilman Indonesia kerap kali mengambil cerita rakyat, tragedi-tragedi, legenda dan sejarah untuk dijadikan ide cerita yang kemudian difilmkan. Cerita-cerita inilah yang menemani sejarah perfilman Indonesia yang kemudian berkembang mengikuti tema cerita sesuai dengan perkembangan globalisasi. Selain itu, bukti pendigitalisasian karya sastra juga dapat dilihat melalui adaptasi cerpen maupun novel yang dijadikan sebuah skenario untuk dijadikan film.

Skenario adalah urutan cerita yang disusun oleh seseorang agar suatu peristiwa terjadi sesuai dengan yang diinginkan. Skenario juga disimpulkan menjadi naskah cerita yang ditulis dengan istilah-istilah kamera yang digunakan sebagai panduan untuk pembuatan film/drama. Sekenario ini, juga memiliki alur interinsik dan eksterinsik seperti halnya sastra.

Jika menarik garis lurus, film sebenarnya gabungan antar seni pertunjukan dan sastra. Hal ini diperkuat lagi dengan pengertian drama menurut Seni Handayani, Drama adalah bentuk komposisi berdasarkan dua cabang seni, seni sastra dan seni pertunjukan sehingga drama dibagi menjadi dua, yaitu drama dalam bentuk teks tertulis dan drama dipentaskan.

Berdasarkan pengertian diatas maka dapat disimpulkan bahwa sebuah film serupa dengan drama (sastra) dimana memiliki naskah tertulis dan dipentaskan/dilakonkan. Perbedaan mendasar hanya pada bagaimana bentuk karya tersebut. Hal ini tidak menutup kemungkinan bahwa film juga merupakan bagian dari sastra. Bahkan pada saat ini digitalisasi karya sastra sudah dijadikan matakuliah. Bagaimana apakah kamu sepakat bahwa film bagian dari sastra?

Leave a Comment