Breaking

Zat Berbahaya pada Kabut Asap Kebakaran Hutan dan Lahan

Oleh : Vrili Coirala Rama Uli Br. Siregar
Penulis adalah mahasiswa Pendidikan Kimia Bilingual Universitas Negeri Medan

***

Kebakaran Hutan dan Lahan (KARHUTLA) kembali ancam Indonesia daerah yang secara historis ‘langganan’ terbakar. KARHUTLA yang terjadi mempengaruhi kesehatan masyarakat yang terpapar asap. Kabut asap yang pekat dan melampaui Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) dapat mempengaruhi kesehatan jangka pendek maupun jangka panjang.

Menurut data Kementerian Kesehatan, nilai ISPU lebih dari 400 masuk kategori sangat berbahaya. Dampak kesehatannya bisa menyerang semua orang yang menghirup udara tercemar tersebut, termasuk orang yang sebelumnya dalam kondisi sehat. Sedangkan risiko kesehatan untuk balita, ibu hamil, lansia, dan penderita gangguan pernapasan akan lebih besar lagi.

Kebakaran hutan pada masa pandemi COVID-19 sudah seharusnya diwaspadai, meskipun belum ada hasil riset yang membuktikan kabut asap KARHUTLA bisa memperparah penyebaran infeksi COVID-19 namun secara teori, ada potensi meningkatnya penyebaran virus lewat kabut asap KARHUTLA. Saat asap itu terhirup, partikel halus debu bisa menjadi media penjerat bagi virus corona lalu menyebabkan imunitas di saluran pernapasan akan menurun. Ditambah lagi dengan gejala umum infeksi COVID-19 mirip dengan ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Akut).

Mengenal Kabut Asap dan Dampaknya pada Kesehatan

Kabut asap adalah campuran dari debu, karbon organik, karbon hitam, nitrat, dan sulfat yang biasanya ditemukan dalam material konstruksi, emisi kendaraan bermotor, insinerator, pembangkit listrik, pembakaran batubara, pestisida, cat hingga pelapis bangunan. Semua zat itu berasal dari pembakaran pepohonan, bangunan, kendaraan, fasilitas industri, dan pemukiman di sekitar lahan.

Berdasarkan Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU), ada lima kandungan berbahaya dalam asap kebakaran hutan, yakni Karbon Monoksida (CO), Sulfur Dioksida (SO2), Nitrogen Dioksida (NO2), dan Ozon Permukaan (O3). Selain itu, juga terdapat kandungan bebrapa partikel logam berat seperti krom (Cr), kadmium (Cd), nikel (Ni), serta formaldehid, akrelein, dan benzene.

Kabut asap mengandung logam berat, seperti timbal, merkuri, dan arsen. Paparan kabut asap karhutla bisa membuat kadar logam berat terakumulasi di dalam tubuh. Secara spesifik arsen dapat meningkatkan risiko kanker. Merkuri dapat menyebabkan kerusakan saraf dan kelainan bawaan lahir. Sedangkan timbal dapat menurunkan fungsi otak dan menyebabkan gangguan belajar pada anak.

Kabut asap semakin membahayakan tubuh, terutama sistem pernapasan karena partikel-partikel berbagai ukuran juga terkandung didalamnya. Ukuran partikel mulai dari 10 mikrometer hingga yang sangat kecil di bawah 0,5 mikrometer dapat mengganggu kesehatan. Semakin kecil ukuran partikel, semakin mampu masuk ke dalam organ terkecil di sistem pernapasan, dalam hal ini adalah alveoli di paru-paru dan merusaknya.

Partikel yang berukuran lebih besar bisa tertahan di saluran pernapasan atas. Partikel berukuran besar pasti membuat kesan tidak nyaman di saluran pernapasan. Semua jadi satu faktor yang dapat membahayakan saluran pernapasan.

Gas yang dikeluarkan ada yang bersifat afiksia, yaitu jika dihirup dalam jumlah besar maka akan menyebabkan sesak napas. Misalnya CO, karbon monoksida. Kalau CO itu masuk ke tubuh kita dalam jumalah besar, maka CO itu akan berikatan dengan hemoglobin (Hb). Ketika CO terhirup, oksigen nggak bisa terikat oleh Hb (hemoglobin), akibatnya dalam darah kekurangan oksigen, menimbulkan sesak napas, kebingungan, dada terasa berat, pusing, koma bahkan bisa menyebabkan kematian.

Kadar ozon yang tinggi juga bisa menyebabkan munculnya gejala gatal-gatal di tenggorokan, dan batuk setelah beberapa jam seseorang terpapar kabut asap. Sulfur Dioksida atau SO2 berbahaya karena dapat membuat saluran napas mengecil dan membuat iritasi selaput lendir pernapasan. Terakhir, Nitrogen Dioksida atau NO2 dapat merusak organ yang bertugas membersihkan paru-paru, sehingga pertahanan saluran napas berkurang.

Mengurangi Dampak Kabut Asap bagi Kesehatan

Guna mengurangi besarnya ancaman dampak negatif kabut asap terhadap kesehatan, perlu dilakukan upaya pencegahan. Menurut Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, ada beberapa cara  yang dapat dilakukan untuk melindungi diri dari infeksi saluran pernafasan akut (ISPA), diantaranya:

1) Upayakan untuk tetap berada di dalam rumah;
2) Gunakan masker bila harus ke luar rumah;
3) Minum air putih yang banyak;
4) Hindari aktifitas fisik yang terlalu berat;
5) Terapkan perilaku hidup bersih dan sehat; serta
6) Segera ke Fasilitas pelayanan kesehatan bila ada keluhan sakit.

Sebenarnya dampak besar kabut asap adalah hilirnya, bila bergerak lebih ke hulu, upaya yang dibutuhkan adalah penyadaran masyarakat untuk menghentikan pembakaran lahan, membahayakan kesehatan.

Leave a Comment