ANALISA INDONESIA – Pemerintah berencana mengganti Liquified Petroleum Gas (LPG) dengan Dimethyl Ether (DME) sebagai gas konsumsi masyarakat. Alasan penggantian ini karena angka impor elpiji yang terus membengkak tiap tahun.
Untuk mengembangkan DME di Indonesia, Badan Penelitian dan Pengembangan Energi dan Sumber Daya Mineral, telah ditetapkan oleh Kementerian Riset dan Teknologi pada tahun 2018 sebagai Pusat Unggulan Iptek (PUI) Bahan Bakar Dimethyl Ether (DME).
Inisiasi proyek bahan bakar ini, dilakukan melalui gasifikasi (proses perubahan bahan bakar padat secara termokimia menjadi gas) batubara. Proyeknya dilakukan kerjasama dua BUMN (Pertamina dan PT Bukit Asam Tbk. dengan perusahaan asal Amerika Serikat Air Product & Chemical Inc (APCI) pada Mei 2021.
Peletakan batu pertama proyek ini di Tanjung Enim dilakukan oleh Presiden Jokowi pada 24 Januari 2022. Proyek tersebut ditargetkan rampung dalam 30 bulan dan diharapkan bisa memenuhi kebutuhan LPG warga Sumsel. Setelah pilot project itu berhasil, Jokowi berharap proyek lainnya juga bisa dibangun di daerah lain.
Apa itu Dimethyl Ether
Dimethyl ether dipandang memiliki prospek sebagai bahan bakar masa depan karena mampu digunakan sebagai pengganti elpiji.
Dikutip dari litbang.esdm.go.id, DME terdiri dari komponen propana dan butana, mirip seperti LPG. DME diperoleh dari berbagai sumber sekaligus, baik bahan bakar fosil maupun bahan bakar alternatif yang bisa diperbarui bisa digunakan untuk membuat DME. Meskipun berasal dari berbagai sumber, DME tetap ramah lingkungan. DME tidak beracun, tidak merusak ozon, tidak menghasilkan particulate matter (PM) dan NOx, tidak mengandung sulfur, mempunyai nyala api biru.
Pemerintah telah melakukan uji terap pemakaian DME 100% di wilayah Kota Palembang dan Muara Enim pada bulan Desember 2019 – Januari 2020 kepada 155 kepala keluarga dan secara umum dapat diterima oleh masyarakat. Selain itu, uji terap DME 20%, 50%, dan 100% dilakukan di Jakarta (Kecamatan Marunda) kepada 100 kepala keluarga pada tahun 2017.
Dari hasil uji terap menunjukkan mudah dalam menyalakan kompor, stabilitas nyala api normal, mudah dalam pengendalian nyala api, warna nyala api biru, dan waktu memasak lebih lama 1,1 s/d 1,2 kali dibandingkan LPG.














