JAKARTA, ANALISA INDONESIA – Ada yang berbeda dengan perayaan Idul Adha 1440 H di DKI Jakarta. Setidaknya perbedaan tersebut tampak dari dua hal yang dilakukan oleh Pemprov DKI Jakarta.
Dapur Kurban 2019
Pemprov DKI Jakarta berkolaborasi dengan Baznas Baziz DKI, ACT, Rumah Zakat, Hotel Borobudur, Grand Cempaka, Aston Pluit, Hotel Shangri La, Hotel Dharmawangsa, APKEPI, ANTV, didukung juga oleh PKK dan KORPRI, menyelenggarakan Dapur Kurban 2019, ‘Menebar keberkahan dan membahagiakan sesama’!
Dapur Kurban ini dikhususkan bagi masyarakat di perkampungan padat penduduk dan masyarakat tidak mampu lainnya.
Daging kurban, diolah oleh para Chef Hotel Bintang 5 serta prosesnya mengikuti standar yang ditentukan oleh Asosiasi Profesi Kemanan Pangan Indonesia.
“Selain makanan siap saji yang dimasak chef hotel untuk dibagikan ke masyarakat; Dapur kurban juga menyiapkan kornet dan rendang dalam kemasan kaleng yang siap disalurkan untuk korban bencana (disaster foods),” tulis Anies Baswedan dilaman facebooknya.
Baca Juga : Green Qurban : Penggunaan Wadah Ramah Lingkungan Warnai Idul Kurban Tahun Ini
Green Kurban: Kurban Ramah Lingkungan
Tahun ini, Pemprov DKI Jakarta juga menerapkan pendekatan ramah lingkungan pada pembagian daging kurban.
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengeluarkan Seruan Gubernur DKI Jakarta Nomor 4 Tahun 2019 tentang Pemotongan Hewan Kurban Dalam Rangka Hari Raya Idul Adha 1440 H/2019 pada tanggal 25 Juli 2019.
Himbauan tersebut berisi ajakan agar warga Jakarta tidak menggunakan kantong plastik hitam atau kantong plastik sekali pakai sebagai wadah daging kurban melainkan menggunakan alternatif pembungkus daging ramah lingkungan atau membawa wadah sendiri yang terbuat dari bahan ramah lingkunga.
Seruan tersebut juga meminta masyarakat agar menjaga dan mengendalikan kebersihan lingkungan di tempat penampungan penjualan dan pemotongan hewan kurban.
Pemprov DKI Jakarta juga menyerukan agar panitia mengelola limbah pasca pelaksanaan pemotongan hewan kurban.














